MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Harkopnas ke-79: Purbaya Ingatkan Koperasi sebagai...

Ekonomi

Harkopnas ke-79: Purbaya Ingatkan Koperasi sebagai Tulang Punggung Ekonomi

Di tengah peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dan Presiden Prabowo Subianto kompak menyuarakan penguatan koperasi, meski Prabowo sempat melontarkan sindiran tajam soal "tamu yang tidak tahu diri" di hadapan ribuan peserta.

Purbaya Dorong Penguatan Peran Koperasi sebagai Penggerak Ekonomi

Tepat 79 tahun setelah Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya pada 1947, Indonesia Arena di kawasan Gelora Bung Karno menjadi panggung peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) yang berlangsung Minggu (12/7/2026). Pesan sentralnya satu: koperasi bukan sekadar warisan sejarah, melainkan instrumen ekonomi yang masih sangat relevan hari ini.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memilih momen ini untuk mengingatkan bahwa kekuatan koperasi berakar pada sesuatu yang sulit dibeli modal besar sekalipun: kepercayaan antaranggota dan semangat gotong royong. Lewat akun Instagram resminya, Purbaya menegaskan bahwa semakin kuat koperasi, semakin besar pula kontribusinya terhadap pembangunan nasional. Bukan klaim kosong.

Fondasi itu memang panjang akarnya. Sejak R.A. Wiriaatmadja mendirikan bank simpanan di Purwokerto pada 1896 untuk melindungi pegawai dari jerat lintah darat, gerakan koperasi Indonesia telah melewati lebih dari satu abad pasang surut. Purbaya agaknya ingin mengingatkan bahwa fondasi itu belum usang. "Dari koperasi yang berdaya, Indonesia tumbuh menyambut masa depan yang lebih baik," tulisnya.

Presiden Prabowo Subianto tampil dengan nada yang jauh berbeda di panggung yang sama. Alih-alih berbicara soal statistik atau target pertumbuhan, Prabowo justru menyindir kehadiran pihak-pihak asing yang menurutnya datang ke Indonesia dengan dalih perdagangan, tapi berakhir merampok. "Sudah enggak diundang, datang ke sini, katanya mau dagang, lama-lama ngerampok," ujar Prabowo, kalimat yang langsung disambut tawa dan sorak hadirin.

Prabowo tidak menyebut nama negara atau pihak tertentu secara eksplisit. Ia hanya melempar pancingan kepada hadirin, sempat bertanya kepada Menteri Agama apakah ia boleh bicara apa adanya, sebelum berbalik menggoda para jurnalis yang hadir. "Media nunggu saya bicara kepleset," katanya. Sinyal? Retorika? Kalau data di balik sindiran itu bisa dipercaya, pasar punya alasan tersendiri untuk mencermatinya.

Di luar panggung Jakarta, resonansi Harkopnas ke-79 terasa sampai ke daerah. Desi Triyana, anggota Bawaslu Kabupaten Tulang Bawang, mengambil sudut pandang yang tidak banyak disentuh orang lain: ia menghubungkan nilai-nilai koperasi dengan kesehatan demokrasi. Keterlibatan aktif anggota koperasi, menurut Desi, adalah cerminan dari pengawasan pemilu yang partisipatif. "Semangat kebersamaan yang dimiliki koperasi menjadi contoh bagaimana partisipasi masyarakat dapat menghasilkan manfaat bersama," kata Desi. Kekuatan yang sama, ia percaya, seharusnya menjaga integritas pemilu dari dalam.

Bagi pelaku pasar, narasi penguatan koperasi yang terus disuarakan pemerintah bisa jadi pertanda arah kebijakan jangka pendek, khususnya soal pembiayaan UMKM dan akses modal berbasis komunitas. Koperasi yang berdaya secara finansial akan langsung menekan daya beli segmen menengah bawah, setidaknya itu klaim yang beredar, dan kelompok itu selama ini jadi penyangga konsumsi domestik. Entah kebetulan atau tidak, pesan Purbaya di momentum ini datang persis saat tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional belum juga mereda.