KAMIS, 22 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  HYPE Geser DOGE, ETF Hyperliquid Diburu: Kripto In...

Finansial

HYPE Geser DOGE, ETF Hyperliquid Diburu: Kripto Ini Bukan Mainan

Token HYPE dari Hyperliquid resmi masuk 10 besar kripto global setelah menyalip Dogecoin, sementara ETF-nya meraup hampir US$160 juta dalam hitungan hari, membuktikan pasar makin serius soal utilitas.

HYPE Geser DOGE: Hyperliquid Masuk 10 Besar Aset Kripto Saat Harga Mendekati US$70

Kapitalisasi pasar HYPE kini bertengger di kisaran US$15,4 miliar hingga US$17 miliar, cukup untuk mendorong token Hyperliquid masuk ke posisi 9 atau 10 besar kripto global dan menggeser Dogecoin ke peringkat 11. Bukan pencapaian kecil untuk aset yang baru mulai serius diperhitungkan pasar sekitar setahun lalu.

Harga HYPE mendekati US$68-69, atau sekitar Rp1,21 juta per token, pada akhir Mei 2026, naik sekitar 10% dalam 24 jam saat Bitcoin justru tertekan. Dalam tujuh hari terakhir, HYPE membukukan reli hijau konsisten sementara DOGE nyaris tak bergerak. Pasar, agaknya, sedang mengirim pesan.

Yang membedakan HYPE dari kebanyakan token kripto adalah strukturnya yang terasa lebih mirip saham perusahaan publik ketimbang aset spekulatif. Sekitar 99% biaya transaksi yang dihasilkan platform Hyperliquid digunakan untuk buyback token HYPE di pasar. Mekanisme ini mengingatkan banyak investor pada praktik buyback saham yang lazim di pasar modal konvensional. Familiar, dan itu disengaja. Stephen Coltman, Vice President dan Head of Macro 21Shares, menyebutnya gamblang: "Seluruh aktivitas perdagangan menghasilkan pendapatan yang kemudian digunakan untuk membeli kembali token."

Hyperliquid bukan pemain baru yang tiba-tiba viral. Platform ini membangun blockchain Layer-1 miliknya sendiri yang dioptimalkan untuk perpetual futures dan spot trading terdesentralisasi, dengan finalitas transaksi di bawah satu detik dan tanpa biaya gas. Volume harian sering melampaui US$1 miliar. Pernah, ketika konflik AS-Iran memuncak dan pelaku pasar kalang kabut mencari akses komoditas di akhir pekan, perdagangan minyak mentah di platform ini saja menyentuh angka itu. Sejak peluncuran, Hyperliquid sudah membukukan pendapatan lebih dari US$1,16 miliar dengan volume kumulatif hingga triliunan dolar.

Masuknya HYPE ke 10 besar bukan lonjakan dadakan. Token ini menembus 20 besar pada akhir April 2026, naik ke 15 besar pertengahan Mei, lalu menerobos 10 besar dalam minggu-minggu berikutnya. Kenaikan bertahap ini, bukan pump mendadak, yang membuat sebagian analis menilai posisinya lebih solid secara struktural. Ditambah fakta bahwa proyek ini tidak pernah menerima pendanaan modal ventura dan mendistribusikan token langsung ke pengguna awal melalui airdrop komunitas di akhir 2024, tekanan jual dari investor awal yang biasanya menghantui token baru pun relatif minim. Ibarat pedang bermata dua: tanpa VC, distribusinya lebih bersih, tapi sumber daya untuk ekspansi bisnis pun lebih terbatas.

US$160 juta. Hanya dalam beberapa hari. Bitwise dan 21Shares meluncurkan ETF spot HYPE pada Mei 2026, masing-masing dengan kode BHYP dan THYP, dan keduanya mengumpulkan aset kelolaan mendekati US$150 juta dalam hitungan hari perdagangan. BHYP sendiri menarik hampir US$60 juta atau sekitar Rp1,06 triliun sejak debut di NYSE pertengahan Mei. Grayscale turut masuk dengan Grayscale Hyperliquid Staking ETF (HYPG) pada 3 Juni 2026, mengelola sekitar US$4,5 juta per akhir minggu lalu. Total arus masuk ke seluruh ETF HYPE mendekati US$160 juta, angka yang jauh melampaui ekspektasi banyak pelaku industri.

Matt Hougan, Chief Investment Officer Bitwise, menolak membingkai Hyperliquid sebatas aset kripto. "Ini bukan aplikasi kripto. Ini adalah aplikasi keuangan yang menggunakan kripto di bagian belakang untuk menciptakan pengalaman keuangan baru yang dalam banyak hal lebih baik daripada sistem tradisional," tegasnya. Hougan bahkan menyebut HYPE sebagai "token generasi 2" yang seharusnya diukur bukan dari semesta kripto senilai US$3 triliun, melainkan dari pasar aset global senilai US$600 triliun. Klaim yang masih perlu dibuktikan waktu, setidaknya itu klaim manajemen, tapi framing itu sendiri sudah cukup mengundang perhatian institusi.

Zach Pandl dari Grayscale menambahkan dimensi lain. Hyperliquid, katanya, berhasil menarik investor yang sebelumnya tidak aktif di ekosistem kripto sama sekali. "Karakter investornya berbeda dengan investor Bitcoin," ujarnya. Bukan sekadar rotasi dana antar-aset kripto, melainkan ekspansi basis investor ke segmen yang sebelumnya tidak tersentuh.

Risikonya nyata dan Hougan tidak menutup-nutupinya. NYSE, CME, dan protokol DeFi lain seperti dYdX dan Drift terus memperketat infrastruktur mereka. Platform Hyperliquid juga belum tersedia bagi pengguna AS secara langsung, meski Pandl memperkirakan akses itu bisa terbuka sekitar 2027 seiring kejelasan regulasi. Pertanyaannya: berapa lama tren ini bertahan sebelum kompetitor menyusul?

Bagi investor ritel Indonesia yang menyimak dari jauh, HYPE mungkin bukan nama yang familiar di grup WhatsApp saham. Tapi US$160 juta dalam beberapa hari itu bukan noise. Momen ini, entah kebetulan atau tidak, bertepatan dengan periode ketika sejumlah token Layer-1 besar bergerak sideways dan BTC sedang tergerus. Pasar sedang aktif mencari narasi berikutnya, dan untuk sementara, narasi itu bernama Hyperliquid.