SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  IHSG Murah, Rupiah Tertekan, tapi Dana Asing Mulai...

Finansial

IHSG Murah, Rupiah Tertekan, tapi Dana Asing Mulai Kembali

Di tengah tekanan rupiah yang CORE sebut sudah menjadi keseimbangan baru di Rp17.500-Rp18.000, sinyal pembalikan mulai muncul: inflow asing triwulan II-2026 menembus US$7,98 miliar. Tapi pasar saham belum kebagian.

Pasar Tunggu Konsistensi Perbaikan, Investor Saham Perlu Pegang Dua Kunci Ini

Semester pertama 2026 bukan periode yang ingin dikenang investor Indonesia. IHSG kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasarnya, rupiah tergerus sekitar 7 persen terhadap dolar AS, dan arus modal asing sempat berbalik keluar. Tapi di balik semua itu, ada beberapa angka yang layak diperhatikan lebih seksama.

Bank Indonesia mencatat capital inflow sebesar US$7,98 miliar atau sekitar Rp143,34 triliun pada triwulan II-2026, berbalik tajam dari outflow US$1,47 miliar di kuartal sebelumnya. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut pembalikan ini sebagai hasil dari strategi menaikkan imbal hasil instrumen SRBI dan SBN secara terkoordinasi dengan pemerintah. "Kalau di triwulan satu itu masih terjadi outflow total sebesar US$1,47 miliar. Namun di triwulan dua ini sudah kembali dengan total inflow mencapai US$7,98 miliar," papar Perry dalam Rapat Kerja bersama Banggar DPR, Selasa (7/7).

Tapi arus masuk itu tidak merata, dan agaknya inilah yang sedikit menampar optimisme. SRBI menjadi motor utama dengan serapan dana asing melonjak ke US$8,48 miliar. Pasar SBN berhasil mencetak inflow US$1,78 miliar. Pasar saham? Masih didera outflow US$2,3 miliar sepanjang triwulan II. Dana asing kembali, tapi belum mau menyentuh ekuitas.

Spread imbal hasil SBN tenor 10 tahun terhadap US Treasury kini mencapai 273 basis poin, lebih lebar dari rata-rata satu tahun terakhir di kisaran 220 bps. Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai angka ini menempatkan Indonesia pada posisi lebih atraktif dibandingkan sejumlah negara berkembang yang bahkan memiliki peringkat kredit lebih rendah. "Secara valuasi, obligasi Indonesia saat ini sangat atraktif. Tetapi masih ada ketidakpastian yang masih ditunggu investor, yaitu stabilitas Rupiah, arah BI Rate, dan konsistensi serta komitmen disiplin fiskal," ujar Head of Investment Specialist MAMI Freddy Tedja dalam ulasan pasar Seeking Alpha edisi Juli 2026.

Valuasi saham pun tak kalah miring. Forward P/E MSCI Indonesia per akhir Juni tercatat 8,7 kali, jauh di bawah rata-rata lima tahun sebesar 13,2 kali. Diskon hampir 34 persen dari mean historis. Bukan angka kecil. Freddy mengingatkan, valuasi murah bisa jadi cermin dari pasar yang memang belum percaya pada outlook jangka pendek, bukan semata peluang beli.

Di sisi nilai tukar, Center of Reform on Economics (CORE) dalam Monthly Review Juli 2026 menyimpulkan bahwa rupiah di rentang Rp17.500-Rp18.000 sudah menjadi "keseimbangan baru" jangka pendek-menengah. Pergerakan rupiah yang kembali mendekati Rp18.000 di awal Juli dinilai mengonfirmasi tesis itu, bahkan setelah BI menaikkan suku bunga total 50 bps sepanjang Juni 2026, dari 5,25 persen ke 5,75 persen, termasuk lewat RDG Mingguan pada 9 Juni. Langkah di luar jadwal yang pertama kali diambil BI dalam lebih dari satu dekade.

S&P Global Ratings melihat gambaran yang sedikit lebih cerah. Dalam laporan yang dirilis Senin (13/7/2026), lembaga pemeringkat itu memproyeksikan rupiah bisa kembali ke Rp17.700 per dolar AS pada akhir 2026, lalu berlanjut ke Rp17.500 pada 2027. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap di kisaran 5 persen per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan. S&P tetap mengingatkan bahwa cepatnya perubahan kebijakan dan ketidakpastian implementasi di sektor pertambangan dan sumber daya alam masih bisa menggoyahkan kepercayaan investor, setidaknya itu yang tertuang dalam laporan mereka.

Dari sisi fiskal, penerimaan negara tumbuh 21 persen pada semester I-2026 dibanding periode yang sama tahun lalu, sebagian besar karena berakhirnya gangguan sistem perpajakan di 2025. Defisit APBN diperkirakan tetap terjaga di bawah 3 persen terhadap PDB, meski tekanan bunga utang masih tinggi akibat akumulasi dari era pandemi.

Bagi investor, Freddy menyarankan dua kata kunci: seleksi dan disiplin alokasi. Untuk obligasi, momentum akumulasi selektif terbuka terutama jika stabilitas rupiah terjaga. Di ekuitas, kualitas emiten lebih penting ketimbang sekadar label "murah". Dan untuk eksposur regional, rantai pasok AI serta semikonduktor disebut masih menjadi tema struktural yang menarik di kawasan Asia.

Pertanyaannya bukan apakah Indonesia menarik secara valuasi. Angka-angkanya sudah berbicara. Yang belum jelas adalah kapan pasar akhirnya percaya bahwa perbaikan kebijakan yang digaungkan sejak Juni bukan sekadar jurus sesaat.