SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Harga CPO Diprediksi Bergejolak Pekan Ini, Pasar P...

Finansial

Harga CPO Diprediksi Bergejolak Pekan Ini, Pasar Pantau Investigasi Eksportir Indonesia

Pergerakan harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives diprediksi volatil pekan ini, tertekan stok tinggi 2,4 juta ton sekaligus mendapat dukungan dari investigasi pemerintah Indonesia terhadap sekitar 20 perusahaan eksportir sawit.

Harga CPO Diprediksi Volatil Pekan Ini, Pasar Pantau Faktor Ini - Halaman all

Kontrak CPO September 2026 di Bursa Malaysia Derivatives ditutup di level 4.561 Ringgit Malaysia per ton pekan lalu, naik 59 Ringgit. Penguatan serupa terjadi di seluruh posisi kontrak berjangka, dari Juni hingga November 2026.

Tapi jangan terlalu terburu optimistis. Pekan ini, harga minyak sawit mentah alias crude palm oil diprediksi masih bergejolak. Salah satu alasannya sederhana: libur panjang Malaysia. Bursa Malaysia Derivatives tidak beroperasi pada 1 dan 2 Juni 2026, sehubungan dengan Hari Ulang Tahun Yang di-Pertuan Agong dan libur pengganti Hari Waisak, dan baru kembali buka Rabu kemarin. Volume tipis saat libur panjang hampir selalu berujung pada fluktuasi yang lebih tajam dari biasanya.

Jim Teh, senior Palm Oil Trader Interband Group of Companies, memperkirakan harga akan bergerak di kisaran 4.200 hingga 4.250 Ringgit Malaysia per ton dalam waktu dekat. Jauh di bawah level penutupan pekan lalu. Sinyal bahwa koreksi masih menjadi skenario yang perlu diantisipasi.

Satu variabel yang agaknya mulai menggeser kalkulasi pasar adalah investigasi pemerintah Indonesia terhadap sejumlah eksportir sawit. Penyelidikan difokuskan pada dugaan praktik under-invoicing, pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari nilai sebenarnya. Sekitar 20 perusahaan di industri CPO masuk radar otoritas, dengan 10 perusahaan besar jadi prioritas utama. Bagi pelaku pasar, ini bisa dibaca dua arah: tekanan regulasi yang mempersempit ruang gerak ekspor, atau sinyal bahwa Jakarta serius membenahi tata kelola industri yang selama ini dinilai tidak transparan. Pertanyaannya, cukup dalam mana investigasi ini akan menggigit?

Dari sisi fundamental, stok minyak sawit Malaysia masih bertengger di sekitar 2,4 juta ton. Level yang secara historis cukup berat untuk menekan harga. Pasokan setebal ini membatasi ruang kenaikan, terlepas dari sentimen positif yang sesekali muncul dari sisi permintaan.

Permintaan fisik sendiri tidak absen. China, India, Pakistan, negara-negara Timur Tengah, Uni Eropa, hingga Amerika Serikat masih tercatat aktif menyerap. Faktor musiman seperti potensi gangguan produksi akibat El Niño pun masih membayangi, menopang ekspektasi pasokan yang lebih ketat di kuartal-kuartal berikutnya.

Di sisi kebijakan domestik, pemerintah Indonesia telah menetapkan tarif bea keluar dan pungutan ekspor sawit untuk Juni 2026, seiring penurunan harga referensi CPO di periode terbaru. Perubahan tarif ini langsung menggigit kalkulasi margin eksportir, dan bisa jadi turut menjelaskan mengapa praktik under-invoicing terasa lebih menggiurkan bagi sebagian pemain. Entah kebetulan atau tidak, investigasi dan perubahan tarif ini hadir bersamaan.

Bagi investor yang mengantongi saham emiten perkebunan di Bursa Efek Indonesia, pekan ini layak dicermati lebih serius dari biasanya. Volatilitas di bursa komoditas Malaysia kerap menular ke sektor ini. Dua sentimen yang saling tarik, stok tinggi di satu sisi dan investigasi ekspor di sisi lain, membuat arah pasar pekan ini belum mudah ditebak.