Harga minyak dunia sudah di angka US$85 per barel, sementara APBN kita masih berpijak pada asumsi US$70. Selisih itu bukan angka kecil, dan tekanannya langsung terasa ke beban subsidi energi yang harus ditanggung negara.
Eskalasi militer di kawasan Teluk kembali memperkeruh situasi setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur kapal tanker paling krusial di dunia. Dari Senayan, Anggota Komisi XII DPR RI Totok Daryanto menyuarakan kekhawatiran bahwa Indonesia belum cukup siap menghadapi gejolak berkepanjangan semacam ini. Selisih harga minyak yang kian menganga, kata Totok, berpotensi menekan kondisi fiskal jika tidak segera diantisipasi lewat koordinasi antarkementerian yang lebih solid.
Di sisi cadangan, ada sedikit kabar baik. Stok BBM nasional kini sudah naik ke kisaran 29 hari, dari sebelumnya sekitar 21 hari. Cukupkah? Agaknya tidak. Totok menegaskan bahwa Pertamina perlu menargetkan ketahanan minimal satu hingga tiga bulan agar benar-benar aman dari skenario gangguan pasokan yang lebih panjang.
Dewan Energi Nasional punya pandangan yang lebih tajam. Anggota DEN Saleh Abdurrahman menjelaskan bahwa Indonesia sudah mulai mendiversifikasi sumber impor minyak mentah sejak krisis AS-Iran meruncing, termasuk mendatangkan pasokan dari Rusia guna mengurangi ketergantungan pada jalur yang melewati Hormuz. Saat ini impor minyak mentah mayoritas berasal dari Nigeria dan Angola, dua negara yang jauh dari zona konflik Timur Tengah.
Tapi ada celah yang belum tertutup. Produk BBM impor yang masuk dari Singapura bisa ikut terdampak jika krisis meluas ke jalur Bab el Mandeb di Laut Merah. "Dengan berulangnya krisis Timur Tengah ini, kita sudah harus lebih serius menyiapkan cadangan penyangga energi dan memperketat kepatuhan badan usaha untuk memiliki 23 hari cadangan operasional," tegas Saleh.
Di luar soal stok, DEN mendorong akselerasi dua program yang selama ini berjalan lamban: mandatori bioetanol E5 hingga E10 untuk substitusi bensin impor, dan percepatan program biodiesel B50 sebagai penyangga sektor logistik. B50 relatif memberi perlindungan bagi biaya logistik domestik, setidaknya itu klaim Saleh, meski ia mengakui komponen minyak mentah impor dalam proses produksi tetap membuat harga biosolar nonsubsidi rentan terhadap gejolak global.
Buat pelaku pasar, ini bukan sekadar berita geopolitik. Kenaikan harga minyak yang persisten di atas asumsi APBN punya implikasi langsung: potensi pembengkakan anggaran subsidi, tekanan pada neraca perdagangan akibat tagihan impor yang membesar, dan risiko inflasi energi yang menular ke sektor konsumsi. Pertanyaannya, berapa lama ketahanan fiskal kita mampu menyerap selisih US$15 per barel ini? Saham-saham energi dan emiten yang sensitif terhadap harga BBM patut masuk radar dalam beberapa pekan mendatang.