RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Gus Si T-Rex Pecahkan Rekor Lelang Fosil Dunia di...

Tekno

Gus Si T-Rex Pecahkan Rekor Lelang Fosil Dunia di Rp909 Miliar

Kerangka Tyrannosaurus rex berjulukan "Gus" terjual seharga US$50,13 juta di Sotheby's New York, memecahkan rekor fosil termahal yang pernah dilelang. Di balik angka fantastis itu, komunitas sains kembali dirundung cemas.

Rebutan T-Rex Gus Senilai Rp468 Miliar Antara Miliarder dan Sains

Lima puluh juta dolar. Angka yang keluar dari telepon pemenang lelang di Sotheby's New York pada Selasa (14/7/2026) itu bukan sekadar rekor baru, ia adalah simbol dari pertarungan yang jauh lebih lama antara uang dan ilmu pengetahuan.

Kerangka Tyrannosaurus rex berjulukan "Gus" resmi terjual seharga US$50,13 juta, atau sekitar Rp909,9 miliar, menjadikannya fosil termahal yang pernah berpindah tangan lewat mekanisme lelang. Angka ini melampaui estimasi awal Sotheby's yang mematok kisaran US$20 juta hingga US$30 juta, dan menghancurkan rekor sebelumnya yang dipegang kerangka Stegosaurus bernama Apex, milik miliarder Ken Griffin, yang dibeli pada 2024 seharga US$44,6 juta.

Gus bukan nama sembarangan. Nama itu diambil dari Gary "Gus" Licking, seorang peternak sapi asal Harding County, Dakota Selatan, yang lahannya menyimpan sisa-sisa predator purba berusia 67 juta tahun itu. Licking meninggal pada 2022, setahun setelah proses penggalian dimulai. Ia tak sempat menyaksikan apa yang tersimpan di bawah tanahnya mengguncang pasar lelang dunia.

Secara fisik, Gus memang luar biasa. Panjang kerangka mencapai 38 kaki atau sekitar 11,6 meter, dengan tinggi 3,8 meter saat dipajang dalam posisi menyerang. Tengkoraknya berukuran 54 inci dengan kelengkapan tulang sekitar 82 persen dari aslinya. Total 183 elemen tulang fosil berhasil dipulihkan, mewakili sekitar 61 persen kelengkapan berdasarkan jumlah tulang, atau 75 hingga 80 persen berdasarkan massa. Sotheby's mencatat hanya satu spesimen lain yang diketahui memiliki kedua kaki yang terwakili dengan baik seperti Gus.

Proses penemuannya punya cerita tersendiri. Cole Jacobs, prospektor lapangan dari Theropoda Expeditions, mengenang momen itu dengan sederhana. "Saya baru berjalan beberapa langkah ketika langsung melihat bagian tulang metatarsal mencuat dari permukaan tanah. Itu hal pertama yang saya lihat pada hari pertama pencarian," ujarnya dalam video promosi Sotheby's. Dari situ, tiga musim penggalian antara 2021 hingga 2023 dilanjutkan tiga tahun kerja laboratorium untuk membersihkan dan merakit tulang-tulangnya satu per satu.

Gus juga dijual dengan status "hak penuh", artinya tidak ada satu pun bagian cetakan berhak cipta dari kerangka dinosaurus lain yang disisipkan untuk mengisi celah kosong. Ini keunggulan yang punya nilai komersial nyata. Pembeli berpotensi melisensikan cetakan Gus ke museum atau kolektor lain, bersaing langsung dengan Stan, kerangka T. rex dari county yang sama yang selama ini menjadi standar de facto industri.

Namun di balik kemegahan angka-angka itu, komunitas sains kembali dirundung cemas.

Professor Susannah Maidment, peneliti dinosaurus dari Natural History Museum London, sudah lama mengamati tren ini dengan keprihatinan mendalam. "Kami sudah tersingkir dari harga pasar untuk mendapatkan akses ke banyak sekali spesimen," ungkapnya. Maidment menambahkan bahwa spesimen dinosaurus kini tidak lagi dilihat dari nilai ilmiahnya, melainkan seperti karya seni yang dikoleksi individu kaya.

Masalah terbesarnya bukan sekadar soal harga. Jurnal-jurnal ilmiah terkemuka menolak mempublikasikan studi terhadap spesimen yang tersimpan di koleksi pribadi, karena penelitian semacam itu tidak bisa direproduksi secara andal, standar krusial dalam verifikasi temuan ilmiah. Kalau kelak sang pemilik bosan atau menjual lagi, data sains yang sudah terkumpul bisa lenyap tanpa jejak.

Sotheby's tidak tinggal diam. Cassandra Hatton dari rumah lelang tersebut berargumen bahwa harga tinggi mencerminkan risiko nyata, waktu bertahun-tahun, dan biaya besar yang ditanggung para pemburu fosil independen. "Mereka menyelamatkan dinosaurus dari kepunahan kedua," tegas Hatton. Argumen ini agaknya tidak sepenuhnya keliru, setidaknya secara teknis. Dr. Fiann Smithwick, ahli paleontologi independen, menjelaskan bahwa fosil yang tidak segera digali oleh profesional akan hancur perlahan digerus alam dan cuaca hingga hilang selamanya.

Pertanyaannya sekarang: siapa pembeli di balik telepon itu, dan apa yang akan ia lakukan dengan Gus? Identitas pemenang lelang belum diungkap. Apakah Gus akan mengikuti jejak Apex, dipinjamkan ke museum untuk konsumsi publik, atau justru terkunci di ruang koleksi pribadi, jauh dari jangkauan para ilmuwan yang membutuhkannya? Entah kebetulan atau tidak, jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah perdebatan antara uang dan sains ini akhirnya punya pemenang yang jelas.