Google diam-diam merilis aplikasi eksperimental bernama AI Edge Gallery, platform yang memungkinkan model kecerdasan buatan berjalan langsung di genggaman tanpa bergantung pada server cloud. Bukan sekadar gimmick, eh, bukan, maksudnya bukan sekadar pajangan. Ini fondasi teknologi yang cukup serius untuk ukuran perangkat mobile.
Dua teknologi kunci ada di baliknya: Google AI Edge dan LiteRT, nama baru untuk TensorFlow Lite. Keduanya dirancang agar inferensi AI bisa berjalan ringan di perangkat dengan sumber daya terbatas. Model yang dipakai? Gemma 1B dan Gemma 3B, dua varian kecil dari keluarga model bahasa Google. Agaknya dipilih karena efisiensinya di lingkungan mobile, bukan karena kemampuan mentahnya.
Fiturnya cukup beragam: AI chat, analisis gambar, generative AI. Semuanya lokal. Tidak perlu kirim data ke mana-mana. Latensi lebih rendah dibanding solusi berbasis cloud, dan buat sebagian pengguna, justru poin privasi ini yang paling menarik.
Sebelum install, ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi. Pengguna Android disarankan memakai versi sistem operasi terbaru. Di sisi iPhone, iOS 16 jadi batas minimum. Ruang penyimpanan yang dibutuhkan berkisar antara 1 GB hingga 4 GB, tergantung model AI yang dipilih. Semakin besar modelnya, semakin lama unduhan berlangsung. Di sinilah Wi-Fi yang stabil bukan sekadar saran, tapi keharusan.
Proses instalasinya tidak terlalu rumit. Aplikasi bisa diunduh lewat halaman developer resmi Google atau platform pengujian Android resmi. Kalau pakai file APK, ada satu langkah tambahan: masuk ke Pengaturan, buka menu Keamanan atau Privasi, aktifkan izin instalasi dari sumber tidak dikenal. Buka file APK-nya, tekan instal, sistem akan menyelesaikan sisanya.
Satu hal yang tidak boleh diabaikan: jangan unduh APK dari situs sembarangan. Risiko malware pada aplikasi di luar jalur resmi bukan isapan jempol, terlebih untuk aplikasi yang butuh banyak izin akses sistem seperti ini. Kehati-hatian ekstra, kalau data ini bisa dipercaya sebagai panduan umum, memang selalu relevan.
Setelah terpasang, ikuti panduan pengaturan awal yang muncul di layar dan berikan izin akses yang diminta. Tidak ada konfigurasi teknis yang bikin pusing. Setidaknya buat pengguna umum yang sekadar ingin coba-coba.
Konsep on-device AI bukan barang baru. Tapi langkah Google membungkusnya dalam aplikasi eksperimental yang bisa dicoba siapa saja, termasuk non-developer, menandai sesuatu yang lebih besar. Ekosistem AI lokal di perangkat mobile rupanya sudah dianggap cukup matang untuk dipublikasikan. Pertanyaannya, seberapa jauh Google akan mendorong ini ke pasar yang lebih luas?