Fitur AI generatif bukan lagi monopoli ponsel mahal. Google resmi mulai menggulirkan asisten Gemini ke smartphone kelas menengah dan entry-level sepanjang pertengahan 2026, dengan Samsung, Xiaomi lewat lini Redmi, dan Motorola sebagai mitra distribusi utama di gelombang awal ekspansi ini.
Yang lebih menarik, Google bahkan meluncurkan varian khusus bernama Gemini Go, dirancang spesifik untuk perangkat Android Go yang hanya mengandalkan RAM 2GB. Ini bukan sekadar pembaruan aplikasi biasa. Ini transisi resmi dari Assistant Go yang selama ini jadi asisten digital andalan di segmen paling bawah pasar smartphone global.
Anish Kotthapalli, Manajer Komunitas Tim Aplikasi Gemini, menegaskan aksesibilitas sebagai inti dari langkah ini. "Tujuan kami adalah memastikan bahwa pengalaman AI tetap dapat diakses oleh semua orang, termasuk pengguna perangkat dengan spesifikasi yang lebih sederhana," ujar Kotthapalli.
Untuk mengakses Gemini Go di perangkat Android Go yang kompatibel, pengguna cukup masuk lewat aplikasi Google Search, lalu tekan dan tahan tombol Home atau Power sesuai konfigurasi perangkat. Fungsionalitasnya memang lebih ringkas dibanding versi penuh: menelepon, mengirim pesan, mencari rute, menemukan restoran terdekat, mengatur alarm dan kalender, hingga mengunggah dokumen atau foto sebagai konteks percakapan. Bukan fitur yang membuat para pengguna Pixel 9 kagum, tapi lebih dari cukup untuk 80 persen kebutuhan harian pengguna entry-level.
Di segmen yang sedikit lebih atas, Samsung jadi vendor paling agresif. Beberapa perangkat Galaxy A Series terbaru sudah mendukung integrasi Gemini melalui Android 15, termasuk Galaxy A15 5G dan Galaxy A25 5G. Pengguna bisa memanfaatkannya untuk perintah suara, ringkasan teks, hingga pencarian berbasis konteks lintas aplikasi. Strategi ini kelanjutan logis dari Galaxy AI yang lebih dulu diperkenalkan di lini flagship Galaxy S dan Z Series, agaknya manajemen Samsung memang sudah menyiapkan roadmap penurunan fitur ke kelas menengah sejak awal.
Xiaomi melalui Redmi Note 13 Series dan Poco X6 juga masuk daftar perangkat kompatibel, dukungannya hadir lewat aplikasi Gemini yang bisa diunduh di Google Play Store selama perangkat memenuhi syarat minimum sistem. Motorola Moto G terbaru menyusul dengan integrasi serupa.
Tidak semua fitur Gemini bisa dinikmati penuh di perangkat kelas bawah. Fungsi AI generatif yang butuh daya komputasi besar masih bergantung pada cloud, dan Google tetap menetapkan persyaratan minimum chipset dan RAM agar pengalaman pengguna tidak amburadul. Klaim "AI untuk semua" itu ada batasnya, dan batas tersebut tergantung seberapa kuat sambungan internet pengguna. Kalau koneksi putus-putus, ya Gemini Go pun bisa jadi sekadar ikon cantik di layar.
Konteks yang lebih besar dari ekspansi ini, bagaimanapun, layak dicermati. Pasar smartphone global masih dikuasai segmen menengah dan entry-level, terutama di Indonesia, India, dan Amerika Latin. Google rupanya sadar bahwa pertarungan adopsi AI tidak dimenangkan di toko-toko Fifth Avenue, melainkan di counter konter pulsa Tanah Abang. Pertanyaannya: berapa lama lagi harga jadi satu-satunya tembok pembatas antara pengguna biasa dan pengalaman AI yang sesungguhnya? Kalau Gemini mau jadi platform yang benar-benar dominan, ia harus masuk ke angka 200 dolar, bukan hanya ke 1.000 dolar.