Surplus neraca dagang Indonesia Januari-Juli 2026 hanya tercatat US$3,70 miliar, ambles sekitar 84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor melonjak hampir 20 persen, ekspor hanya tumbuh 4,4 persen. Angka itu tidak bisa lagi dibaca sebagai fluktuasi musiman biasa.
Konteksnya yang bikin gambaran ini lebih menggigit. Surplus 2025 sebesar US$41,05 miliar pun sejatinya masih bertumpu di atas defisit migas US$19,70 miliar. Fondasi lebih rapuh dari yang terlihat di permukaan.
Pertanyaan yang lebih jujur bukan soal berapa pabrik yang sudah diresmikan. Melainkan: kalau kapal berhenti berlayar besok, berapa lama produksi nasional kita bisa bertahan?
Indeks Kemandirian Strategis Indonesia (IKSI), sebuah alat analitis yang mengukur 20 sektor strategis melalui lima dimensi, merekam sesuatu yang agaknya belum cukup dibahas di ruang kebijakan.
Tunggu. Sebelum lanjut, ada em dash di kalimat itu yang perlu dibenahi. Kembali ke substansi: rata-rata skor IKSI mencapai 64,1. Batu bara dapat skor 91, sawit 88, gas bumi dan sistem pembayaran masing-masing 84. Sekilas menenangkan.
Tapi baca angka berikutnya. Mesin industri hanya dapat skor 39. Elektronika dan semikonduktor 25, terendah dari seluruh sektor yang dianalisis. Impor semikonduktor melonjak dari US$2,33 miliar pada 2020 menjadi US$4,87 miliar pada Januari-November 2025. Ada jarak 46 poin antara enam sektor unggulan yang rata-rata skornya 80,5 dengan input kritis yang menopangnya, yang rata-rata hanya 34,3. Bangunannya terlihat kokoh. Fondasinya belum.
Data perdagangan 2026 memperkuat gambaran itu. Januari-April, impor bahan baku naik 11,67 persen menjadi US$61,82 miliar, sedangkan impor barang modal melonjak 19,02 persen menjadi US$17,11 miliar. Industri memang bergerak, tapi sebagian besar geraknya masih ditopang mesin dan bahan dari luar.
Contoh-contohnya tersebar kalau mau melihat. Ekspor baja mencatat surplus sekitar US$10,70 miliar pada Januari-Juli 2025, bukan angka kecil. Tapi impor otomotif Januari-September 2025 mencapai US$8,26 miliar dan impor komponen otomotif meningkat lebih dari 20 persen. Kita pandai menghasilkan bahan, belum cukup pandai membuat barang jadi dengan komponen dan teknologi yang kita kuasai sendiri.
Sektor kesehatan bahkan lebih telanjang kondisinya. Ada 812 produsen alat kesehatan dalam negeri, tapi jumlah distributornya mencapai 5.661. Sekitar 90 persen bahan baku obat dan 88 persen alat kesehatan masih diimpor. Hilirisasi di atas kertas, ketergantungan dalam kenyataan.
Ekonomis Chatib Basri, dalam konferensi di Yale University pada 11 September 2026, mempersoalkan tiga hal yang mudah diabaikan ketika angka investasi sedang mengkilap: apakah intervensi pemerintah menjawab kegagalan pasar yang nyata, apakah dukungan bisa dihentikan ketika kinerja mengecewakan, dan siapa yang sesungguhnya menikmati rente dibanding kemampuan produktif yang diperoleh negara.
Bedanya tipis tapi krusial. Perusahaan yang menerima fasilitas lalu benar-benar melatih pekerja, mengembangkan pemasok, dan memperbaiki proses, berbeda jauh dari perusahaan yang lebih sibuk mengusahakan perpanjangan perlindungan. Keduanya mungkin mencatat kenaikan laba. Nilai pembangunannya? Jauh berbeda.
Kita punya preseden yang bagus, sebenarnya. Sistem pembayaran digital adalah buktinya. Pada semester I 2026, QRIS mencatat 12,55 miliar transaksi dengan lebih dari 66 juta pengguna dan hampir 45 juta merchant. BI-FAST pada Agustus 2026 memproses 549 juta transaksi senilai Rp1.346 triliun. Kekuatan itu tidak lahir dari proteksi membabi buta, melainkan dari standar nasional yang jelas, kepastian pasar, dan ruang bagi inovasi. Model yang layak direplikasi ke sektor strategis lain, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin.
Tahap berikutnya dari hilirisasi perlu memberi tempat yang jauh lebih besar kepada laboratorium material, pendidikan rekayasa, perawatan mesin, dan desain produk. Infrastruktur pengetahuan ini memang tidak sepopuler peresmian smelter baru. Tapi justru keberadaannya yang membedakan industrialisasi yang berakar dari sekadar kegiatan pengolahan yang mudah bergantung.
Ukuran keberhasilan hilirisasi juga perlu diperluas. Ekspor bruto harus dibaca bersama kandungan impor, nilai tambah domestik, pendapatan pekerja, dan penerimaan negara. Produksi beras 2025 memang mencapai 34,69 juta ton, naik 13,29 persen, dan ekspor perikanan mencapai US$6,27 miliar. Capaian yang tidak perlu dikecilkan. Tapi angka-angka itu belum menjawab seberapa dalam kita menguasai rantai nilainya. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan sebelum kita kena tampar oleh gangguan rantai pasok yang sama sekali di luar kendali kita?
Selama semikonduktor, mesin industri, bahan baku obat, dan komponen strategis lainnya masih sepenuhnya ditentukan oleh pasokan dari luar, label "Indonesia" pada produk kita masih punya syarat yang cukup panjang.