SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Harga Bensin AS Tembus USD4,16 per Galon, Sopir Tr...

Ekonomi

Harga Bensin AS Tembus USD4,16 per Galon, Sopir Truk Houston Kena Tampar Paling Keras

Rata-rata harga bensin di AS tembus USD4,16 per galon dan solar USD5,67, dipicu perang dengan Iran yang menghantam pasokan minyak global. Warga Amerika mulai memangkas konsumsi, sementara Iran menasihati AS untuk "menikmati" harga saat ini.

Amerika Serikat memproduksi lebih dari 13 juta barel minyak per hari. Toh, warganya kini antre di SPBU sambil menghitung receh.

Rata-rata harga bensin di negeri itu sudah menyentuh USD4,16 per galon (sekitar Rp70.600) pada awal April 2026, melonjak tajam dari level di bawah USD3 di awal tahun. Solar lebih parah lagi: USD5,67 per galon. Di SPBU dekat Gedung Putih, harga bensin berkisar antara USD4,10 hingga USD5,80 per galon. Enam bulan lalu, angka-angka itu nyaris tidak terbayangkan.

Biang keroknya sudah jelas: perang AS-Israel melawan Iran yang kini memasuki minggu keenam. Para analis menyebut konflik ini sebagai salah satu gangguan pasokan minyak terparah dalam sejarah modern. Fasilitas produksi di kawasan Timur Tengah terdampak, jalur pengiriman praktis tertutup, dan sekitar 2 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak regional dilaporkan tidak beroperasi akibat kerusakan selama perang, menurut kalkulasi analis Macquarie.

Yang paling kena tampar? Sopir-sopir truk.

Eddie Esquivel, sopir truk asal Houston, Texas, menghitung tagihan solar mingguannya nyaris dua kali lipat, dari USD800-900 sebelum perang menjadi USD1.600-1.700 sekarang. "Harga ini sangat memukul. Dulu solar sekitar USD2 per galon, sekarang bisa mencapai USD6," katanya di SPBU QuikTrip, South Houston. "Anda harus membayar cicilan truk, beli ban, ganti oli, dan menafkahi keluarga. Ini benar-benar mematikan kami," tambahnya.

Bukan hanya sopir truk. Pat Ouedraogo, warga Boston, memangkas perjalanan jarak jauhnya. Seorang calon mahasiswa hukum bernama Skyler Burke rela berkendara lebih jauh hanya demi SPBU dengan harga sedikit lebih murah. David Wright, pialang di Houston, bahkan memutuskan ganti mobil ke kendaraan listrik. "Ini situasi di mana Anda merasa tidak berdaya menghadapi harga ini," kata Ouedraogo, saat mengisi bensin SUV Nissan-nya di SPBU Shell seharga USD4,99 per galon.

Secara agregat, kenaikan ini bukan angka receh. Pengeluaran bensin dan solar di AS melonjak USD10,4 miliar pada periode 1 Maret hingga 10 April dibanding tahun lalu, menurut Patrick De Haan dari GasBuddy. Permintaan pun mulai amblas: pada pekan sebelum Paskah, konsumsi bensin hanya 8,6 juta barel per hari, turun 9% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Satu indikator yang agaknya paling mengejutkan: transaksi pinjaman gadai naik 9% ketika harga bensin melewati USD4 per galon, menurut Tim Jugmans dari EZCORP.

Dari Teheran, respons yang datang justru terasa seperti ejekan.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, yang memimpin delegasi negosiasi dengan AS di Islamabad, mengunggah peringatan di platform X. "Nikmati harga bensin saat ini. Dengan apa yang disebut 'blokade' itu, tak lama lagi Anda akan merindukan harga bensin USD4-5," tulisnya, lengkap dengan tangkapan layar harga bensin di SPBU sekitar Gedung Putih. Sarkasme yang, kalau dipikir-pikir, cukup efektif.

Trump sendiri, ketika ditanya Fox News soal kapan harga bisa turun, menjawab harga kemungkinan tetap tinggi hingga pemilihan paruh waktu November. Bukan persis jawaban yang menghibur.

Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian mengumumkan blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran. Ancaman itu langsung disambut Laksamana Muda Shahram Irani, komandan Angkatan Laut Iran, dengan kalimat yang tidak kalah pedas: blokade AS di Selat Hormuz disebutnya "sangat konyol dan menggelikan," seraya menegaskan bahwa setiap pergerakan armada AS di kawasan itu dipantau ketat.

Tidak ada pemulihan cepat. Itu kesimpulan Wei Ren Gan, analis Rystad. Premi risiko geopolitik akan bertahan, harga turun perlahan tapi tetap di atas level sebelum perang. Bagi jutaan konsumen AS, musim panas tahun ini akan menjadi yang paling mahal di pompa bensin dalam beberapa tahun terakhir, kalau data ini bisa dipercaya sebagai patokan.

Ironi terbesarnya memang di situ: raja produksi minyak dunia, tapi rakyatnya sendiri yang paling merasakan pedihnya geopolitik energi global.