Tanggal 7 September 2026 sudah dikunci Huawei jauh-jauh hari. Bukan untuk satu produk, melainkan untuk gelombang peluncuran yang bisa jadi paling padat dalam sejarah perusahaan asal Shenzhen itu dalam beberapa tahun terakhir.
Sorotan utama jelas tertuju pada Mate XT 2, penerus ponsel tri-fold yang sempat menghebohkan pasar global tahun lalu. Generasi pertamanya terjual lebih dari 400.000 unit meski dibanderol dengan harga yang bukan untuk semua kalangan. Angka yang, jujur saja, cukup impresif untuk segmen paling niche di industri smartphone.
Yang paling banyak diperbincangkan adalah pergeseran mekanisme lipatan. Dari outward-folding di generasi pertama, kabarnya Mate XT 2 berpindah ke skema inward-folding, layar utama kini terlindungi di bagian dalam saat perangkat dilipat, dengan layar cover terpisah di luar untuk pemakaian sehari-hari. Bukan keputusan kecil. Perubahan ini berkaitan langsung dengan durabilitas jangka panjang dan kemungkinan besar lahir dari keluhan pengguna generasi pertama soal layar luar yang mudah tergores.
Perubahan desain lain yang mencuri perhatian: engsel baru yang diklaim mampu meminimalkan bekas lipatan, serta penggunaan kaca UFG untuk meningkatkan ketahanan layar. Ada pula modul kamera berbentuk bundar besar yang diposisikan di panel tengah bodi. Penempatan tidak lazim, tapi kemungkinan berkaitan dengan distribusi bobot tiga panel yang harus tetap nyaman digenggam.
Dari sisi dapur pacu, Mate XT 2 dikabarkan mengandalkan chipset Kirin 9050 Pro, melanjutkan strategi kemandirian semikonduktor yang sudah dijalankan Huawei sejak beberapa tahun lalu. Chipset ini diklaim membawa kemampuan AI on-device yang lebih tangguh dibanding pendahulunya. Kapasitas baterai disebut mencapai 6.000 mAh atau lebih. Masuk akal, mengingat tiga panel layar aktif butuh suplai daya yang tidak main-main, apalagi saat multitasking berat.
Agenda 7 September bukan milik Mate XT 2 semata. HarmonyOS 7, yang sudah diperkenalkan resmi pada Juni 2026, dijadwalkan mendapat panggung penuh di acara ini. Ini penting: perangkat tri-fold membebani sistem operasi jauh lebih berat dibanding ponsel lipat biasa. Huawei harus membuktikan HarmonyOS 7 mampu mengelola perpindahan antara tiga tata letak layar yang berbeda dengan mulus, tanpa jeda yang mengganggu.
Satu produk lagi yang akan unjuk gigi adalah Pura X View, yang disebut sebagai smartphone "lebar non-foldable" pertama di dunia. Tipster Digital Chat Station, yang selama ini cukup dikenal akurat soal bocoran internal Huawei, juga menyebut chipset Kirin 9030S kemungkinan turut dibahas di panggung yang sama.
Kabar yang agaknya belum banyak mendapat perhatian datang dari tipster FixedFocus di Weibo: Huawei tengah mempersiapkan varian baru Pura 90 yang lebih terjangkau untuk acara ini. Sebelumnya tiga varian Pura 90 sudah meluncur dengan rentang harga 4.699 yuan (sekitar Rp10,5 juta) hingga 6.499 yuan (sekitar Rp14,5 juta). Varian baru ini kemungkinan ditempatkan di bawah titik harga terendah itu, dan kabarnya mengusung layar melengkung yang sempat ditinggalkan Huawei dalam beberapa model terakhirnya.
Strategi ini bukan tanpa kalkulasi. Kenaikan biaya komponen dan tekanan di segmen mid-to-high memaksa Huawei memperluas jangkauan tanpa harus merilis generasi flagship yang benar-benar baru. Pola yang sama sudah terbukti efektif di lini MateBook.
Satu panggung, setidaknya lima produk atau pengumuman besar. Kalau semuanya benar terealisasi, 7 September bisa jadi hari tersibuk Huawei sepanjang 2026. Pertanyaannya, berapa banyak yang benar-benar siap, bukan sekadar "diperkenalkan"?