Lima ratus lebih pembicara, 160 sesi diskusi, dan satu tema yang terasa seperti perlawanan terorganisir: "Re:Humanize". IdeaFest 2026 resmi bergulir sejak Jumat, 4 September 2026 di Jakarta Convention Center, Senayan, dan baru tuntas akhir pekan ini setelah tiga hari penuh.
Festival kreatif yang kini menginjak penyelenggaraan ke-15 ini hadir dengan agenda yang agaknya sengaja disusun sebagai respons terhadap kekhawatiran massal soal kecerdasan buatan. Bukan antitesis terhadap teknologi, tapi lebih kepada koreksi arah. Ben Soebiakto, Co-Chair IdeaFest 2026, merangkumnya saat konferensi pers pembukaan: "Di event ini, kita duduk sejenak, kembali melihat bagaimana core identity kita sebagai human. Kita harus pintar mengelola tim dan menggunakan teknologi dengan bijak."
Parima Deshpande, Vice President Community & Partner Product Marketing Adobe, menyampaikan framing yang lugas dalam sesi talkshow hari pertama. AI, menurutnya, tidak lebih dari alat, sama seperti perangkat-perangkat sebelumnya yang dulu juga sempat dianggap ancaman. Yang akan bertahan adalah sesuatu yang tidak bisa direplikasi mesin: sudut pandang manusia. "Ada 8 miliar orang di planet ini, dan setiap dari 290 juta orang Indonesia memiliki kreativitas yang benar-benar unik," tegasnya kepada detikINET usai sesi talkshow. Kuncinya bukan seberapa mahir memakai AI, melainkan seberapa dalam seseorang mengembangkan perspektif dan selera kreatifnya sendiri. "Itulah pembeda terbesar yang akan membantu Anda menonjol," kata Deshpande.
Nada serupa datang dari Ovidia Nomia, SVP Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison. Ia menekankan bahwa yang membedakan manusia dari teknologi adalah perasaan dan emosi. "Human needs to be in the loop. Human needs to lead. Dan kenapa human becomes human is because we have a heart," kata Ovidia. Lalu ia menambahkan: "At the end of the day, technology needs a heart. And where does the heart come from? It's from human. Teknologi adalah sebuah medium saja, kalau bukan manusia yang menjalankan, kita tidak akan bisa."
Debat soal AI dan jurnalisme menjadi salah satu sesi paling tajam. Dalam diskusi bertajuk "ReHumanizing Journalism: What Makes Media Matter in the Age of AI?" pada Sabtu (5/9), sejumlah petinggi redaksi nasional berbicara blak-blakan. Sena Achari, Direktur Produk detikcom, memberi contoh konkret soal keterbatasan mesin: ketika KRL tersambar petir, AI justru melabeli kejadian itu sebagai hoaks, lantaran AI hanya bisa mengolah peristiwa yang sudah selesai terjadi. "Di sinilah editorial redaksi sangat berperan tinggi menjaga validitas kebenaran," kata Sena.
Uni Lubis, Pemimpin Redaksi IDN Times, mengingatkan bahwa jurnalisme pada dasarnya tentang mempromosikan kemanusiaan, dan itu tidak bisa didelegasikan ke algoritma. Era AI justru, menurutnya, momentum untuk menguatkan kembali storytelling, explainer, dan fact-checking sebagai keunggulan jurnalis. Berbeda sudut, satu garis besar. Antonius Tomy Trinugroho, Waredpel Kompas Daily, menambahkan poin yang cukup mendasar: informasi bukan jurnalisme. AI bisa menyodorkan data, tapi konteks, makna, dan relevansi dalam kerangka demokrasi adalah wilayah yang belum bisa dimasukinya.
Di luar panggung diskusi, dua korporasi besar menjadikan IdeaFest sebagai arena aktivasi yang tidak kecil skalanya. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) masuk sebagai Official Banking Partner lewat platform wondr by BNI. Targetnya bukan sekadar transaksi pengunjung, tapi juga pembayaran digital para tenant via QRIS melalui wondr Merchant. Promo yang disiapkan pun tidak main-main: skema Buy 1 Get 2 untuk pembelian tiket, cicilan 0 persen hingga 12 bulan, cashback hingga Rp 80.000, serta reward hingga Rp 500.000 bagi yang mengajukan kartu kredit baru. Ada pula reward hingga Rp 100.000 atau koper eksklusif bagi yang membuka rekening baru. Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyebut tema "Re:Humanize" sejalan dengan posisi BNI bahwa teknologi harus menjadi enabler, bukan pengganti peran manusia.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) hadir lewat konsep Rumah Indofood dengan empat brand sekaligus: Indomie, Pop Mie, Indomilk, dan Chitato Lite. Masing-masing punya sesi IdeaTalks sendiri, mulai dari seni dan gaming hingga tema kebahagiaan dalam dunia yang hyper-connected. Yang menarik, Indofood menggandeng Rekosistem untuk agenda pengelolaan sampah festival, dengan 15 titik pengumpulan yang tersebar di seluruh area. Total timbulan sampah selama tiga hari diperkirakan antara 4 hingga 8 ton, semuanya dikelola dengan prinsip ekonomi sirkular. Bukan sekadar basa-basi lingkungan. Ernest C. Layman, CEO Rekosistem, menyebut kolaborasi ini sebagai bukti bahwa festival inspiratif bisa berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Tiga hari, ratusan pembicara, dan satu pertanyaan besar yang terus digulirkan: bukan apakah AI akan mengalahkan manusia, tapi seberapa sadar kita menempatkannya. Pertanyaan yang, kalau dipikir-pikir, tidak akan pernah bisa dijawab oleh mesin mana pun.