Musim dividen belum juga tutup buku. Dua emiten sawit Grup Salim, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), kompak mengesahkan pembagian dividen tahun buku 2025 lewat RUPS yang digelar Kamis, 25 Juni lalu.
LSIP menetapkan dividen tunai Rp83 per saham, dengan jadwal pembayaran 24 Juli 2026. Presiden Direktur LSIP Tan Agustinus Dermawan menyebut perseroan akan terus mengelola kegiatannya secara hati-hati dan menjalankan operasionalnya dengan cara yang berkelanjutan, pernyataan yang agaknya mencerminkan sikap waspada manajemen saat harga komoditas global masih susah ditebak arahnya.
SIMP bermain di angka yang lebih besar. Total dana yang disiapkan untuk dividen mencapai Rp403,03 miliar, atau sekitar 19,49% dari laba bersih 2025 yang membukukan angka Rp2,07 triliun. Bukan payout ratio yang terlalu royal, tapi juga bukan pelit. Sisanya masuk laba ditahan untuk ekspansi dan kebutuhan operasional, ditambah penyisihan Rp5 miliar sebagai dana cadangan.
Siapa yang paling cuan? Indofood Agri Resources Ltd menjadi penerima terbesar dengan estimasi Rp296,08 miliar, disusul PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sekitar Rp26,92 miliar. Nama Lo Kheng Hong ikut masuk hitungan, investor kawakan yang diperkirakan mengantongi sekitar Rp20,71 miliar dari SIMP saja. Lumayan. Pemegang saham publik dengan kepemilikan di bawah 5% kebagian alokasi sekitar Rp59,3 miliar.
PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) juga mengumumkan dividen, tapi dengan pendekatan yang berbeda karakter. Bank digital ini memilih membagi tepat 50% dari laba bersih 2025, setara Rp286,97 miliar. Untuk institusi yang baru dua kali dalam sejarahnya membagi dividen, ini sinyal yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Sepanjang 2025, BBHI membukukan laba bersih Rp574,26 miliar, tumbuh sekitar 23% secara tahunan. Pertumbuhan itu ditopang kenaikan pendapatan bunga hampir 30% dan lonjakan pendapatan operasional sekitar 65%. Sisa laba Rp287,28 miliar ditetapkan sebagai laba ditahan untuk memperkuat permodalan dan pengembangan layanan digital.
Kontras strategi keduanya patut dicermati. SIMP konservatif dengan payout ratio di bawah 20%, sementara BBHI memilih berbagi setengah laba meski masih dalam fase tumbuh. Pertanyaannya, apakah ini cermin kepercayaan diri manajemen BBHI bahwa profitabilitas mereka sudah cukup solid, atau justru langkah kalkulatif untuk menarik lebih banyak investor ritel? Bisa jadi keduanya.
Bagi investor yang sudah parkir di salah satu dari ketiga emiten ini, tanggal cum date dan payment layak masuk kalender sekarang juga.