SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Harga Telur dan Ayam Kembali Bergairah, MBG Jadi B...

Ekonomi

Harga Telur dan Ayam Kembali Bergairah, MBG Jadi Bahan Bakarnya

Setelah sempat jeblok ke Rp15.000 per kg di tingkat peternak, harga telur ayam ras kini mulai pulih seiring masuk sekolah dan beroperasinya kembali SPPG untuk program Makan Bergizi Gratis.

Bapanas sebut harga telur mulai pulih usai sempat anjlok - ANTARA News Jambi

Dua pekan lalu, harga telur di kandang menyentuh Rp15.000 per kilogram. Angka yang membuat peternak merugi dan pemerintah kelimpungan. Kini angka itu perlahan bergerak ke atas.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga telur ayam ras di tingkat peternak sudah merangkak ke kisaran Rp22.000-Rp23.000 per kilogram per 20 Juli 2026, naik dari titik terendahnya di Rp15.000-Rp16.000 beberapa pekan sebelumnya. Di pasar tradisional, data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat harga rata-rata nasional telur ayam ras sudah menyentuh Rp31.300 per kilogram pada 20 Juli, naik dari Rp29.000 per kilogram pada 14 Juli. Pemulihan yang cukup tajam dalam waktu singkat.

Tiga faktor disebut sebagai pemicu rebound ini: berakhirnya bulan Suro (Muharam) yang secara kultural menekan permintaan, dimulainya kembali tahun ajaran baru, dan yang paling krusial adalah beroperasinya kembali Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis. Kombinasi ketiganya memukul permintaan secara bersamaan saat libur, dan sekarang bangkit bersamaan pula. Bak gayung bersambut, tapi di sisi produsen.

"Masuknya anak-anak sekolah, mau tidak mau, suka tidak suka, pengaruh dampak MBG ini demikian terasa, bahkan dari telur saja," kata Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq saat meninjau Pasar Tebet Timur, Jakarta, Senin (20/7/2026).

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyebut pemulihan ini belum mencapai level ideal. Harga normal telur di tingkat peternak seharusnya berada di kisaran Rp24.000-Rp25.000 per kilogram, artinya masih ada gap yang perlu ditutup. "Jangan sampai peternak kita harganya terlalu jatuh sekali. Nanti mereka tidak mau berproduksi, masa kita impor lagi?" tegas Ketut.

Gejala serupa terlihat pada daging ayam potong. Di Pasar Gede Kota Solo, harga ayam kini berada di Rp35.000-Rp36.000 per kilogram, naik sekitar Rp5.500 hanya dalam dua hari terakhir. Saat libur sekolah Juni lalu, harga sempat turun ke Rp30.000 per kilogram. Pedagang di sana, Hartiningsih, menyebut tren kenaikan mulai terasa sejak 10 Juli, tepat saat sekolah kembali dibuka. "Pas liburan sekolah dan MBG libur, harga memang murah. Sekarang MBG mulai jalan, harganya melambung," katanya.

Program MBG yang dirancang untuk memastikan gizi anak sekolah kini nyata-nyata menjadi salah satu penentu harga pangan di tingkat produsen. Ini bukan sekadar program sosial. Entah kebetulan atau tidak, volatilitas harga telur dan ayam kini ikut berirama dengan kalender akademik.

Soal inflasi, Ketut mengakui kenaikan harga telur akan mendorong inflasi pangan bergejolak (volatile food). Tapi pemerintah agaknya tak terlalu khawatir selama harga masih bergerak dalam rentang harga acuan. "Pemerintah menjaga ritmenya jangan terlalu tinggi, jangan terlalu rendah. Pada saat rendah diintervensi, pada saat tinggi juga diintervensi," jelasnya.

Bagi peternak, pemulihan ini jelas kabar baik setelah sebulan penuh menanggung harga di bawah biaya produksi. Bagi konsumen dan pedagang eceran, kenaikan Rp5.000-an per kilogram dalam waktu singkat sudah cukup untuk membuat sebagian pembeli berbalik arah, apalagi mereka yang terbiasa membandingkan dengan harga live-selling di TikTok yang kerap lebih murah. Pasar tradisional kembali harus bersaing keras dari kandang yang tidak bisa mereka kendalikan, dan kali ini pemicunya bukan pasar bebas, tapi kebijakan pemerintah sendiri.