RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Honda Rugi Pertama Kali Sejak 1955, Poros Strategi...

Bisnis

Honda Rugi Pertama Kali Sejak 1955, Poros Strategi Bergeser ke Hibrida

Kebijakan emisi era Trump memaksa Honda mencatatkan kerugian bersih 403,3 miliar yen untuk tahun fiskal 2025, pertama kalinya dalam 70 tahun. Strategi EV besar-besaran kini dibalik arah.

Japanese automaker Honda has reported a major financial loss of nearly $2.7 billion, marking its first annual loss in decades. The company says the decline is mainly due to high electric vehicle

Tujuh dekade tanpa rugi. Rekor itu akhirnya patah juga.

Honda Motor Co. mencatatkan kerugian bersih 403,3 miliar yen, setara sekitar Rp 45,74 triliun, untuk tahun fiskal 2025. Bukan sekadar angka buruk di laporan keuangan. Ini yang pertama sejak 1955, tahun ketika Honda masih menjual sepeda motor kecil di jalanan Jepang pascaperang. Pemicunya bukan krisis produksi, bukan bencana alam. Jawabannya ada di Washington.

Semasa Biden berkuasa, produsen otomotif global berlomba masuk ke ekosistem kendaraan listrik. Aturan emisi diperketat, kredit pajak hingga US$ 7.500 atau sekitar Rp 131,97 juta disiapkan untuk pembeli EV, dan miliaran dolar mengalir ke lini produksi baterai. Honda ikut bermain besar. Terlalu besar, ternyata.

Trump membalik meja. Peraturan emisi ketat warisan Biden dibatalkan, sanksi finansial bagi produsen yang melanggar target emisi dihapus, dan pasar kembali bergerak ke pickup serta SUV berbahan bakar bensin yang marginnya tebal. Bagi Honda, ini berarti nilai investasi EV yang sudah tertanam harus dihapusbukukan. Beban penurunan nilai itu tercatat 1,6 triliun yen, hampir US$ 10 miliar atau Rp 175,96 triliun. Angka yang lebih dari cukup untuk menenggelamkan potensi laba US$ 7,4 miliar yang sebenarnya sudah di tangan.

Honda bukan satu-satunya korban. General Motors membukukan kerugian US$ 7,2 miliar dari pengurangan program EV, meski masih mampu mencetak laba bersih untuk periode itu. Ford lebih dalam lagi: rugi US$ 17,4 miliar. Stellantis, induk dari Jeep, Ram, Dodge, dan Chrysler, mencatatkan yang paling masif, yakni 25,4 miliar euro atau sekitar US$ 29,7 miliar. Industri otomotif global sedang menanggung tagihan dari taruhan yang salah timing.

Lantas ke mana Honda melangkah? Hibrida. Setelah memundurkan ambisi EV-nya, manajemen mengindikasikan fokus dialihkan ke kendaraan hibrida sebagai jalan tengah, teknologi yang sudah matang, margin lebih terjaga, dan tidak terlalu bergantung pada infrastruktur pengisian yang di AS sendiri masih compang-camping. Agaknya Honda memilih pragmatisme ketimbang idealisme, dan kalau data ini bisa dipercaya, pilihannya masuk akal.

Honda menyebut masih ada potensi penurunan nilai investasi EV tambahan di tahun fiskal berjalan, tapi tidak cukup besar untuk memicu kerugian bersih lagi. Satu babak gelap, bukan serial.

Para produsen ini, perlu digarisbawahi, belum sepenuhnya menutup bab kendaraan listrik. Regulasi emisi ketat masih berlaku di Eropa dan sebagian besar Asia, dan sejumlah negara bagian AS pun bergerak sendiri. Pivot ke hibrida ini bisa jadi bukan strategi permanen, melainkan cara bertahan sambil menunggu angin berbalik arah dari Washington. Pertanyaannya, berapa lama mereka sanggup nunggu?