RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IHSG Babak Belur Dua Hari Beruntun, BEI Akui Butuh...

Ekonomi

IHSG Babak Belur Dua Hari Beruntun, BEI Akui Butuh Lebih dari Konferensi Pers

IHSG ditutup melemah 1,70 persen ke 5.839 pada Kamis, melanjutkan ambruknya 4,11 persen sehari sebelumnya. BEI bergerak dengan sejumlah langkah transparansi, tapi pasar agaknya butuh lebih dari sekadar janji.

IHSG Babak Belur Karena Krisis Kepercayaan, Begini Kata BEI - Market

Dua hari. Dua kali IHSG dihajar tekanan jual yang tidak tanggung-tanggung, dan tidak banyak yang bisa membantahnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.

Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 101,28 poin atau 1,70 persen ke level 5.839,785. Sehari sebelumnya, Rabu (3/6/2026), IHSG ambruk jauh lebih brutal: minus 4,11 persen atau 254,360 poin ke 5.941,066. Dalam sesi Kamis, indeks sempat menyentuh level terendah harian di 5.644,234, angka yang cukup untuk membuat banyak investor memeriksa ulang stop-loss mereka.

Koreksi ini bukan sekadar angka. Di saat mayoritas bursa Asia bergerak menguat, IHSG justru meluncur sendiri. Tekanan bertumpuk dari beberapa arah sekaligus: rupiah yang kian mendekati Rp18.000 per dolar AS, kekhawatiran soal implementasi kebijakan ekspor satu pintu, dan arus keluar dana asing yang tidak menunjukkan tanda berhenti. Sejak awal tahun, net sell asing di pasar saham Indonesia telah mencapai Rp67 triliun. Pada Rabu saja, investor asing membukukan net sell sekitar Rp864 miliar. Angka yang tidak main-main.

Hendra Wardana, pengamat pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, menilai penurunan ini bukan semata soal memanasnya konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak mendekati 100 dolar AS per barel. "Jika dilihat dari data, penurunan ini bukan semata-mata dipicu oleh faktor eksternal seperti memanasnya kembali konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak dunia mendekati 100 dollar AS per barrel, tetapi juga diperberat oleh berbagai sentimen domestik yang belum menemukan titik terang," ujar Hendra. Yang lebih menggigit soal narasi vs realitas: "Ketika pemerintah menyampaikan bahwa fundamental ekonomi masih kuat, namun pada saat yang sama rupiah terus melemah, IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini, dan investor asing terus melakukan aksi jual, maka muncul kesenjangan antara narasi dan realitas pasar," tukas Hendra.

Kamis sore, Penjabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik muncul di hadapan wartawan. Ia menegaskan bursa bersama regulator telah melakukan langkah-langkah sesuai kewenangannya. "Ya tentu dari yang sudah kita lakukan, itu semuanya tujuannya adalah untuk memulihkan kepercayaan dari investor, baik investor domestik maupun investor global," ujarnya.

Salah satu langkah konkret yang disebut Jeffrey adalah peluncuran informasi terkait high shareholding concentration (HSC), yakni data konsentrasi kepemilikan saham pada emiten tertentu. Bagi pelaku pasar yang sudah lama curiga soal struktur kepemilikan saham-saham tertentu di bursa, ini bisa jadi angin segar. "Dengan kita meningkatkan transparansi, kita meningkatkan granularisasi dari data, kita memberikan informasi terkait dengan high shareholding concentration, itu seluruhnya adalah upaya kita untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor kepada pasar global," papar Jeffrey.

Soal arahan khusus dari Presiden Prabowo, Jeffrey memilih tidak menjawab langsung. Koordinasi dengan OJK, katanya, terus berjalan sehari-hari. Jawaban yang, kalau jujur, tidak memuaskan siapapun yang berharap ada sinyal kebijakan lebih tegas dari atas.

Pertanyaannya: apakah langkah-langkah itu cukup?

Hendra tidak menyarankan kepanikan. Dari sisi valuasi, banyak saham unggulan sudah terkoreksi cukup dalam hingga masuk area menarik untuk investasi jangka panjang. Strategi akumulasi bertahap masih masuk akal bagi investor dengan horizon panjang dan portofolio berbasis fundamental kuat. Tapi ia mengingatkan, pasar yang sedang dilanda krisis sentimen kerap bergerak tidak rasional dalam jangka pendek. IHSG, katanya, masih berpotensi menguji area 5.800 hingga 6.000 sebelum menemukan keseimbangan baru.

Transparansi dan granularisasi data itu perlu, tidak ada yang membantah. Tapi pasar butuh lebih dari sekadar itu: kepastian arah kebijakan, konsistensi, dan langkah konkret yang bisa diverifikasi. Selama kesenjangan antara narasi dan data masih menganga, sentimen tidak akan pulih hanya karena konferensi pers.