KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Gen Z Kuasai 81% Pasar Kripto, PINTU Turun Langsun...

Finansial

Gen Z Kuasai 81% Pasar Kripto, PINTU Turun Langsung ke Mahasiswa NTT

Data KSEI menunjukkan 55% investor pasar modal Indonesia berusia di bawah 30 tahun. PINTU gandeng HIMAPEN gelar edukasi investasi lintas aset untuk 100-an mahasiswa Nagekeo di Jakarta.

Peluang Investasi Generasi Muda di Era Ekonomi Digital - Halaman all

Angka ini mungkin mengejutkan sebagian orang: 81,6 persen pengguna aset kripto di Indonesia berusia 18 hingga 34 tahun. Data dari Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 yang dirilis Indonesia Crypto Network, Coinvestasi, dan Asosiasi Blockchain Indonesia itu bukan sekadar statistik. Ini potret nyata bahwa pasar aset digital kita sudah lama berpindah tangan ke generasi muda.

Dominasi serupa terlihat di pasar modal. Berdasarkan Statistik Pasar Modal Indonesia yang diterbitkan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per April 2026, sekitar 55% total investor saham berusia di bawah 30 tahun, dengan kelompok usia 31-40 tahun menambahkan porsi sekitar 25% lagi. Hampir delapan dari sepuluh investor ritel di negeri ini adalah anak muda. Bukan main.

Pada 8 Juli 2026, PT Pintu Kemana Saja (PINTU), platform investasi aset kripto berizin OJK, memilih turun langsung ke komunitas. Berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa & Pemuda Nagekeo Se-Jabodetabek (HIMAPEN), mereka menggelar diskusi bertajuk "Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas" di Nemuru Grand Bellevue, kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Lebih dari 100 mahasiswa asal Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, hadir di sana. Acara dipandu jurnalis senior Investor Daily, Edo Rusyanto.

Seminar ini jauh dari sekadar motivasi investasi generik. Pembicara yang hadir cukup berat: praktisi keuangan global Vier Abdul Jamal, Komisaris PT Adhikita Sekuritas Indonesia B. Hari Mantoro, dan Direktur Utama PT Smartin Advisor System Dr. Odang Supriatna. Satu tujuan yang sama: memastikan para mahasiswa tidak masuk ke pasar hanya karena FOMO.

Presiden Direktur PINTU Andy Putra menyebut urgensi edukasi lintas aset bagi anak muda sudah melampaui wacana. "Dengan menghadirkan para pakar yang berpengalaman, kegiatan ini berkontribusi pada peningkatan literasi keuangan, sekaligus menjadi wadah kolaborasi antara industri dan akademisi dalam mempersiapkan generasi muda yang lebih siap menghadapi perkembangan ekonomi dan teknologi finansial," kata Andy. Ia juga menegaskan komitmen PINTU untuk terus menghadirkan edukasi yang mudah dipahami, termasuk soal manajemen risiko aset digital yang kerap diabaikan investor pemula.

Dari sisi komunitas, Ketua Umum HIMAPEN se-Jabodetabek Aster Leta menanggapi inisiatif ini dengan antusias. Baginya, HIMAPEN bukan sekadar paguyuban kedaerahan, melainkan wadah bagi pemuda Nagekeo di perantauan untuk saling belajar dan mendorong kapasitas diri. "Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dan pekerja muda mendapatkan pemahaman terkait bagaimana cara memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk bagaimana cara berinvestasi yang tepat serta instrumen apa saja yang cocok dan aman," ungkap Aster.

Ada ironi yang agaknya patut dicermati. Generasi yang paling aktif berinvestasi belum tentu yang paling paham risiko. Kelompok usia 18-34 tahun tumbuh bersama media sosial yang penuh narasi "cuan cepat" dan "100x return", sementara pemahaman soal volatilitas, diversifikasi, atau sekadar membaca prospektus masih jauh dari merata. Gerakan literasi seperti ini, entah kebetulan atau tidak, datang di saat yang tepat.

Bagi PINTU, menggandeng komunitas mahasiswa daerah seperti HIMAPEN bisa dibaca sebagai upaya memperluas basis pengguna sekaligus membangun ekosistem investor ritel yang lebih sehat jangka panjang. Dua kepentingan yang, dalam kasus ini, kebetulan berjalan searah.