Harga beras naik di semua lini rantai distribusi sepanjang Mei 2026, tapi petani sebagai produsen utamanya agaknya bukan pihak yang paling banyak ketiban untung.
Data BPS menunjukkan harga beras di tingkat penggilingan mencapai Rp13.765 per kilogram, naik 8,10% dibanding Mei tahun lalu. Di tingkat grosir, angkanya Rp14.574 per kilogram. Konsumen eceran membayar Rp15.358 per kilogram, 4,55% lebih mahal dari setahun sebelumnya. Kenaikan ini cukup konsisten untuk mendorong inflasi nasional Mei ke level 0,28% secara bulanan dan 3,08% secara tahunan, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil 0,12%.
Selisih antara harga penggilingan dan harga eceran itu hampir Rp1.600 per kilogram. Ruang yang selama ini diperebutkan banyak tangan sebelum beras sampai ke meja makan. Petani, ironisnya, sudah lebih dulu keluar dari permainan itu.
"Problem-nya sebagaimana sudah umum diketahui, distribusi pangan ini sekarang tidak dikuasai oleh petani. Sebelumnya banyak dikuasai korporasi-korporasi, belakangan Bulog juga berperan. Problem-nya banyak stok beras dan gabah itu tidak di petani," kata Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih. Ketimpangan penguasaan stok itu yang membuat lonjakan harga di pasar tidak sepenuhnya mendarat di tangan yang menanam.
Gambaran konkret soal ini terlihat di Banjarmasin. Di Pasar Sentra Antasari, beras Banjar jenis usang seperti Siam Arjuna, Unus Madu, dan Mayang sudah dijual Rp15.000 hingga Rp19.000 per liter. Kenaikannya bisa Rp30.000 sampai Rp50.000 per karung dalam beberapa pekan saja. Pemicunya bukan sekadar permintaan tinggi, melainkan kombinasi stok terbatas dan ongkos produksi yang ikut merangkak.
Di hulu, masalahnya lebih struktural. Harga benih padi Siam Unus, misalnya, sudah menyentuh Rp150.000 per belek atau sekitar 6 kilogram, naik dari sebelumnya Rp120.000. Ketua Kelompok Tani Sekeluarga di kawasan Sungai Lulut Dalam, Ahmatsyah, menyebut kelangkaan benih terjadi karena petani terbiasa menjual seluruh hasil panen tanpa menyisihkan sebagian untuk musim berikutnya. Minimnya fasilitas penyimpanan memperparah kondisi ini. Benih langka, biaya naik, margin tergerus sebelum harga jual sempat terkerek.
Henry dari SPI tidak melihat solusi dari persoalan ini cukup dengan memperbesar kapasitas Bulog semata. Yang dia usulkan lebih fundamental. "Harusnya dihidupkan korporasi-korporasi petani untuk mempunyai fasilitas pengeringan padi, gudang-gudang padi dan beras, juga penggilingannya yang harus disiapkan," ujarnya. Kalau fasilitas pascapanen terkonsentrasi di satu lembaga saja, biaya kelola makin mahal dan kapasitas simpan bisa jadi batu sandungan ketika produksi melonjak.
"Petani perlu dikasih peran. Perlu berkoperasi. Bisa mandiri. Kalau semuanya terkonsentrasi, akan sulit bertahan dalam jangka panjang," tegasnya.
Sudah berapa musim panen kita mendengar diagnosa yang sama? Selisih harga gabah dan beras eceran terus melebar, inflasi pangan terus dicatat, rekomendasi penguatan koperasi petani terus diulang. Benih langka di Banjarmasin, stok dikuasai korporasi di Jakarta, petani di mana-mana sama-sama menunggu giliran menikmati kenaikan harga yang justru mereka sendiri yang memulainya dari sawah.