KAMIS, 22 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IHSG Ambles 30%, BEI Akui Krisis Kepercayaan Pasar...

Ekonomi

IHSG Ambles 30%, BEI Akui Krisis Kepercayaan Pasar Modal Belum Selesai

IHSG sudah tergerus lebih dari 30% sejak awal 2026, dengan net sell asing menembus Rp57,63 triliun. BEI mengakui krisis kepercayaan nyata, sementara IPO besar nihil dan rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS.

Baru Satu IPO Hingga Tengah Tahun Saat IHSG Jeblok, Ada Apa di Pasar Saham Indonesia?

Net sell asing sudah menembus Rp57,63 triliun, IHSG tergerus lebih dari 30% sejak Januari, dan sepanjang 2026 cuma satu perusahaan yang berani melantai di Bursa Efek Indonesia. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) menjadi satu-satunya emiten baru yang mencatatkan saham di BEI sepanjang tahun ini, menghimpun dana IPO senilai Rp304 miliar. Receh, dibanding kapitalisasi pasar yang menguap selama periode yang sama. Nihilnya IPO kelas kakap bukan kebetulan. Perusahaan besar memilih menunggu, dan tidak ada yang menyalahkan mereka.

Per penutupan Kamis (4/6), IHSG bertengger di 6.127, sudah amblas sekitar 29-30% dari posisi awal tahun. Juni menjadi bulan yang krusial. Jika indeks kembali ditutup merah secara bulanan, ini akan menyamai catatan kelam krisis finansial global 2008, saat IHSG melemah enam bulan beruntun. Rekor yang tidak ada yang ingin disamai.

Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik tidak mengelak ketika ditanya soal krisis kepercayaan. Reformasi yang sedang dijalankan BEI bersama OJK, mulai dari peningkatan transparansi, granularisasi data, hingga pengungkapan high shareholding concentration, disebutnya sebagai bagian dari upaya memulihkan kepercayaan investor. "Dengan kita meningkatkan transparansi, kita meningkatkan granularisasi dari data, kita memberikan informasi terkait dengan high shareholding concentration, itu seluruhnya adalah upaya kita untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor kepada pasar kita," kata Jeffrey di kantor BEI, Kamis (5/6/2026).

Narasi optimisme pejabat, seperti yang diingatkan pengamat, tidak selalu berbanding lurus dengan pergerakan pasar. Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebut ada kesenjangan nyata antara pernyataan resmi dan realitas di lantai bursa. Fundamental ekonomi memang belum runtuh. PDB kuartal I/2026 masih tumbuh 5,61% YoY dan 80% perusahaan tercatat membukukan laba bersih, tertinggi dalam lima tahun. Tapi pasar tidak hanya membaca laporan keuangan. Ini yang sering luput.

Rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, kekhawatiran atas kebijakan ekspor satu pintu, arus keluar asing yang belum juga berbalik arah. Tekanan berlapis yang sulit dikompensasi sekadar dengan pidato. Entah kebetulan atau tidak, di saat bursa-bursa Asia mayoritas menguat, IHSG justru masuk daftar indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini.

Hendra menilai konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak mendekati 100 dolar AS per barel turut berkontribusi. Tapi tekanan utama lebih banyak datang dari dalam. "Kepercayaan investor merupakan aset yang sangat mahal nilainya. Ketika kepastian kebijakan berkurang dan pelaku pasar kesulitan memproyeksikan arah ekonomi, investor cenderung memilih menunggu atau bahkan memindahkan dananya ke negara lain yang dianggap lebih stabil," jelasnya.

Satu faktor yang agaknya luput dari sorotan: pergantian direksi BEI. Pengumuman jajaran direksi baru periode 2026-2030 harus dilakukan paling lambat 22 Juni, tujuh hari sebelum RUPST pada 29 Juni. Jeffrey sendiri termasuk kandidat yang mencalonkan diri. Wajah baru di pucuk pimpinan bursa bisa jadi memberi sedikit harapan psikologis bagi pasar yang sedang haus katalis.

Dari sisi valuasi, banyak saham unggulan yang sudah dihajar sangat dalam hingga mulai masuk area menarik untuk investasi jangka panjang. Investor ritel perlu sadar, pasar dalam krisis sentimen sering bergerak tidak rasional dalam jangka pendek. Nyangkut di level yang terlihat murah pun bisa terjadi kalau arah kebijakan domestik belum memberi kepastian yang dibutuhkan pasar. Pertanyaannya: kapan kepastian itu datang?