Sempat terjun ke 5.839 di awal perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu berbalik arah dan menutup sesi pertama Kamis (9/7/2026) di level 5.885,69, naik 12,32 poin atau 0,21% dari penutupan sebelumnya. Bukan rebound yang meyakinkan, tapi setidaknya pasar tidak jadi ambruk.
Yang menarik justru dari komposisi penguatannya. Sektor bahan baku (IDXBasic) memimpin dengan kenaikan 1,56%, disusul energi 1,42%, dan transportasi 1,39%. Tiga sektor ini bak memetik berkah dari situasi yang sebenarnya mengkhawatirkan: memanasnya kembali konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent ke kisaran US$79,28 per barel, naik lebih dari US$1 dalam semalam.
Dari jajaran saham penggerak, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) jadi yang paling agresif dengan lonjakan 14,76% ke Rp342. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 5,14% ke Rp143. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) naik 3,36% ke Rp1.845. Saham-saham berbobot besar seperti PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga ikut menopang indeks, walau kontribusinya tidak sedramatis trio komoditas tadi.
Di sisi berlawanan, sektor kesehatan (IDXHealth) jadi yang paling terpukul dengan pelemahan 1,27%, diikuti keuangan 0,28% dan properti 0,18%. Rotasi defensif yang masih setengah hati, agaknya.
319 saham menguat, 268 melemah, 199 stagnan. Nilai transaksi Rp6,71 triliun dari 16,66 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,47 juta kali. Kapitalisasi pasar BEI tercatat Rp10.309 triliun.
Konteks globalnya sedang tidak bersahabat. Militer AS kembali melancarkan serangan ke Iran pada Rabu (8/7/2026), menarget kemampuan Teheran mengancam pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum konflik pecah. Trump menegaskan nota kesepahaman damai dengan Iran sudah "berakhir" dan mengancam respons yang lebih keras. Teheran sendiri dilaporkan tengah menyiapkan serangan balasan, bahkan mulai mempertimbangkan langkah ekstrem seperti keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
IMF pada Rabu kemarin memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3%, turun dari 3,5% yang tercatat pada 2025. Inflasi global diperkirakan merayap naik ke 4,7%, dengan asumsi harga minyak rata-rata US$89 per barel sepanjang tahun ini. Harga energi saat ini sudah 25% lebih tinggi dibanding sebelum perang pecah akhir Februari lalu. Satu penahan yang tersisa, kata IMF, adalah derasnya investasi di sektor kecerdasan buatan dan teknologi.
Untuk Indonesia, IMF tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan 5,0% di 2026 dan 5,1% pada 2027. Angka yang, entah kebetulan atau tidak, cukup untuk memberi pelaku pasar domestik sedikit napas di tengah tekanan eksternal yang kian berat.
Sesi kedua akan jadi ujian sesungguhnya. Geopolitik masih panas, minyak terus merangkak. Volatilitas belum ke mana-mana.