Google Photos kini punya senjata baru untuk bersaing di ranah AI kreatif. Fitur bernama Video Remix resmi diluncurkan ke pengguna terpilih, menawarkan kemampuan edit video berbasis model Gemini yang bisa mengubah klip biasa menjadi sesuatu yang jauh lebih layak tayang, tanpa perlu buka aplikasi editing terpisah atau menghabiskan berjam-jam di timeline.
Cara kerjanya terbilang intuitif. Pengguna cukup memilih klip dari perpustakaan Google Photos, lalu menerapkan perintah berbasis teks seperti "pindahkan video itu ke dalam rumah kaca" untuk mengganti latar belakang, atau "buat video ini menjadi lukisan cat air yang indah" untuk efek artistik yang lebih dramatis. Sketsa, cat minyak, hingga pencahayaan sinematik bergaya "cahaya pagi hari" semuanya tersedia. Bukan sedikit use-case yang bisa dicakup hanya dari satu fitur.
Video Remix bisa diakses lewat tab Create di aplikasi Google Photos, bersamaan dengan Remix untuk gambar, Foto ke Video, dan Kolase. Google sedang serius menjadikan Photos bukan sekadar tempat penyimpanan, melainkan studio kreatif berbasis AI.
Indonesia masuk gelombang peluncuran pertama. Video Remix sudah bisa dinikmati pelanggan Google AI Plus, Pro, dan Ultra di 15 negara: Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, India, Brasil, Korea Selatan, Filipina, Meksiko, Turki, Pakistan, Bangladesh, Argentina, Kolombia, dan Mesir. Pilihan pasar yang agaknya mencerminkan fokus Google pada negara-negara dengan basis pengguna mobile besar.
Langkah ini jelas bukan keputusan yang berdiri sendiri. Google mendorong fitur AI generatif ke hampir semua lini layanannya, dan Photos menjadi salah satu medan pertempuran paling nyata. Apple gencar dengan fitur kamera dan editing di iOS, Adobe punya Firefly, OpenAI mulai merambah ke ranah kreatif visual. Padat. Dan setiap tambahan fitur adalah sinyal bahwa tidak ada pemain besar yang mau tertinggal.
Selain Video Remix, Google Photos juga memperbarui sejumlah alat editing foto: penghapusan noda, perbaikan tekstur kulit, pencerah mata, hingga pemutihan gigi secara otomatis. Ada juga fitur yang mengubah foto pakaian menjadi lemari digital virtual, lengkap dengan kemampuan mencoba pakaian secara visual. Buat pengguna yang tidak pernah sentuh Lightroom sekalipun, deretan fitur ini bisa jadi pengubah kebiasaan kecil-kecilan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertanyaannya sekarang: apakah kualitas output-nya benar-benar setara ekspektasi, atau ini masih masuk kategori "keren di demo, biasa di praktik"? Klaim yang masih perlu dibuktikan pengguna langsung.