MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Hormuz Tersumbat, Defisit Minyak Global Menganga d...

Ekonomi

Hormuz Tersumbat, Defisit Minyak Global Menganga dan Fiskal RI Ikut Teruji

Konflik Iran-Israel-AS memangkas sekitar 11 juta barel per hari pasokan minyak global, membalik proyeksi surplus menjadi defisit yang diperkirakan mencapai 3 juta barel per hari pada kuartal II tahun ini.

Serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu bukan sekadar krisis geopolitik. Bagi pasar energi global, itu titik balik yang mengubah seluruh kalkulasi pasokan minyak tahun ini.

Sebelum konflik pecah, konsensus analis masih nyaman dengan proyeksi surplus 1,63 juta barel per hari untuk 2026, ditopang pelonggaran produksi OPEC+ serta output tinggi dari AS, Brasil, dan Guyana. Lalu Selat Hormuz praktis tersumbat. Gambaran itu runtuh seketika.

Survei Reuters terhadap delapan analis kini memperkirakan permintaan minyak global akan melampaui pasokan rata-rata 750.000 barel per hari sepanjang tahun ini. IEA mencatat konflik telah memangkas pasokan sekitar 11 juta barel per hari hingga akhir Maret, sementara ANZ dalam catatannya per 9 April memperkirakan sekitar 9 juta barel per hari sudah hilang dari pasar. Sebagai acuan, total pasokan global pada Januari mencapai 106,6 juta barel per hari.

Defisit terdalam diproyeksikan terjadi di kuartal II, rata-rata sekitar 3 juta barel per hari, sebelum berangsur pulih ke surplus tipis 1,4 juta barel per hari di kuartal IV. Tapi itu skenario yang masih penuh asumsi.

Pemulihan tidak semudah membuka keran. Sekitar 136 juta barel minyak mentah dan produk turunannya masih tertahan di kawasan Teluk. Vikas Dwivedi dari Macquarie Group menunjuk dua hambatan utama: asuransi yang enggan kembali menanggung rute Hormuz, dan risiko pelanggaran sanksi bagi siapa pun yang bertransaksi dengan Iran. Perusahaan asuransi sudah lebih dulu angkat tangan, menolak menanggung kapal-kapal yang melintas di celah 161 kilometer itu sejak konflik meledak.

Iran pun hanya mengizinkan kapal dari negara-negara yang tidak sebarisan dengan Israel dan AS untuk melintas. Akses penuh, belum ada.

ANZ memperkirakan skenario paling optimistis pun hanya menghasilkan 2 hingga 3 juta barel per hari kembali ke pasar pada bulan pertama, disusul tambahan 2 hingga 3,5 juta barel per hari hingga akhir kuartal II. "Gesekan operasional, infrastruktur yang rusak, dan hambatan ekspor berarti pemulihan kemungkinan besar tidak akan berjalan mulus," tulis ANZ. Mereka juga memperingatkan potensi kehilangan kapasitas produksi permanen sekitar 1 hingga 2 juta barel per hari pascaperang, akibat kerusakan infrastruktur yang mungkin tidak bisa dipulihkan penuh.

Harga sudah bergerak duluan. Sejak konflik pecah, minyak melonjak sekitar 50 persen. Analis dalam jajak pendapat Reuters bulan lalu menaikkan estimasi harga Brent 2026 sekitar 30 persen menjadi USD 82,85 per barel.

Di level makro, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebut konflik ini telah "menyebabkan kesulitan besar di seluruh dunia", dengan distribusi minyak global terganggu 13 persen dan pasokan LNG tergerus 20 persen per hari. Angka yang tidak main-main. IMF secara tegas memperingatkan negara-negara agar tidak mengorbankan ketahanan fiskal saat guncangan semacam ini menghantam.

Peringatan itu agaknya paling relevan buat Indonesia. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, lonjakan harga energi langsung menekan subsidi dan asumsi makro APBN. Pertanyaannya, seberapa dalam defisit bisa melebar sebelum pemerintah terpaksa merespons? Bukan lagi skenario terburuk, ini risiko yang perlu diantisipasi sekarang.

Gencatan senjata memang sudah diumumkan sejak Selasa, tapi para pedagang minyak mengaku belum melihat tanda-tanda pemulihan distribusi yang stabil. Pasar, untuk saat ini, masih berjalan dalam ketidakpastian.