KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IHSG Terburuk di Asia, Investor Ritel Malah Tembus...

Ekonomi

IHSG Terburuk di Asia, Investor Ritel Malah Tembus 30 Juta

Di tengah koreksi IHSG hampir 20% sepanjang kuartal II 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia justru menembus 30 juta orang, naik 10 juta hanya dalam setengah tahun.

Investor Pasar Modal Kini Tembus 30 Juta

Angka itu membingungkan sekaligus sulit diabaikan: IHSG mencatat penurunan hampir 20% sepanjang kuartal II 2026, menjadikannya indeks paling lemah di kawasan Asia. Di waktu yang sama, jumlah investor pasar modal Indonesia justru meledak menembus 30 juta orang.

Bukan kondisi yang lazim. Pasar yang rontok biasanya membuat orang kabur, bukan berbondong-bondong masuk. Tapi itulah yang terjadi.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkap angka tersebut usai bertemu Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Kantor Kemenko Ekonomi, Selasa (14/7/2026). Dibanding tahun 2025 yang tercatat 20 juta orang, ada tambahan sekitar 10 juta investor hanya dalam setengah tahun. "Jadi ini tahun lalu masih 20-an juta, sekarang sudah nambah 10 juta ini luar biasa. Jadi buffer dari market kita adalah retailnya itu sendiri," kata Friderica.

Bagi Friderica, lonjakan basis investor ritel bukan sekadar angka kebanggaan. Ia menyebutnya penyangga alami yang membuat pasar modal Indonesia punya ketahanan berbeda dibanding dua dekade lalu. Kalau dulu sentimen global yang bahkan tidak nyambung dengan fundamental ekonomi kita sudah cukup untuk menghajar pasar, sekarang agaknya tidak semudah itu lagi.

Ironis memang. Narasi "pasar yang kuat" disampaikan justru ketika IHSG sedang babak belur se-Asia. Koreksi hampir 20% dalam satu kuartal bukan angka kecil. Pertanyaannya: apakah basis investor yang membesar ini memang menjadi peredam kejut, atau justru berarti makin banyak ritel yang nyangkut di harga atas? Entah kebetulan atau tidak, OJK memilih tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung.

Dari sisi penghimpunan dana, kondisinya relatif solid. Hingga pertengahan Juli 2026, total dana dari IPO maupun efek bersifat utang dan sukuk telah mencapai Rp 112 triliun. Angka yang tidak main-main, khususnya di saat tekanan indeks sedalam ini.

Di lini regulasi, OJK mengaku terus menindaklanjuti masukan dari MSCI, mencakup peningkatan transparansi kepemilikan saham, pengaturan free float, sampai penguatan enforcement. Friderica menegaskan kebijakan free float sudah berjalan, meski implementasi penuh membutuhkan waktu satu hingga tiga tahun. "Kemudian yang lain-lain kita terus upayakan supaya pasar modal di Indonesia semakin berintegritas, semakin liquid, semakin kredibel," tegasnya.

Reformasi pasar modal memang bukan pekerjaan semalam. Dengan IHSG yang tergerus dalam di level regional, tekanan untuk mempercepat langkah-langkah struktural itu makin keras. Tiga puluh juta investor kini punya cukup alasan untuk menagih.