SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IHSG Berpeluang Lanjut Naik Senin, tapi Jangan Ter...

Bisnis

IHSG Berpeluang Lanjut Naik Senin, tapi Jangan Terlena Dulu

Setelah melonjak 2,28% ke level 5.875 pada Jumat, IHSG diprediksi masih bisa melanjutkan penguatan di awal pekan ini, meski ruang kenaikannya mulai sempit dan asing belum kunjung balik badan.

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat di Senin (6/7), Ini Rekomendasi Saham Analis

Reli IHSG di penghujung pekan lalu cukup impresif. Indeks melonjak 131,22 poin atau 2,28% ke level 5.875,78 pada penutupan Jumat (3/7), ditopang kombinasi sentimen eksternal yang membaik dan aksi bargain hunting di sejumlah saham yang sebelumnya sudah dihajar koreksi cukup dalam.

Untuk perdagangan Senin (6/7), konsensus analis mengarah ke satu kesimpulan: penguatan masih terbuka, tapi jangan terlena. Pengamat pasar modal Hendra Wardhana memproyeksikan IHSG bergerak di rentang 5.840-5.950, dengan level 5.900 sebagai area psikologis yang pertama kali akan diuji. Syaratnya satu: indeks harus mampu bertahan di atas zona support 5.830-5.850.

William Hartanto, Founder WH-Project, memberi rentang yang lebih lebar. Support di 5.800, resistance di kisaran 6.000. "Rebound berlanjut dan berhasil membawa IHSG kembali ke level 5.800, ini adalah level yang cukup penting untuk menentukan potensi reversal," tulis William dalam risetnya, Minggu (5/7).

Dua katalis utama yang mengerek pasar Jumat lalu datang dari luar. Data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi memunculkan spekulasi bahwa The Fed tidak akan lagi agresif mengerek suku bunga. Investor pun kembali melirik aset berisiko, termasuk saham-saham di pasar berkembang. Sentimen itu diperkuat data PMI sejumlah negara Asia yang masih di zona ekspansi, dan rupiah yang turut terapresiasi ke kisaran Rp17.962 per dolar AS.

Tapi ada satu catatan yang agaknya luput dari sebagian investor ritel. Sepanjang tahun berjalan, asing masih membukukan net sell sekitar Rp88 triliun. Bahkan di hari yang sama ketika IHSG melonjak 2,28% itu, asing kembali mencatatkan net sell sekitar Rp16 miliar. Bukan main. Secara kumulatif, tekanan jual asing itu tidak sedang berhenti, hanya rehat sejenak.

"Kenaikan IHSG masih perlu disikapi secara selektif karena belum didukung oleh arus dana asing yang kuat," kata Hendra. Reli saat ini, setidaknya itu yang terbaca dari data, lebih banyak ditopang investor domestik dan membaiknya sentimen global. Selama asing belum berbalik akumulasi secara konsisten, volatilitas tetap jadi risiko yang tak bisa dianggap enteng.

MNC Sekuritas menambahkan catatan teknikal yang lebih hati-hati. Dalam riset mingguan mereka, tim analis mencatat bahwa pada timeframe weekly, IHSG sejatinya masih terkoreksi 0,35% dengan tekanan jual yang dominan. Penguatan harian Jumat lalu pun masih tertahan MA20. Skenario utama mereka menempatkan IHSG rawan menguji zona 5.472-5.540 sebagai bagian dari wave (b). Ada skenario alternatif di mana indeks sedang membentuk awal wave [v] yang lebih bullish, tapi support di 5.486 dan 5.317 tetap perlu diwaspadai.

Soal pilihan saham, beberapa nama layak masuk radar. Hendra merekomendasikan speculative buy untuk PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dengan target Rp1.945, serta PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan target Rp2.900. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) disebut menarik untuk trading buy dengan target Rp600, bak gayung bersambut dengan sentimen positif dari industri nikel dan kendaraan listrik yang mulai hangat lagi. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) masuk radar speculative buy dengan target Rp250 setelah sinyal rebound mulai muncul dari fase konsolidasinya.

William Hartanto menyarankan buy pada PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) dengan target Rp1.600-1.800, serta PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dengan target Rp1.300. MNC Sekuritas melengkapi daftar dengan buy on weakness pada PT Avian Brands Tbk (AVIA) di Rp254-288 target Rp330-348, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) di Rp1.975-2.020 target Rp2.100-2.210, serta PT Multipolar Tbk (MLPL) dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dengan setup serupa.

Pasar boleh optimis. Tapi beli dengan kepala dingin, selektif, dan disiplin cut loss. Reli yang belum ditopang arus masuk asing yang solid bisa berbalik arah lebih cepat dari yang kita kira.