Dari 600 mitra yang sudah aktif di Jabodetabek, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food kini mengincar 25.000 hingga 27.000 mitra Warung Pangan secara nasional sebelum tutup buku 2026. Peluncuran resmi program ini digelar di Pasar Tebet Timur, Jakarta, Senin (20/7/2026), dengan kehadiran Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq.
Angka 600 itu memang masih jauh dari target. Secara nasional, ID Food mencatat sekitar 8.000 mitra sudah tergabung dalam sistem, tersebar di 42 cabang dari Aceh sampai Papua. Seluruh cabang itulah yang akan jadi basis ekspansi besar-besaran hingga akhir tahun.
"Kita berharap bahwa akhir tahun 2026 ini kita dengan kampanye dan support yang masif dari kementerian kita berharap kita bisa mempunyai mitra sekitar 25.000 hingga 27.000 di akhir tahun ini," ungkap Direktur Komersial ID Food Dwi Suroto usai peluncuran.
Mekanismenya tidak rumit. Pedagang pasar tradisional bergabung sebagai mitra, lalu mendapat akses ke jaringan distribusi ID Food dengan harga kompetitif. Pemesanan dilakukan secara daring. Untuk wilayah dengan permintaan tinggi, ID Food membangun stok poin yang melayani beberapa pasar sekaligus. Mitra diwajibkan menjual kepada konsumen sesuai harga eceran tertinggi (HET). Warung Pangan bukan gerai milik ID Food, melainkan sistem penghubung antara pedagang eksisting dengan rantai pasok perusahaan.
Syaratnya? Cukup punya Nomor Induk Berusaha (NIB). Legalitas itu diperlukan sebagai kontrol, terutama karena sebagian komoditas yang disalurkan berstatus barang subsidi. "Yang jelas syaratnya harus punya NIB, karena itu menjadi kontrol untuk barang-barang yang tertentu. Karena barangnya ini ada barang subsidi, ada yang tidak," jelas Dwi. Pendaftaran bisa dilakukan secara online, sementara tim sales ID Food di lapangan ditugaskan mengedukasi calon mitra soal cara aksesnya.
Dari sisi bisnis, margin distribusi pangan memang tipis. Dwi tidak menyembunyikan itu. Justru itulah kenapa volume menjadi segalanya. "Artinya bisnis ini secara bisnis memang marginnya tidak besar. Karena tidak besar berarti kan volumenya harus besar. Karena kalau volumenya kecil sudah marginnya kecil tidak akan bisa meng-cover perusahaan yang sebegini besar," akunya. Lewat jaringan Warung Pangan ini, ID Food juga akan mendorong penjualan produk milik sendiri seperti gula Raja, beras Rania, dan minyak goreng Rania.
Pertanyaannya, apakah Warung Pangan bakal bertabrakan dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang tengah digencarkan pemerintah? Hanif menegaskan tidak. Beda niche, beda mandat. KDMP difokuskan untuk menyalurkan barang bersubsidi dan bansos langsung ke masyarakat. Warung Pangan masuk ke wilayah stabilisasi harga untuk komoditas di luar subsidi. "Kita tidak kemudian membentur-benturkan dengan instrumen yang lain," kata Hanif.
Direktur Utama ID Food Ghimoyo bahkan melihat ruang kolaborasi: ID Food berperan sebagai agregator komoditas unggulan dari desa-desa, mengolah dan memasarkannya ke wilayah lain yang membutuhkan. Klaim yang masih perlu dibuktikan dalam eksekusi.
"Dengan adanya ini maka sebenarnya kita tidak perlu lagi membuat tenda-tenda lagi, melakukan operasi pasar yang masif, kalau kita memanfaatkan pasar yang ada," kata Hanif. Bagi pedagang yang selama ini terjebak rantai distribusi panjang dan harga sulit dikontrol, tawaran ini terdengar menarik. Lima bulan tersisa. Target 27.000 mitra adalah ujian sesungguhnya.