SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Harga Emas Dihajar Minyak dan Ancaman Stagflasi

Bisnis

Harga Emas Dihajar Minyak dan Ancaman Stagflasi

Emas spot ditutup melemah 0,41% ke US$ 4.715,33 per ons troi pada Selasa malam, tertekan lonjakan minyak mentah lebih dari 3% yang memicu kekhawatiran stagflasi global dan mempertebal ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.

Harga Emas Rontok, Minyak Meledak - Halaman all

Emas ditutup di zona merah Selasa malam. Bukan karena satu sentimen tunggal, tapi karena tiga hal sekaligus menghantam dalam waktu bersamaan: minyak mentah meledak, data inflasi AS yang keras kepala, dan harapan damai dengan Iran yang nyaris padam.

Harga emas spot tergerus 0,41% ke US$ 4.715,33 per ons troi. Kontrak berjangka AS ikut amblas, turun 0,13% ke US$ 4.722,7. Bukan koreksi yang bikin panik, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa emas bukan aset anti-peluru.

Pemicunya bermula dari geopolitik. Presiden Donald Trump menyebut prospek gencatan senjata dengan Iran kini dalam kondisi life support setelah Teheran menolak proposal perdamaian dari Washington. Pasar langsung bergerak: minyak mentah dunia melonjak lebih dari 3%. Dan di sinilah ironisnya, kenaikan minyak yang lazimnya mengerek permintaan safe haven justru berbalik menekan emas.

Mengapa bisa begitu? Minyak mahal berarti inflasi merayap naik. Inflasi naik berarti bank sentral terpaksa mempertahankan, bahkan berpotensi mengerek, suku bunga. Suku bunga tinggi adalah musuh lama emas.

"Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko bank sentral AS dan negara lain harus menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang berpotensi memicu stagflasi. Itu sebabnya emas tertekan," kata Kepala Strategi Komoditas TD Securities, Bart Melek.

Data AS memperparah situasi. Inflasi konsumen April naik untuk bulan kedua berturut-turut, mencatat lonjakan tahunan terbesar dalam hampir tiga tahun terakhir. Angka yang, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, cukup untuk memaksa The Fed menutup rapat pintu pivot. Rabu ini pasar menantikan rilis Producer Price Index sebagai konfirmasi tambahan.

Tidak semua pihak melihatnya suram.

UBS Investment Bank tetap kukuh di posisi bullish. Strategi Logam Mulia UBS, Joni Teves, menilai fundamental penggerak harga emas masih cukup kuat. "Kami masih melihat harga emas berpotensi pulih dari level saat ini dan kembali mencetak rekor tertinggi baru tahun ini," ujarnya. Bagi investor dengan horizon menengah, koreksi seperti ini bisa jadi bukan alarm, melainkan entry point.

Satu faktor lain yang agaknya belum sepenuhnya dihitung pasar: pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, dijadwalkan 14-15 Mei. Entah kebetulan atau tidak, momen ini bertepatan dengan ketidakpastian geopolitik yang sedang panas. Hasilnya bisa ke mana saja.

Di pasar logam lainnya, perak spot terkoreksi 0,54% ke US$ 86,58 per ons setelah sempat menyentuh level tertinggi dua bulan. Tertekan, tapi analis SP Angel masih melihat prospek perak positif, didorong permintaan fisik yang meningkat dan potensi defisit pasokan global, terutama seiring ekspansi panel surya dan kendaraan listrik. Platinum dan palladium juga melemah, masing-masing ke US$ 2.131,19 dan US$ 1.495,77 per ons.

Dua narasi yang berlawanan. Jangka pendek terjepit inflasi dan ancaman suku bunga; jangka panjang, ceritanya masih hidup.