Angka 6.127 itu terasa berat. Sepanjang Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergerus 11,92 persen, dari posisi 6.956,80 di akhir April menjadi 6.127,38, salah satu koreksi bulanan paling dalam yang pernah tercatat di bursa dalam beberapa tahun terakhir.
Hanya dalam sepekan, periode 18-22 Mei, indeks sempat dihajar lebih jauh lagi. Koreksi 8,35 persen dalam lima hari, sempat menyentuh level 5.966, titik terendah sepanjang tahun ini. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia ikut terpangkas 10,06 persen menjadi Rp10.635 triliun. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Tekanan datang dari dua arah sekaligus. Sikap hawkish The Fed yang memilih mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama membuat dolar AS perkasa dan menekan nilai tukar rupiah. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah, tepatnya kekhawatiran atas distribusi minyak melalui Selat Hormuz jika konflik AS-Iran memanas, turut mendongkrak yield US Treasury dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi berlanjut.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin ke level 5,25 persen demi menjaga stabilitas rupiah, langkah yang agaknya membuat pasar bertanya-tanya soal dampaknya terhadap likuiditas ekonomi. Rencana kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis seperti batu bara melalui Danantara sempat memperkeruh suasana, sebelum muncul rumor penundaan pelaksanaannya hingga 1 Januari 2027.
Rumor itulah yang memicu rebound akhir pekan. Sektor basic materials melonjak 6,85 persen dan energi menguat 4,84 persen dalam satu sesi, menambal sebagian kerugian yang terakumulasi selama pekan. Kabar draft perjanjian damai AS-Iran yang dimediasi Pakistan, diperkuat pernyataan optimistis Donald Trump, juga membuat harga minyak dan yield US Treasury berbalik turun sehingga memicu pemulihan tipis di Wall Street yang kemudian merembet ke sentimen Asia.
Meski begitu, aksi jual investor asing belum berhenti sepenuhnya. Net sell asing tercatat Rp309,52 miliar di akhir pekan. Yang menarik, rata-rata nilai transaksi harian justru melonjak 15,68 persen menjadi Rp21,77 triliun. Kenaikan likuiditas saat indeks ambruk biasanya membaca satu hal: distribusi dan reposisi portofolio besar-besaran sedang berlangsung.
Perkan ini, 25-29 Mei, situasinya belum sepenuhnya kondusif. Bursa hanya buka tiga hari karena libur nasional dan cuti bersama Idul Adha 27-28 Mei, yang berarti volatilitas per sesi bisa lebih ekstrem dari biasanya. Pada hari pertama perdagangan Jumat pagi, IHSG sudah dibuka melemah 17,42 poin atau 0,28 persen ke 6.112,77, sementara LQ45 turun lebih tajam 1,69 persen ke 609,89.
Secara teknikal, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari menilai IHSG masih berada jauh di bawah SMA-50 yang kini ada di area 7.166. Indikator MACD pun bertahan di zona negatif dan belum memberikan sinyal pembalikan yang meyakinkan. "Momentum indeks juga masih relatif lemah tercermin dari indikator MACD yang bertahan di area negatif dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat, sehingga penguatan yang terjadi sejauh ini masih dinilai sebagai rebound teknikal dan belum mengonfirmasi perubahan tren utama," tuturnya. Rentang gerak IHSG jangka pendek diperkirakan ada di antara support 5.899-5.996 dan resistance 6.318-6.459.
Satu agenda lagi perlu dicermati: effective date rebalancing MSCI jatuh pada 29 Mei, tepat di penghujung pekan pendek ini. Saham-saham big caps berpotensi mengalami tekanan jual tambahan menjelang tanggal tersebut, setidaknya itu yang perlu diantisipasi investor yang kebetulan memegang posisi di nama-nama besar.
Bagi investor yang masih mau aktif bergerak, Indo Premier merekomendasikan tiga saham untuk trading sepekan. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) disarankan masuk di level 2.720 dengan target 3.000 dan stop loss 2.610, didukung akumulasi asing dengan net buy Rp691 miliar dalam sepekan terakhir. PT Bank BTPN Tbk (BTPN) direkomendasikan dengan entry 2.380, target 2.530, dan stop loss 2.310, saham ini masih konsisten bertahan di atas EMA5 hingga EMA50. PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) masuk dengan level 1.635, target 1.725, dan stop loss 1.590, membentuk pola higher low dengan MACD yang mulai mengarah ke bullish crossover.
Naiknya BI Rate ke 5,25 persen, ironisnya, justru bisa menjadi katalis positif bagi sektor perbankan yang mendominasi sekitar 45,6 persen bobot indeks. Bagi yang tidak ingin repot stock picking di pasar sekasar ini, Brigita menyebut reksa dana ETF Premier IDX High Dividend 20 (XIHD) sebagai alternatif yang menggabungkan potensi dividen stabil dengan eksposur ke saham-saham fundamental solid.