SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Harga Minyak Menahan Napas, Pasar Intip Pertemuan...

Bisnis

Harga Minyak Menahan Napas, Pasar Intip Pertemuan Trump-Xi di Beijing

Brent dan WTI sama-sama menguat tipis pada Kamis pagi setelah dua sesi sebelumnya tertekan. Fokus pasar kini tertuju ke Beijing, di mana Trump dan Xi Jinping membahas konflik Iran yang telah mengunci Selat Hormuz selama hampir tiga bulan.

Harga Minyak Menguat Tipis, Pasar Tunggu Kabar dari Beijing

Dua sesi melemah cukup. Harga minyak dunia kembali mengangkat kepala pada Kamis (14/5/2026), meski penguatannya masih terasa sangat hati-hati.

Brent crude tercatat di US$105,88 per barel sekitar pukul 10.16 WIB, naik 0,24% dari penutupan Rabu di US$105,63. WTI bergerak searah, menguat 0,26% ke US$101,28 per barel dari posisi sebelumnya US$101,02. Kenaikan memang kecil, tapi cukup berarti setelah Brent sempat rontok lebih dari US$2 dan WTI lebih dari US$1 di sesi sebelumnya.

Tekanan kemarin datang dari kekhawatiran suku bunga AS. Harga energi yang masih tinggi membuat inflasi sulit jinak, dan pasar mulai menghitung skenario di mana the Fed tidak punya ruang untuk melonggar, atau bahkan kembali mengetatkan. Bukan kabar bagus buat permintaan minyak.

Tapi Kamis ini, ada isu yang jauh lebih besar menyita perhatian.

Presiden Donald Trump bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing, dan agenda pembicaraan mereka jauh lebih kompleks dari sekadar tarif dagang. Hubungan AS-China yang masih rapuh, penjualan senjata ke Taiwan, dan konflik Iran semuanya terseret masuk meja perundingan. Soal Iran, Trump agaknya ingin mendorong Beijing untuk ikut membujuk Teheran agar mau duduk bersama Washington.

Logikanya masuk akal. Perang Iran yang pecah akhir Februari lalu telah memukul pasokan minyak global dengan keras. Selat Hormuz, jalur energi terpenting di planet ini, masih sebagian besar tertutup sampai sekarang. Setiap hari penutupan itu berlanjut, defisit pasokan global semakin dalam.

Masalahnya, China dan Iran punya sejarah panjang sebagai mitra strategis. Pelaku pasar meragukan apakah Xi akan bersedia menekan Teheran sekeras yang diinginkan Washington. Bisa jadi Beijing memainkan dua sisi sekaligus. Kalau itu yang terjadi, hasil pertemuan ini jelas sulit diprediksi.

Iran sendiri justru makin mempererat cengkeramannya di Selat Hormuz, bukan melonggarkannya. Teheran bahkan mulai menjalin jalur distribusi alternatif bersama Irak dan Pakistan untuk minyak dan gas alam cair dari kawasan tersebut. Langkah yang, entah kebetulan atau tidak, memberi sinyal mereka siap bermain panjang.

Gambaran pasokan global pun sudah berubah drastis. Ekspektasi surplus yang sempat beredar di awal tahun kini berbalik. Yang tersisa proyeksi defisit, karena gangguan produksi Timur Tengah lebih besar dan berlangsung lebih lama dari yang diantisipasi. Permintaan sisi konsumsi belum menunjukkan tanda-tanda menyusut.

Pertanyaannya, berapa lama pasar bisa bersabar menunggu terobosan dari Beijing? Kalau pertemuan ini tidak menghasilkan apa-apa terkait Iran, opsi yang tersisa buat Washington makin sempit. Pasar sudah mulai memasukkan kemungkinan eskalasi militer lanjutan sebagai skenario yang tidak bisa diabaikan lagi.

Harga minyak di atas US$100 per barel bukan anomali. Selama Selat Hormuz belum benar-benar terbuka, ini normal baru.