PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) keluar dari RUPST tanggal 30 Juni 2026 dengan wajah kepemimpinan yang cukup berbeda, dan dua nama langsung menyedot perhatian.
Hashim S. Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto yang selama ini dikenal sebagai salah satu investor Surge, kini resmi naik posisi menjadi Komisaris Utama. Ia menggantikan Hermansjah Haryono. Bersama Hashim, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad turut masuk jajaran komisaris.
Perombakan direksi tidak kalah ramai. Yune Marketatmo, yang sebelumnya menjabat Direktur Utama, digantikan oleh Hendrik Tee. Henny Santoso juga resmi masuk sebagai Direktur. Susunan lengkap direksi WIFI kini terdiri dari Hendrik Tee sebagai Direktur Utama, dengan Shannedy Ong, Andrew, Yune Marketatmo, Mohammad Mustaghfirin, dan Henny Santoso sebagai direktur. Di sisi komisaris, selain Hashim dan Fadel Muhammad, ada Doni Satiaji Soetadi yang mengisi kursi Komisaris Independen.
Ada konteks yang membuatnya menarik. Pada 15 Oktober 2025, anak usaha Surge, PT Telemedia Komunikasi, memenangkan tender penggunaan pita frekuensi FWA 1,4 GHz yang digelar pemerintah, menjadi satu dari hanya dua perusahaan pemenang. Sebulan kemudian, Surge meluncurkan layanan Internet Rakyat (IRA) pada 12 November 2025. Masuknya Hashim ke kursi komisaris utama, setelah sebelumnya hanya berstatus investor, agaknya bisa dibaca sebagai konsolidasi kepentingan yang lebih serius di tubuh emiten ini.
"Pengangkatan tersebut mencerminkan komitmen perseroan untuk semakin memperkuat kepemimpinan dan tata kelola perusahaan," kata Direktur WIFI Shannedy Ong dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia. Menurutnya, komposisi dewan yang baru diharapkan memperkuat kualitas pengambilan keputusan strategis, tata kelola, dan fungsi pengawasan.
Di luar soal perombakan pengurus, RUPST juga menyetujui pembagian dividen tunai Rp2 per saham dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp632,9 miliar. Total dividen yang dibagikan tercatat sekitar Rp10,6 miliar. Sisanya, Rp1 miliar, dialokasikan sebagai dana cadangan perseroan.
Satu angka yang patut dicermati: mengacu harga penutupan WIFI di level Rp1.600 per lembar pada 1 Juli 2026, dividend yield yang ditawarkan hanya sekitar 0,125%. Bukan angka yang akan membuat investor income hunting bersemangat. Tapi bagi mereka yang sudah lama pegang saham ini karena cerita pertumbuhan bisnis konektivitas rakyatnya, barangkali dividen bukan poin utama yang mereka tunggu dari RUPST kali ini.