Angka 414,3 miliar yen itu bukan sekadar merah di laporan keuangan. Ini adalah kerugian operasional pertama Honda sejak perusahaan melantai di bursa pada 1957, hampir tujuh dekade silam, sebuah catatan yang agaknya tidak pernah dibayangkan oleh para pendiri pabrikan berlogo H ini.
Satu tahun sebelumnya, Honda masih membukukan laba operasional 1,2 triliun yen. Pembalikan arah ini terjadi bukan karena resesi global atau bencana alam, melainkan karena taruhan besar pada kendaraan listrik yang belum waktunya. Permintaan EV di Amerika Utara ternyata tidak sekuat proyeksi, sementara kebijakan AS turut memperparah situasi, mulai dari pencabutan insentif pajak bagi pembeli kendaraan listrik hingga pemberlakuan tarif yang menghantam struktur biaya Honda.
Tagihannya menyakitkan. Honda memperkirakan biaya restrukturisasi terkait program listriknya bisa mencapai 2,5 triliun yen dalam dua tahun fiskal, April 2025 hingga Maret 2027. Biaya itu mencakup impairment atas program pengembangan yang dihentikan, plus kompensasi kepada para pemasok yang sudah terlanjur diikat kontrak. Proyek besar senilai US$11 miliar di Kanada yang dirancang untuk memproduksi mobil listrik dan baterai kini dihentikan sementara.
CEO Honda Toshihiro Mibe tidak banyak berdalih. "Kami di manajemen menanggapi kerugian ini dengan sangat serius. Kami harus menghentikan kerugian ini secepat mungkin," katanya. Mibe juga mencabut dua target yang sebelumnya digembar-gemborkan: EV menyumbang 20% penjualan pada 2030 dan seluruh lini mobil Honda beralih ke EV atau fuel-cell pada 2040. Keduanya kini resmi masuk tong sampah.
Model-model yang sudah disiapkan pun ikut dikorbankan. Honda 0 SUV, Honda 0 Sedan, dan Acura RSX dibatalkan sebelum sempat menyentuh jalur produksi. Pengakuan pahit bahwa perencanaan awal terlalu optimistis.
Bagi industri otomotif Jepang, kerugian segini masuk kategori bersejarah. Toyota pernah mencatat rugi operasional 461 miliar yen saat krisis finansial global 2008-2009, momen yang kala itu mengguncang seluruh industri. Honda kini mendekati angka itu, tapi bukan karena badai eksternal, melainkan karena pilihan strategis internal yang meleset.
"Ini adalah tonggak suram bagi Honda, tetapi bukan hal yang mengejutkan," ujar Danni Hewson, kepala analisis keuangan di AJ Bell. Pernyataan itu terasa seperti sindiran halus untuk industri yang terlalu terburu-buru memeluk narasi elektrifikasi tanpa mengukur kesiapan pasar.
Honda tidak tinggal diam. Arah baru sudah dipasang: hybrid. Dua prototipe berdaya hibrida ditampilkan, diyakini bakal mengisi jalur produksi mulai 2027, sebagai bagian dari rencana meluncurkan 15 model hybrid hingga 2029. Salah satu prototipe bergaya hatchback, dengan lampu LED ramping dan tampang yang mengkotak, disinyalir sebagai penerus Civic generasi ke-12. Generasi ke-11 yang kini beredar sudah berumur lima tahun, dan berdasarkan pola historis Honda, pergantian generasi Civic biasanya terjadi di rentang enam hingga tujuh tahun. Pertanyaannya, apakah pivot hybrid ini cukup cepat untuk menahan perdarahan?
Sisi bisnis yang masih berdiri tegak adalah sepeda motor. Honda menargetkan penjualan motor mencapai rekor baru 22,8 juta unit tahun ini, ditopang pasar India dan Brasil yang tetap bergairah. Segmen inilah yang dijadikan andalan manajemen untuk menopang kinerja sambil membenahi lini otomotif.
Di Indonesia, gambaran bisnis mobil Honda tidak lebih menggembirakan. Berdasarkan data wholesales Gaikindo untuk April 2026, distribusi mobil Honda ke dealer hanya 2.363 unit. Cukup untuk menempatkan mereka di posisi sembilan merek terlaris nasional, tepat di atas Hino. Bagi merek yang pernah bersaing ketat di papan atas, posisi itu bukan tempat yang nyaman untuk berlama-lama.
Honda memproyeksikan bisa kembali mencetak laba operasional pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027. Target itu masih bisa jadi kenyataan, kalau program efisiensi berjalan dan penjualan motor tidak goyah. Tapi jalan pemulihannya jelas tidak sebentar, dan warisan dari petualangan EV yang salah perhitungan ini masih akan terasa di laporan keuangan beberapa kuartal ke depan.