SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Grayscale Petakan 5 Blockchain Pemenang di Era Tok...

Finansial

Grayscale Petakan 5 Blockchain Pemenang di Era Tokenisasi Saham

Dari Ethereum hingga Canton Network, Grayscale menyebut lima blockchain yang paling siap menangguk cuan dari gelombang tokenisasi ekuitas yang kian masuk ke arus utama keuangan global.

5 Altcoin Berpotensi Raup Keuntungan dari Tokenisasi Saham, Grayscale Sebut

Tokenisasi saham bukan lagi sekadar eksperimen lab. Grayscale, salah satu manajer aset kripto terbesar dunia, kini memetakan secara terang-terangan blockchain mana yang paling diuntungkan ketika ekuitas tradisional berpindah rel ke jaringan terdesentralisasi.

Lima nama masuk daftar: Ethereum (ETH), Solana (SOL), Avalanche (AVAX), BNB Chain, dan Canton Network. Bukan pilihan acak. Kepala riset Grayscale Zach Pandl merinci tiga model berbeda yang mendorong pergeseran ini, dan masing-masing model punya "tuan rumah" blockchain-nya sendiri.

Model pertama, yang paling dominan saat ini, adalah wrapper. Satu token mewakili saham yang disimpan dalam special purpose vehicle. Strukturnya sederhana, familier bagi trader ritel, dan kompatibel dengan ekosistem DeFi yang memungkinkan perdagangan 24 jam. Tidak mengherankan jika model ini menguasai lebih dari 70% nilai saham tokenisasi yang beredar. Ethereum, Solana, dan BNB Chain menjadi tuan rumah mayoritas aset dalam kategori ini, dengan aliran modal ke produk berbasis wrapper yang terus tumbuh dalam beberapa pekan terakhir.

Model kedua lebih institusional. Sekuritas yang sudah ada dibawa ke blockchain lewat jalur regulasi yang ketat. Grayscale menyoroti uji coba DTCC di Canton Network, sebuah proyek yang berjalan di bawah surat no-action dari SEC Amerika Serikat. Bobotnya tidak bisa dianggap enteng. DTCC memproses transaksi sekuritas senilai US$3,7 kuadriliun sepanjang 2024, dan belum lama ini bergabung sebagai ketua bersama tata kelola Canton Network bersama Euroclear. Peluncuran penuh ditargetkan pada paruh pertama 2026.

Model ketiga, agaknya yang paling disruptif dari ketiganya, memungkinkan perusahaan menerbitkan saham secara langsung di atas blockchain, tanpa melalui struktur wrapper maupun jalur konversi dari sekuritas eksisting. Securitize menjadi perusahaan baru pertama yang melakukannya: saat resmi listing di NYSE bulan ini, mereka sekaligus meluncurkan saham SECZ di Avalanche dan Solana pada hari yang sama. Perusahaan ini memproyeksikan SECZ bakal menjadi saham tokenisasi terbesar di dunia. Klaim yang tidak kecil, mengingat Securitize juga berperan sebagai platform tokenisasi untuk BlackRock BUIDL, dana US Treasury tokenisasi terbesar yang ada saat ini.

Ketiga model ini, menurut Grayscale, akan hidup berdampingan selama bertahun-tahun. Model penerbit-asli dinilai paling menjanjikan secara jangka panjang. Tapi likuiditas pasar tokenisasi masih tipis, kepastian regulasi belum sepenuhnya hadir. Untuk sekarang, model wrapper yang paling laris.

Di sisi harga, ETH diperdagangkan di kisaran US$1.785, sementara SOL berada di sekitar US$78 per token. Dua jaringan ini terus menyedot lebih banyak aset tokenisasi dari minggu ke minggu. Entah kebetulan atau tidak, keduanya juga muncul paling sering di tiga model yang dipetakan Grayscale. Bak gayung bersambut.

Pertanyaannya, berapa lama model wrapper bisa mempertahankan dominasinya? Apakah infrastruktur regulasi akan matang cukup cepat untuk mendorong model penerbit-asli melampaui dominasi wrapper yang sudah bercokol? Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan blockchain mana yang akhirnya paling banyak menangguk nilai dari gelombang berikutnya.