SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Harga Batubara China Tembus 1.000 Yuan, Pasokan In...

Ekonomi

Harga Batubara China Tembus 1.000 Yuan, Pasokan Indonesia Ikut Menyusut

Harga batubara termal China melesat ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, menembus 1.004 yuan per ton, dipicu produksi domestik yang lesu dan terhambatnya pasokan dari Indonesia di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.

Pasokan Mengetat, Harga Batubara China Melesat

Harga batubara termal China dihajar dari segala penjuru sekaligus. Produksi domestik loyo, pasokan dari Indonesia menyusut, dan konflik bersenjata di Timur Tengah mengerek harga energi alternatif. Hasilnya: 1.004 yuan per ton pada Senin (12/10/2026), menembus level psikologis 1.000 yuan untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

Angka itu bukan tiba-tiba. Sejak pertengahan Juli 2026, harga sudah merayap naik sekitar 25 persen dan kini bertengger di posisi tertinggi dalam tiga tahun. Di pasar global, harga acuan batubara Newcastle untuk kontrak November 2026 melesat ke US$151,55 per ton, kontrak Desember tercatat US$152,75 per ton. Rotterdam tidak ketinggalan: kontrak November melonjak ke US$148 per ton.

Pemicu terbesar tetap soal pasokan domestik China. Produksi batubara negeri itu turun lebih dari 3 persen sepanjang Januari-Agustus 2026 secara tahunan, buntut dari pengetatan pengawasan keselamatan tambang setelah kecelakaan fatal di Provinsi Shanxi pada Mei lalu. Para pelaku pasar tadinya memperkirakan pemulihan kapasitas produksi sekitar 31 juta ton di Shanxi bisa rampung sebelum akhir tahun. Kenyataannya, proses persetujuan pembukaan kembali tambang berjalan lebih lambat dari yang diantisipasi. Menjelang pertemuan besar Partai Komunis China akhir Oktober, agaknya Beijing tidak akan terburu-buru melonggarkan pembatasan.

Gangguan logistik memperpanjang derita. Pemeliharaan jalur kereta api pengangkut batubara selama tiga pekan hingga 26 Oktober 2026 berpotensi memperketat distribusi lebih lanjut dan menahan harga tetap tinggi.

Dari sisi impor, Indonesia juga tidak datang membawa kabar baik. Pemerintah secara aktif membatasi produksi lewat pengetatan RKAB demi mendongkrak harga sekaligus menjaga penerimaan negara. El Nino memperparah keadaan: permukaan air sungai di sejumlah wilayah penghasil batubara turun, memaksa operator tongkang mengurangi muatan. Dua tekanan ini saling menjepit volume ekspor yang masuk ke China.

Faktor ketiga datang dari Timur Tengah. Perang AS-Iran menghambat pengiriman LNG dari Qatar melalui Selat Hormuz, mendorong permintaan batubara sebagai bahan bakar alternatif pembangkit listrik. Batubara masih menyumbang sekitar separuh bauran listrik China. Tekanan dari sisi LNG ini praktis memperkuat posisi batubara di saat yang paling pas.

Bagi produsen Indonesia, situasi ini ibarat gayung bersambut, setidaknya di atas kertas. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan produksi 49,5 juta ton sepanjang 2026 dan tengah mengajukan usulan RKAB untuk 2027 kepada Kementerian ESDM. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Tri Winarno menyebut total produksi batubara nasional berada di kisaran 720 juta ton, dengan revisi RKAB semester II-2026 yang persetujuannya sudah mencapai 95 persen per akhir September.

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menekankan bahwa perseroan tetap mendahulukan kebutuhan domestik sebelum mengejar peluang ekspor. Dalam siaran pers Minggu (4/10/2026), ia menyatakan kepastian regulasi dan ketepatan waktu persetujuan RKAB penting untuk mengoptimalkan logistik, merencanakan kebutuhan kontraktor, dan menyusun perjanjian komersial. PTBA juga tengah mengurus persetujuan penggunaan PT Satria Bahana Sarana sebagai afiliasi jasa kontraktor penambangan, menyusul terbitnya Kepmen ESDM Nomor 365.K/MB.01/MEM.B/2026 yang ditetapkan 18 September 2026.

Ketua Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo mengingatkan bahwa keterlambatan persetujuan RKAB bukan sekadar masalah administrasi. Dampaknya merambat ke seluruh rantai: dari perencanaan DMO, penentuan volume ekspor, sampai kontrak jangka panjang dengan pembeli asing. Kalau RKAB molor, peluang yang terbuka lebar di pasar China bisa terlewat begitu saja.

Musim dingin sudah di depan pintu, dan China butuh lebih banyak batubara. Pertanyaannya sekarang bukan apakah harga akan naik lebih jauh, melainkan seberapa cepat produsen Indonesia bisa memastikan rantai pasoknya berfungsi untuk menangkap momentum ini.