Level 6.000 jebol. IHSG pada sesi I perdagangan Rabu (3/6/2026) amblas 4,33% ke posisi 5.927, angka yang agaknya belum banyak diantisipasi pelaku pasar pagi tadi ketika indeks sempat dibuka menguat di 6.213.
Koreksi ini bukan sekadar koreksi biasa. Volume transaksi menembus 22 miliar saham dengan nilai Rp12,47 triliun dan frekuensi 1,52 juta kali. Kepanikan, bukan profit taking terencana. Dari 813 saham yang aktif diperdagangkan, 692 melemah. Hanya 50 yang berhasil menguat.
Sejumlah nama besar ikut terseret. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) masuk jajaran pemberat terbesar bersama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang tergerus sekitar 3% ke Rp5.650 per saham. Di LQ45, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dihajar paling dalam, amblas 11,36% ke Rp2.340. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) langsung kena Auto Reject Bawah, turun 14,96% ke Rp108 per saham.
Tiga sektor paling babak belur: barang baku minus 9,09%, infrastruktur minus 5,91%, energi minus 5,87%. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turut masuk deretan pemberat. Sektornya memang sedang tidak punya tempat berlari hari ini.
3,81%. Segitu koreksi LQ45, sinyal bahwa tekanan merata sampai ke saham-saham blue chip yang biasanya jadi pelabuhan aman institusi.
Yang membuat angka ini lebih berat untuk dicerna: koreksi hari ini bukan terjadi dalam vakum. IHSG sepanjang 2026 sudah mencatatkan penurunan 31,19% hingga akhir Mei, menjadikan aksi jual sesi ini bagian dari tren yang sudah berjalan hampir enam bulan. Entah kebetulan atau tidak, tekanan kali ini muncul justru ketika pasar sebetulnya butuh katalis positif untuk membalik arah.
Bagi investor yang nyangkut di saham mineral dan energi, pertanyaannya kini bukan lagi kapan rebound. Melainkan seberapa dalam lagi sebelum ada yang berani masuk akumulasi.