SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Hanya 1 dari 5 Pekerja Global Merasa Aman dari AI,...

Tekno

Hanya 1 dari 5 Pekerja Global Merasa Aman dari AI, Produktivitas Ikut Jadi Korban

Laporan ADP People at Work 2026 yang mencakup 39.000 pekerja dari 36 negara menemukan fakta mengkhawatirkan: hanya 22% pekerja global yang yakin pekerjaan mereka tidak akan digeser oleh kecerdasan buatan, meski data pasar tenaga kerja secara makro justru menunjukkan kondisi yang kuat.

Jensen Huang dan pejabat Jepang dalam acara peluncuran AI fisik di Tokyo

Angka 22% itu seharusnya membuat banyak eksekutif HR berhenti sejenak dan berpikir ulang.

Laporan People at Work 2026 yang dirilis ADP, hasil survei terhadap lebih dari 39.000 pekerja dewasa dari 36 pasar global, menemukan bahwa hanya seperlima pekerja di dunia yang benar-benar percaya pekerjaan mereka aman dari ancaman kecerdasan buatan. Di Eropa angkanya bahkan lebih suram: 21%. Di Inggris sedikit lebih baik, satu dari empat pekerja atau 25%, tapi "lebih baik" di sini masih jauh dari kata nyaman.

Kondisi ketenagakerjaan secara makro sebenarnya sedang kuat. Pengangguran rendah, permintaan tenaga kerja masih ada. Tapi perasaan pekerja tidak mencerminkan data itu sama sekali, dan inilah yang membuat temuan ini terasa paradoks. Jeff Phipps, SVP dan GM ADP UK & NI, menyebut ini kesenjangan yang nyata. "Dunia kerja berubah dengan cepat, dan temuan kami mengungkapkan kesenjangan antara apa yang dikatakan pasar tenaga kerja kepada kami dan apa yang dirasakan karyawan," ujarnya.

Kesenjangan itu tidak merata. Pekerja berbasis pengetahuan tercatat lebih percaya diri, dengan 34% di Inggris mengaku merasa aman. Bandingkan dengan pekerja di peran berulang, yang hanya 19%-nya yakin pekerjaan mereka tidak dalam risiko. Tugas-tugas repetitif memang jadi sasaran pertama otomasi. Bukan asumsi, bukan spekulasi. Sudah terlihat di lantai-lantai pabrik dan pusat data selama beberapa tahun terakhir.

Yang agaknya mengejutkan adalah soal ukuran perusahaan. Pekerja di perusahaan besar justru lebih tidak percaya diri, hanya 22% yang merasa aman, jauh di bawah pekerja di perusahaan menengah yang mencapai 36%. Semakin besar organisasi, komunikasi internal soal roadmap AI mereka bisa jadi semakin kabur di mata karyawan biasa. Di Eropa pola ini berbalik, tapi itu tidak berarti masalahnya hilang. Hanya berbeda bentuknya.

Apa konsekuensinya? Bukan sekadar urusan mental karyawan. ADP menghubungkan langsung rasa tidak aman ini dengan penurunan produktivitas dan loyalitas. Pekerja yang cemas soal masa depan perannya tidak akan memberikan kinerja terbaik mereka, dan lebih mudah tergoda hengkang saat ada tawaran lain. Pahit, memang. Bagi perusahaan yang sedang besar-besaran berinvestasi di teknologi AI, transformasi yang seharusnya mendongkrak efisiensi justru bisa menggerus fondasi SDM-nya sendiri.

Rekomendasi ADP ke pengusaha tegas: transparansi dan investasi keterampilan bukan pilihan, tapi keharusan. "Orang-orang ingin tahu bahwa ada tempat bagi mereka saat organisasi mereka berkembang, dan bahwa mereka akan didukung untuk sampai ke sana," kata Phipps. Kalau itu tidak diberikan, karyawan akan menarik kesimpulan sendiri, dan biasanya kesimpulan itu tidak menguntungkan perusahaan. "Bisnis yang menangani ini dengan serius, berinvestasi dalam keterampilan dan jujur tentang perubahan, adalah yang melihat hasilnya dalam hal kinerja orang dan apakah mereka bertahan," tegasnya.

Pertanyaannya kini bukan lagi seberapa cepat perusahaan mengadopsi AI. Seberapa jujur mereka ngobrol soal itu dengan orang-orang yang paling terdampak.