RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Haji Isam Incar 62% Saham BYAN, IHSG Bergairah Ham...

Bisnis

Haji Isam Incar 62% Saham BYAN, IHSG Bergairah Hampir 2 Persen

Jhonlin Group kabarnya tengah bersiap mengakuisisi 62,2 persen saham PT Bayan Resources Tbk dari tangan Dato' Low Tuck Kwong. Aksi korporasi ini berpotensi menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia.

Kalkulasi Potensi Upside Saham BYAN Jika Rumor Haji Isam Ambil Alih dari Low Tuck Kwong Jadi Kenyataan

Sinyal itu datang bukan dari keterbukaan informasi di IDX, melainkan dari sebuah kunjungan lapangan di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (15/8/2026), yang gambarnya beredar di media sosial dan langsung membakar imajinasi pelaku pasar.

Andi Syamsuddin Arsyad, atau Haji Isam, hadir bersama Dato' Low Tuck Kwong selaku pemegang saham pengendali PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan Norman Joesoef, pemilik Republik Korpora Indonesia (RKI). Yang membuat pertemuan itu berbeda bukan sekadar foto bersamanya, tapi kehadiran jajaran direksi dari ketiga entitas sekaligus, dengan agenda yang konon membahas teknis konsolidasi aset dan penyelarasan strategi bisnis. Ini bukan kunjungan wisata tambang.

Rumor yang beredar cukup spesifik: Jhonlin Group akan mengakuisisi 62,2 persen saham BYAN. Angka itu bukan sembarangan. Kepemilikan Low Tuck Kwong sebesar 40,25 persen ditambah Elaine Low sebesar 22 persen menghasilkan total 62,25 persen. Pas. Artinya, yang tengah dibicarakan adalah penjualan seluruh porsi keluarga Low di emiten batu bara terbesar ini.

Pasar tidak menunggu konfirmasi resmi. Pada penutupan Jumat (14/8/2026), saham BYAN sudah melejit 20 persen ke harga Rp14.400, mendorong kapitalisasi pasar ke Rp480 triliun. IHSG ikut terkerek, naik 1,5-2 persen ke level 6.401,89, setara kenaikan lebih dari 100 poin. Emiten-emiten terafiliasi Jhonlin Group otomatis terseret naik.

Seberapa jauh rumor ini bisa dipercaya? Jujur saja, belum ada satu pun keterbukaan informasi resmi yang masuk ke IDX. Kabar ini pertama kali muncul dari postingan Instagram yang dikolaborasikan dengan akun berafiliasi cukup spesifik secara politik. Bisa jadi ini negosiasi tahap awal yang masih jauh dari eksekusi. Bisa jadi juga pertemuan tersebut membahas sesuatu yang berbeda, misalnya kolaborasi infrastruktur antara TEBE milik Jhonlin dengan aset BYAN di Kalimantan, meski analisis atas jarak geografis kedua aset itu membuat skenario ini agak tipis kemungkinannya, kalau data yang beredar bisa dipercaya.

Kalau skenario akuisisi benar terjadi, skalanya mengubah peta pertambangan nasional secara fundamental. BYAN bukan emiten sembarangan. Produsen batu bara termal terintegrasi ini menguasai rantai pasok penuh dari tambang utama di Tabang, hauling road, fasilitas pengolahan, Balikpapan Coal Terminal, hingga jaringan transshipment. Kalau angka akuisisi dihitung dari valuasi wajar di kisaran Rp3.000-Rp4.000 per saham sebelum lonjakan ini, Haji Isam perlu merogoh kocek Rp61 triliun hingga Rp82 triliun. Transaksi terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia. Titik.

Sinergisnya pun masuk akal secara industri. Kapasitas produksi jumbo BYAN bakal diperkuat infrastruktur pertambangan Jhonlin Group, lalu dilengkapi armada maritim RKI yang berpengalaman mengelola tugboat, barge, dan pelabuhan pedalaman. Tiga kekuatan berbeda, satu rantai nilai yang nyaris tak ada celahnya.

Fundamental BYAN sendiri sedang dalam kondisi prima. Di paruh pertama 2026, perseroan membukukan laba bersih US$410,26 juta atau sekitar Rp7,3 triliun, melesat 17,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan menyentuh US$1,74 miliar, setara Rp31,07 triliun. Angka yang membuat ketertarikan Haji Isam, kalau benar adanya, sangat bisa dipahami.

Apabila akuisisi saham mayoritas benar-benar tereksekusi, Jhonlin Group wajib menggelar mandatory tender offer sesuai regulasi OJK dan BEI. Harga saham BYAN tertinggi sepanjang sejarah tercatat di Rp24.900 pasca stock split 2022. Dari posisi Rp14.400 saat ini, dibutuhkan lima kali auto rejection atas untuk menyentuh all time high itu. Apakah pasar akan membiarkannya terjadi tanpa suspensi? Jawabannya bergantung pada satu hal: seberapa cepat rumor ini berubah menjadi fakta.