Dua narasi koperasi yang kontras tengah berjalan beriringan pekan ini. Keduanya sama-sama menarik, tapi untuk alasan yang berbeda.
Di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, 48 gerai Koperasi Desa Merah Putih sudah rampung dibangun per 30 Juni 2026. Konstruksinya beres, bangunannya tegak. Pintu-pintunya? Masih terkunci. Penyebabnya satu: tidak ada barang yang bisa dijual. Adapun 201 gerai lainnya masih dalam pengerjaan, dan sisanya belum berprogres sama sekali.
"Kalau barang belum dipasok, tentu belum bisa beroperasi. Apa yang akan dijual kalau barangnya belum ada," kata Hairil Iskandar, Kepala Bidang Perizinan, Kelembagaan, Pengawasan dan Pemeriksaan DKUPP Sumenep. Kalimat yang sederhana, tapi cukup telak menggambarkan kemacetan yang terjadi.
Masalahnya bukan pada konstruksi. Kodim 0827/Sumenep selaku pelaksana lapangan melaporkan progres yang terukur, bahkan sejumlah koperasi sudah menerima sebagian fasilitas fisik seperti truk, mobil pikap, dan etalase. Yang macet adalah pasokan barang dagangan dari PT Agrinas, perusahaan yang ditunjuk mengisi gerai sekaligus menyediakan sarana pendukung operasional. Hairil menyebut empat gerai yang diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pun bernasib serupa: siap secara fisik, tapi masih menunggu kiriman barang.
Bagi pemerintah daerah, posisinya serba tanggung. Mereka tidak punya kewenangan mendorong PT Agrinas lebih cepat. "Tentu saja kami berharap segera beroperasi," ujar Hairil, kalimat yang lebih berbunyi seperti doa ketimbang jadwal.
Di Jakarta, suasananya berbeda jauh. Puncak Hari Koperasi Nasional ke-79 digelar meriah di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, dengan kehadiran Presiden Prabowo yang dalam sambutannya menegaskan komitmen pemerintah memperkuat koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat.
Momentum itu dimanfaatkan Dewan Koperasi Indonesia untuk melancarkan agenda jangka panjangnya: merekrut Gen Z. Bukan sekadar slogan. Dekopin menyiapkan booth Koperasi Gen Z yang menampilkan inovasi bisnis kreatif berbasis digital karya anak muda, sebagai upaya nyata mengubah citra koperasi yang selama ini lekat dengan kesan jadul.
"Dekopin berkomitmen penuh menggaet Gen Z agar aktif berkoperasi lewat pendekatan yang modern, digital, dan relevan dengan gaya hidup mereka," kata Sekretaris Jenderal Dekopin Gilang Widya.
Ketua Umum Dekopin Bambang Haryadi senada. Koperasi, kata Bambang, punya potensi menjadi kekuatan ekonomi modern, asalkan ditopang regulasi yang kuat, kolaborasi lintas sektor, dan partisipasi aktif generasi muda. Dekopin juga menyambut rencana pengesahan Undang-Undang Perkoperasian baru sebagai pengganti UU Nomor 25 Tahun 1992, yang diharapkan memberikan pijakan hukum lebih solid bagi pengembangan koperasi ke depan.
Pertanyaan yang lebih menggigit sebenarnya bukan soal apakah Gen Z mau berkoperasi. Bisa jadi mereka mau, kalau ekosistemnya masuk akal. Yang lebih susah dijawab: bagaimana meyakinkan generasi ini masuk ke gerakan koperasi yang katanya modern, sementara gerai-gerai baru yang dibangun dengan dana besar pun belum bisa buka karena kiriman barang belum tiba? Dua kecepatan yang berbeda, satu tujuan yang sama.