Senin pagi, 19 Oktober 2026, IHSG langsung tersungkur. Indeks komposit jeblok 5,27 persen ke 4.912 pada pukul 09.38 WIB, lalu ditutup sesi pertama di 4.923,26 setelah sempat menyentuh titik nadir 4.907. Bukan sekadar koreksi biasa: IHSG kini berada di bawah level yang dicatatnya sepuluh tahun lalu, ketika indeks bertengger di 5.409.
Sepanjang tahun berjalan, indeks sudah amblas 43,14 persen atau sekitar 3.729 poin dari kisaran 9.000 di awal tahun. Nilai kapitalisasi pasar menyusut ke Rp8.705 triliun. Tekanan jual terasa brutal: 774 saham melemah, hanya 33 yang berhasil menguat.
Biang kepanikan kali ini adalah isu penurunan kelas bursa Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International. Phintraco Sekuritas mengingatkan bahwa usulan MSCI itu masih berupa wacana dan belum pasti terjadi, tapi pasar tidak menunggu kepastian. Ketidakpastian itu sendiri sudah cukup untuk memicu gelombang jual. Jika level psikologis 5.000 tidak bertahan, Phintraco memperingatkan IHSG bisa menguji zona support 4.700-4.800 berikutnya.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memilih tidak panik secara terbuka. Kepada awak media di Jakarta Pusat, ia berkata singkat: "Ya, kita lihat aja." Saat didesak soal isu MSCI, Airlangga menekankan pentingnya reformasi berbasis bukti. "Antara MSCI dan dasar ekonomi kita yang solid itu dalam tanda petik tidak berhubungan," tegasnya. Respons yang agaknya kurang memuaskan bagi investor ritel yang melihat portofolionya terkikis setiap hari.
Semalam, OJK dan BEI menggelar pertemuan maraton bersama analis, ekonom, dan financial influencer. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan regulator ingin mendengar masukan secara terbuka, bukan hanya menyampaikan kebijakan. Langkah yang bisa dibaca sebagai upaya meredam ketidakpercayaan yang mulai menjalar, meski volatilitas jangka pendek masih mengancam.
Satu nama tetap disebut-sebut di meja analis: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Semester I-2026 membukukan laba bersih Rp31,18 triliun, naik 17,5 persen secara tahunan. NPL tergerus ke 3,15 persen, cost to income ratio membaik dari 38,52 persen menjadi 35,49 persen, dan return on equity menguat ke 22,59 persen. Jason Gozali, Head of Research Pluang Maju Sekuritas, menyebut kombinasi laba dua digit, profitabilitas di atas 20 persen, dan likuiditas tinggi sebagai trifecta yang dicari institusi besar saat memilah saham di pasar yang sedang babak belur.
Bukti paling konkret dari daya tarik itu: investor asing net buy BBRI lebih dari Rp2,34 triliun dalam sebulan hingga awal September. Saat mayoritas saham dihajar aksi jual, asing justru mengakumulasi. Bak gayung bersambut.
Sentimen tambahan datang dari Danantara yang dikabarkan berencana menambah investasi sekitar US$1 miliar (sekitar Rp17,9 triliun) hingga akhir tahun. Dana itu melengkapi US$3 miliar yang sebelumnya telah ditempatkan di saham dan obligasi. Tapi Jason mengingatkan, tambahan itu hanya sekitar 0,1 persen dari total kelolaan Danantara yang mencapai US$900 miliar. Tidak otomatis menjadi penopang pasar secara menyeluruh, dan realisasinya bergantung pada valuasi serta kondisi pasar.
Pluang Maju Sekuritas memasang target harga BBRI di Rp3.850. Kiwoom Sekuritas Indonesia lebih agresif, dengan target Rp4.000 dalam 12 bulan. Pada level itu, BBRI diperkirakan diperdagangkan di P/BV 1,8 kali untuk 2026, masih di bawah rata-rata historis tiga tahun sebesar 2,06 kali. Diskon di tengah kekacauan, kalau data ini bisa dipercaya.
Risikonya tetap ada. NIM tergerus ke 6,4 persen, rasio permodalan melemah ke 19,35 persen seiring ekspansi kredit, dan pemulihan kualitas aset segmen mikro belum secepat yang diharapkan. Ditambah badai MSCI yang belum selesai. Lo Kheng Hong pagi itu cuma berpesan: badai pasti berlalu. Kapan? Itu pertanyaan lain.