Perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa sudah di ujung tanduk. Tinggal satu pengganjal: kesiapan administratif pihak Eropa.
Menteri Perdagangan Budi Santoso, akrab disapa Busan, menegaskan bahwa dari sisi Indonesia seluruh persiapan sudah rampung, eh, maksudnya: sudah beres. Konsep, draf ratifikasi, semuanya. Yang masih ditunggu adalah sinyal hijau dari Uni Eropa, yang harus mengkoordinasikan 27 negara anggotanya sebelum bisa membubuhkan tanda tangan. "Kalau kami sebenarnya sudah siap, sekarang yang ditunggu tinggal dari pihak EU-nya. Karena mereka kan terdiri dari 27 negara, jadi secara administrasi membutuhkan waktu," kata Busan saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (27/8).
Targetnya: tanda tangan paling lambat akhir Oktober. Kalau itu terwujud, ratifikasi di DPR ditargetkan kelar dalam satu hingga dua bulan, dan implementasi bisa dimulai Januari 2027.
Angkanya tidak main-main. Ekspor Indonesia ke Benua Biru ditargetkan naik dua kali lipat dari nilai saat ini, dengan mesin utamanya produk manufaktur padat karya: pakaian jadi, tekstil, alas kaki, dan elektronik.
Kementerian Perindustrian senada. Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif menyebut IEU-CEPA sebagai instrumen strategis yang sudah lama dinantikan pelaku industri, terutama karena persaingan global makin tak kenal ampun. Produk kayu dan olahannya juga masuk daftar komoditas yang diharapkan menangguk manfaat dari akses pasar Eropa yang lebih terbuka.
Tapi kondisi lantai pabrik belum sepenuhnya berseri. PMI Manufaktur Indonesia dari S&P Global tercatat 49,8 pada Agustus 2026, turun tipis dari 50,2 di Juli. Secara teknis, sektor manufaktur kembali masuk zona kontraksi, meski tipis sekali. Febri mengakui ada penyesuaian produksi dan efisiensi tenaga kerja yang memengaruhi angka ini, dipicu ketatnya persaingan di pasar lokal.
Ada sinyal menghibur, agaknya. Berdasarkan laporan S&P Global, permintaan baru meningkat untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, dan optimisme pelaku industri menyentuh level tertinggi dalam tujuh bulan. "PMI manufaktur pada Agustus memang kembali berada sedikit di bawah level 50. Namun, kita juga melihat adanya peningkatan tipis pada permintaan baru dan kepercayaan bisnis yang terus membaik. Ini menunjukkan bahwa pelaku industri masih melihat prospek pasar yang cukup baik ke depan," ujar Febri.
Bukan cuma soal ekspor. Kemenperin juga menjaga agar euforia pasar Eropa tidak membuat pasar domestik kecolongan. Instrumen Pertimbangan Teknis (pertek) dipertahankan sebagai penyeimbang arus impor. Febri menggambarkannya dengan ilustrasi yang cukup gamblang: kalau kebutuhan dalam negeri 100 unit dan industri lokal hanya mampu suplai 80 unit, impor boleh masuk menutup 20 unit kekurangan. "Kalau seandainya nanti impor yang masuk bukan 20 tapi dibebaskan terus masuk 100, jadikan 120, pasar domestik kan jadi banjir," kata Febri.
Pertanyaannya, berapa lama Uni Eropa butuh waktu membereskan urusan administratifnya sendiri? Kemenperin meyakini PMI manufaktur bakal kembali melaju di zona ekspansif pada bulan-bulan mendatang, begitu akses pasar Eropa benar-benar terbuka lebar. Kalau Oktober benar-benar jadi, skenario Januari 2027 bukan sekadar angan.