Dua tahun lalu, menyebut "HP gaming Rp2 jutaan dengan layar 144Hz dan RAM 16GB" terdengar seperti klaim iklan yang perlu dicurigai. Pertengahan 2026 ini, spesifikasi itu bukan lagi jualan bombastis, melainkan standar baru yang mulai wajib dipenuhi produsen jika ingin tetap relevan di segmen menengah.
Persaingan antarmerek di kelas harga ini terbilang brutal, dan yang diuntungkan jelas konsumen. Realme, iQOO, Infinix, TECNO, hingga POCO berlomba menjejali perangkat murah mereka dengan fitur yang dulu hanya ada di flagship. Refresh rate 144Hz, baterai di atas 6.000 mAh, fast charging 33W ke atas, semua bisa didapat dengan uang kembalian dari tiga juta rupiah. Bak gayung bersambut antara permintaan gamer dan kemampuan produksi chipset yang makin efisien.
Ambil contoh realme P4x. Perangkat ini membawa baterai 8.000 mAh yang disebut Titan Battery, dan bukan sekadar klaim pemasaran. Ponsel ini tercatat di MURI sebagai smartphone entry level dengan ketahanan gaming MOBA nonstop terlama dalam satu sesi pengisian, mencapai 10 jam tanpa henti. Angka yang, jujur saja, sulit diabaikan.
iQOO Z9 5G hadir dengan pendekatan berbeda. Mengandalkan Snapdragon 7 Gen 3 yang berpasangan dengan layar AMOLED 144Hz berukuran 6,78 inci dan baterai 6.000 mAh berkemampuan 80W fast charging, ini pilihan buat yang mengutamakan performa murni dan tidak sabar menunggu ngecas. Infinix GT 30 Pro melengkapi daftar dengan chipset MediaTek Dimensity 8350 Ultimate, panel AMOLED resolusi 1.5K dengan refresh rate 144Hz, dan fitur bypass charging yang memungkinkan gaming sambil ngecas tanpa khawatir panas berlebih.
Bagi yang budget-nya lebih ketat, TECNO Pova 7 5G dan POCO M7 layak masuk pertimbangan. Keduanya membawa baterai 7.000 mAh dengan refresh rate 144Hz, cukup untuk sesi gaming maraton tanpa drama lowbat di tengah permainan.
Satu yang patut dicermati: soal chipset. Beberapa perangkat di kelas ini masih mengusung prosesor 4G seperti MediaTek Helio G1 Ultra, yang performanya memang mencukupi untuk gaming harian tapi belum mendukung 5G. Bagi sebagian orang ini tidak masalah. Tapi bagi yang sudah mencicipi kecepatan 5G, ini bisa terasa mundur selangkah.
Soal RAM, tren ekspansi memori virtual makin jamak di segmen ini. Konfigurasi fisik 8GB yang bisa didongkrak hingga 16GB via virtual RAM memang bukan pengganti RAM fisik sejati, tapi dalam praktik sehari-hari, terutama untuk multitasking dan berpindah-pindah aplikasi berat, efeknya terasa. Ditambah storage 256GB yang kini menjadi standar, ruang untuk game-game modern berukuran besar pun tidak lagi jadi kendala.
Ada satu hal yang kerap luput dari perhatian pembeli: sistem pendingin. Chipset sekencang apa pun akan throttle kalau panas tidak terkelola. Vapor chamber dan desain thermal yang matang menjadi pembeda antara HP yang performanya konsisten setelah satu jam gaming dan yang mulai terasa berat. Perhatikan juga touch sampling rate, karena angka 360Hz ke atas terasa bedanya saat bermain FPS atau MOBA kompetitif. Lumayan atau tidak, tangan yang terlatih bisa merasakannya langsung.
Masif tapi berat. Hampir semua perangkat di kelas ini punya kelemahan yang sama: baterai besar berarti bodi lebih tebal dan lebih berat di genggaman. Bisa jadi trade-off yang sepadan, tapi perlu dirasakan sendiri sebelum membeli, jangan cuma lihat angkanya di atas kertas.
Pasar HP gaming murah di 2026, agaknya, sedang di titik terbaiknya bagi konsumen. Pertanyaannya, berapa lama produsen bisa mempertahankan margin sambil terus mendongkrak spesifikasi? Entah kebetulan atau tidak, tren ini belum menunjukkan tanda-tanda melambat.