RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Google Images 25 Tahun: Galeri Personal, AI Genera...

Tekno

Google Images 25 Tahun: Galeri Personal, AI Generatif, dan Ancaman Nyata ke Pinterest

Google merombak total tampilan Google Images di usia ke-25, menghadirkan galeri personal berbasis AI yang secara terang-terangan meniru Pinterest dan Instagram, sekaligus menyematkan generator gambar AI langsung di halaman pencarian.

Google Images mendapatkan pembaruan antarmuka untuk merayakan ulang tahun ke-25.

Dua puluh lima tahun lalu, gaun hijau Jennifer Lopez di Grammy Awards memaksa Google menciptakan layanan pencarian gambar. Kini raksasa mesin pencari itu merombak total antarmuka Google Images dengan pendekatan yang jauh lebih ambisius: gabungan galeri personal berbasis AI, fitur koleksi ala Pinterest, dan generator gambar teks-ke-visual yang semuanya bisa diakses tanpa meninggalkan satu halaman.

Bukan sekadar perubahan kosmetik. Pengguna yang membuka Google Images dalam beberapa minggu ke depan di desktop Amerika Serikat akan disambut halaman "For You" yang menampilkan gambar secara real-time berdasarkan riwayat penelusuran dan minat pribadi. Hasilnya bukan lagi deretan statis, melainkan galeri dinamis yang terus beradaptasi, tanpa perlu konfigurasi manual.

Fitur koleksi atau Collections juga hadir, memungkinkan pengguna menyimpan gambar favorit ke papan pribadi dan mengaksesnya lewat tab khusus di bagian atas halaman Saved. Dua tab terpisah disediakan: satu untuk koleksi tersimpan, satu lagi untuk semua hasil gambar agar pengguna bisa berpindah tampilan dengan cepat. Syaratnya satu: harus masuk ke akun Google.

Tapi bukan desain itu yang paling bikin gelisah para pesaing Google. Yang lebih menarik perhatian justru apa yang disematkan di baliknya. Google mengintegrasikan model AI bernama Nano Banana ke dalam fitur AI Overviews, menjadikan Google Images bukan hanya tempat mencari gambar, tapi juga tempat membuatnya. Ketik deskripsi teks, misalnya warna cat dinding kamar mandi atau konsep dekorasi ruangan, dan Google langsung menghasilkan visualnya di halaman pencarian.

Langkah ini bukan tanpa kalkulasi. Google menghadapi dua tekanan sekaligus: Pinterest yang sudah lama menguasai segmen inspirasi visual, dan platform AI generatif seperti ChatGPT yang memungkinkan pengguna membuat gambar dari imajinasi tanpa bergantung pada database yang sudah ada. Dengan menggabungkan pencarian, penemuan, dan kreasi dalam satu ekosistem, Google berusaha menahan pengguna lebih lama di platformnya dan, tidak terelakkan, mendongkrak pendapatan iklan.

"Orang-orang tidak ingin hanya membaca tentang gaun itu, mereka ingin melihatnya," tulis Google dalam pengumumannya, merujuk pada momen viral Grammy 2000 yang menjadi asal-usul layanan ini. Mantan CEO Eric Schmidt pernah mengakui bahwa gelombang pencarian foto JLo tanpa solusi yang memadai saat itu menjadi pemicu lahirnya Google Images pada Juli 2001.

Bagi pengguna biasa, perubahan ini terasa menggiurkan. Bagi pelaku bisnis dan kreator konten, situasinya lebih bernuansa. Platform e-commerce dan media yang selama ini mengandalkan traffic organik dari Google Images berpotensi kehilangan kunjungan jika pengguna semakin betah di dalam galeri Google daripada mengeklik keluar ke situs asal. Visibilitas konten tidak lagi ditentukan oleh SEO gambar konvensional, melainkan oleh algoritma personalisasi yang kriterianya belum sepenuhnya transparan. Algoritma baru, aturan baru.

Di Indonesia, Google Images sudah lama menjadi referensi visual utama untuk fashion, properti, hingga desain interior. Transisi dari pencarian berbasis kata kunci ke rekomendasi berbasis AI bisa mengubah strategi pemasaran visual secara mendasar, mirip dengan apa yang harus dilakukan brand untuk bersaing di Pinterest. Ada satu variabel tambahan yang perlu dicermati: Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Personalisasi semacam ini butuh akses mendalam ke data penelusuran pengguna, dan seberapa jauh Google patuh terhadap regulasi lokal akan menentukan seberapa agresif fitur ini bisa diterapkan di sini. Entah kebetulan atau tidak, Google belum mengumumkan jadwal ekspansi ke luar AS.

Peluncuran untuk saat ini dibatasi untuk desktop di Amerika Serikat dalam bahasa Inggris. Fitur AI generatif menyusul di wilayah yang sudah mendukung AI Mode. Pertanyaannya, berapa lama strategi konten visual yang ada sekarang masih relevan buat pelaku industri lokal sebelum era galeri yang dikendalikan algoritma ini tiba di sini?