Chipset Snapdragon 8 Gen 2, yang dua tahun lalu hampir mustahil ditemukan di bawah Rp10 juta, kini bisa dibawa pulang mulai Rp6 jutaan. Bukan main.
Tren ini bukan kebetulan. Produsen seperti ASUS, Samsung, Xiaomi, hingga Sharp mulai agresif memangkas harga perangkat lama mereka untuk menjangkau segmen menengah yang selama ini kena tampar soal performa. Hasilnya, 2026 menjadi tahun paling menarik bagi konsumen Indonesia yang ingin upgrade tanpa harus menguras tabungan.
Dari mana mulai?
Untuk kelas paling terjangkau, Xiaomi Redmi Note 13 Pro 5G layak jadi titik masuk. Dibanderol Rp4.599.000 untuk varian RAM 12 GB dengan penyimpanan 512 GB, ponsel ini mengandalkan Snapdragon 7s Gen 2 dan kamera utama 200 MP dengan sensor 1/1.67 inci. Layar AMOLED 6,67 inci beresolusi 1.220 x 2.712 piksel dengan refresh rate 120 Hz plus dukungan Dolby Vision jadi nilai lebih yang tidak wajar ada di harga segitu. Baterai 5.100 mAh melengkapi paket yang, jujur saja, susah ditandingi di kelasnya.
HONOR X9C masuk dengan pendekatan berbeda di rentang harga yang sama. Andalannya: baterai 6.600 mAh dengan pengisian cepat 66W, angka yang bikin iri pengguna kelas menengah mana pun. Chipset Snapdragon 6 Gen 1 fabrikasi 4nm dengan RAM 12 GB cukup untuk pemakaian harian yang padat, sementara layar AMOLED 6,78 inci 120 Hz memastikan tampilan tetap nyaman di mata. Kamera utamanya 108 MP, bukan 200 MP seperti Redmi Note 13 Pro, trade-off yang perlu dipertimbangkan.
Naik kelas, POCO F6 tetap jadi pilihan paling agresif untuk yang menjadikan gaming dan editing video sebagai prioritas utama. Snapdragon 8s Gen 3 dengan RAM LPDDR5X adalah kombinasi yang serius untuk harganya, dengan skor benchmark yang bersaing langsung dengan flagship tahun lalu. Kecepatan transfer data RAM LPDDR5X ini terasa nyata saat multitasking berat, bukan klaim marketing semata.
Xiaomi 14T, dengan Snapdragon 8 Gen 2, menawarkan keseimbangan antara performa dan fotografi di segmen yang lebih premium. Chipset ini dikenal stabil secara termal, jarang overheat meski dipakai intensif berjam-jam. Bagi yang pernah punya pengalaman buruk dengan ponsel yang mendidih saat merekam video panjang, ini poin yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Samsung Galaxy A Series punya daya tarik yang berbeda: bukan sekadar hardware, melainkan komitmen pembaruan software. Dengan Snapdragon seri 7 dan jaminan pembaruan Android hingga 2029, ponsel ini agaknya lebih cocok untuk pengguna yang tidak ingin repot ganti perangkat dalam waktu dekat. Nilai jual kembali yang relatif terjaga jadi bonus tersendiri.
Di ujung spektrum performa, deretan HP Snapdragon 8 Gen 2 mulai Rp6 jutaan menyasar segmen yang sangat spesifik. ASUS Zenfone 10 untuk pengguna yang antipati dengan ponsel jumbo, layar AMOLED 5,9 inci 144 Hz-nya kompak tapi tajam. ASUS ROG Phone 7 untuk gamer kompetitif yang butuh refresh rate 165 Hz dan sistem pendingin khusus. Samsung Galaxy Z Flip5 untuk mereka yang mengedepankan desain lipat. Masing-masing punya proposisi nilai yang jelas, segmennya tidak tumpang tindih.
Satu catatan yang sering luput: spesifikasi tinggi bukan jaminan ponsel awet. Menjaga kapasitas penyimpanan di atas 20% dan menghindari kebiasaan mengisi daya hingga 100% setiap malam terbukti memperpanjang usia baterai. Pertahankan level baterai di kisaran 20-80%, perawatan sepele yang dampaknya baru terasa dua sampai tiga tahun kemudian.
Dengan rentang Rp4 juta hingga Rp8 jutaan yang kini sudah mencakup chipset yang dulu hanya ada di flagship, pertanyaan sebenarnya bukan lagi soal daya beli. Pertanyaannya: fitur mana yang benar-benar kamu pakai setiap hari?