SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  IHSG Ambruk 1,48% Dihantam Rebalancing MSCI, Enam...

Bisnis

IHSG Ambruk 1,48% Dihantam Rebalancing MSCI, Enam Saham Big Caps Terdepak

IHSG dibuka jeblok 101 poin ke 6.757 pada perdagangan terakhir sebelum libur panjang, setelah MSCI menendang enam emiten berkapitalisasi besar dari indeks globalnya. Total 18 saham Indonesia benar-benar angkat kaki dari seluruh indeks MSCI.

Prediksi IHSG Hari Ini (13/5) Sebelum Libur Panjang Setelah Turun 3 Hari

Sebelum libur panjang Kenaikan Yesus Kristus, pasar modal Indonesia dapat oleh-oleh yang tidak mengenakkan.

IHSG dibuka ambruk 101,53 poin atau 1,48% ke level 6.757,37 pada perdagangan Rabu (13/5), memperparah tren pelemahan tiga hari berturut-turut. Sejak awal tahun, indeks sudah tergerus 20,68%. Angka yang tidak main-main, bahkan untuk ukuran pasar berkembang sekalipun.

Pemicunya jelas: MSCI resmi mengumumkan hasil semi-annual index review untuk Mei 2026, dan Indonesia dapat bagian yang pahit. Tidak satu pun saham Indonesia berhasil masuk ke MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, enam emiten berkapitalisasi besar sekaligus dikeluarkan dari indeks utama tersebut. Keenamnya adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Bukan nama-nama sembarangan.

AMRT agaknya bernasib sedikit lebih baik dibanding lima rekannya. Pengelola jaringan minimarket Alfamart itu tidak sepenuhnya dibuang, melainkan turun kelas ke MSCI Global Small Cap Index. Masalahnya, di kategori Small Cap pun MSCI turut memangkas 13 emiten Indonesia lainnya. Total, ada 19 perubahan penghapusan pada indeks MSCI Indonesia. Karena AMRT berpindah kategori bukan keluar sepenuhnya, jumlah saham yang benar-benar angkat kaki dari seluruh ekosistem indeks MSCI mencapai 18 emiten.

Seluruh perubahan ini baru efektif setelah penutupan 29 Mei 2026 dan tercermin di perdagangan 1 Juni 2026. Tapi pasar tidak menunggu. Aksi jual sudah dimulai hari ini.

Mengapa rebalancing MSCI semenggemparkan ini? Karena puluhan manajer investasi global, dari reksa dana indeks hingga ETF raksasa, menjadikan MSCI sebagai acuan portofolio. Ketika sebuah saham dikeluarkan, mereka wajib menjualnya. Tidak ada negosiasi. Tekanan jual pada saham-saham yang terdepak, setidaknya dalam jangka pendek, nyaris tak terhindarkan.

261 saham terkoreksi pagi ini, 139 menguat, dan 559 stagnan. Nilai transaksi menyentuh Rp419,7 miliar dengan volume 696,6 juta saham. Cukup untuk menggambarkan betapa pasar sudah gelisah sejak bel pembukaan.

Bursa Asia kompak terkapar. Kospi Korea amblas lebih dari 2%, Nikkei Jepang dan ASX Australia ikut melemah. Kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat bercampur dengan tensi geopolitik Timur Tengah yang belum mereda. Trump menegaskan tidak butuh bantuan China untuk menyelesaikan konflik dengan Iran, sementara jalur pelayaran Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, masih terganggu. Bisa jadi sentimen ini yang mendorong investor institusi memilih posisi defensif lebih dulu.

MNC Sekuritas memproyeksikan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi. Dalam skenario terburuk, indeks bisa menyentuh rentang 6.644 hingga 6.727, dengan area gap di 6.538 hingga 6.585 yang perlu diwaspadai. Level support terdekat hari ini berada di 6.745 dan 6.682.

Bagi yang masih aktif trading menjelang libur, empat saham masuk radar analis. BBCA dan BIRD direkomendasikan buy on weakness, dengan area masuk masing-masing di 5.625 hingga 5.900 dan 1.475 hingga 1.525. ISAT justru menguat 7,80% dan masuk fase uptrend, dengan target beli di kisaran 2.230 hingga 2.310. Satu lagi, MINA terkoreksi hampir 7% dan ditawarkan sebagai peluang buy on weakness di area 296 hingga 340.

Soal kapan IHSG berbalik arah, pertanyaan itu baru terjawab setelah pasar kembali buka pasca libur panjang. Dan saat itu, agenda rebalancing MSCI sudah semakin dekat ke tanggal efektifnya.