RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IHSG Tertinggal Jauh, Dua Pekan Ini Jadi Taruhan K...

Ekonomi

IHSG Tertinggal Jauh, Dua Pekan Ini Jadi Taruhan Kredibilitas RI

Di tengah reli emerging markets global, Indonesia justru mencatat return -28,6% sejak awal 2025. Periode Juni ini menjadi momen krusial dengan serangkaian review MSCI dan FTSE yang bisa mengubah peta investasi.

Angka -28,6% itu bukan sekadar statistik buruk. Itu jarak antara Indonesia dan sisa dunia yang sedang berpesta.

Sepanjang 2025 hingga awal Juni 2026, EIDO (Indonesia ETF) mencatat return minus 28,6%, sementara emerging markets secara agregat justru melesat 64,6%. Vietnam naik 63,2%, Taiwan 107,2%, bahkan Amerika Serikat yang pasar "matang" itu pun masih tumbuh 30,9%. Investor global tidak sedang panik dan kabur dari semua aset berisiko. Mereka memilih keluar dari Indonesia secara spesifik.

IHSG sempat menyentuh level 5.882, kembali ke titik terendah sepanjang 2025, sementara rupiah menembus Rp17.950 per dolar AS. Net sell asing sudah menembus Rp66,20 triliun sejak awal tahun berjalan. Bukan koreksi teknikal biasa. Ini sinyal kepercayaan yang tengah digerogoti.

"Pasar tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk bertumbuh, melainkan mulai mempertanyakan kredibilitasnya," kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas. Pergeseran narasi ini yang agaknya paling berbahaya, karena masalah kepercayaan jauh lebih susah diperbaiki dibanding masalah data.

Dari sisi teknikal, sorotan MSCI menjadi salah satu akar dari underperformance ini. Head of Equity Sales Samuel Sekuritas Indonesia Tae Yong Shim menyebut lembaga tersebut masih mempersoalkan transparansi struktur kepemilikan saham, keandalan data free float, dan jumlah saham yang benar-benar bisa diperdagangkan investor di pasar terbuka. Dalam review Mei 2026, MSCI tidak memberikan kenaikan bobot untuk saham Indonesia, tidak menambahkan emiten baru ke indeks, dan tidak melakukan upgrade dari kategori Small Cap ke Standard Index. Tiga kali tidak. Berturut-turut.

Sejumlah emiten besar sudah merasakan imbasnya: AMMN, TPIA, DSSA, BREN, dan CUAN terdampak setelah MSCI merevisi perhitungan free float mereka pada 19 Mei 2026. Saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) paling rentan, karena MSCI bisa menggunakan data pemegang saham di atas satu persen untuk menghitung ulang free float, yang ujungnya menekan bobot dalam indeks global.

"Ketika transparansi free float dan investability masih dipertanyakan, investor cenderung menunggu bukti perbaikan sebelum kembali masuk lebih agresif," tegas Tae Yong.

Rupiah menambah beban. Kisaran Rp16.650 hingga Rp17.874 per dolar AS yang tercatat sepanjang Mei 2026 itu, menurut Tae Yong, sudah melampaui level yang pernah terlihat saat Krisis Finansial Asia. Kalimat itu perlu dibaca pelan-pelan.

Dua pekan ini akan menjadi periode yang menentukan. Pada 19 Juni, MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review berlangsung bersamaan. Lalu FTSE Rebalancing efektif 22 Juni, disusul MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni. Empat agenda besar dalam waktu kurang dari seminggu. Belum pernah ada ujian sekaliber ini dalam beberapa tahun terakhir.

Liza mencatat bahwa dalam enam bulan terakhir, satu per satu kekhawatiran investor berubah jadi kenyataan: rupiah melemah konsisten, Moody's dan Fitch melempar sentimen negatif, sorotan MSCI-FTSE kian nyata. Faktor penahan memang masih ada, status investment grade bertahan, S&P masih mempertahankan outlook stabil, dan MSCI belum secara resmi mengubah klasifikasi Indonesia. Tapi bantal pengaman ini bukan sesuatu yang bisa dipakai selamanya. Pertanyaannya, sampai kapan?

"Masalahnya, kebijakan yang tidak bijak suka muncul tiba-tiba secara misterius dan seringkali malah memberikan another blow to the market," kata Liza, merujuk pada situasi saat pasar masih mencerna implementasi awal DSI dan DHE SDA.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik berusaha menenangkan. Lebih dari 80 persen emiten membukukan laba bersih di kuartal I 2026, persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir. Jeffrey juga meluruskan kabar miring soal screenshot yang sempat viral, seakan menunjukkan MSCI telah menempatkan Indonesia ke frontier market. "Itu misinformasi," tegasnya. Proyeksi EPS LQ45 pun masih positif: dari 61,7 di 2025 menuju 66,7 di 2026 dan 76,0 di 2027. Angka yang secara fundamental tidak buruk-buruk amat.

Tapi fundamental bagus di tengah krisis kepercayaan ibarat rumah bersih yang tidak ada yang mau beli karena tetangganya ribut. Pasar butuh tiga hal sekaligus, menurut Tae Yong: likuiditas memadai, pertumbuhan laba, dan kebijakan yang kondusif. Ketiganya harus hadir bersamaan, bukan bergantian.

Hasil review MSCI dan FTSE akhir Juni ini bisa jadi katalis pembalikan. Bisa juga jadi pukulan penentu yang menjawab satu pertanyaan paling berat saat ini: berapa lama lagi investor global bersedia memberi Indonesia benefit of the doubt.