Angka itu seharusnya bikin banyak orang berhenti sejenak: outstanding pinjaman online nasional per Maret 2026 sudah menyentuh Rp101,03 triliun, dengan lebih dari 26 juta peminjam aktif. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Di hadapan ribuan pengunjung Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Jogja Expo Center, Jumat (22/5), Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X memilih tidak berbicara soal instrumen investasi atau proyeksi pertumbuhan. Sultan justru menarik percakapan ke arah yang lebih mendasar: filosofi Jawa yang sudah berabad-abad usianya. Gemi, Nastiti, Ngati-ati.
Bagi Sultan, tiga kata itu bukan romantisasi budaya lama. Gemi berarti kemampuan menahan konsumsi demi tujuan jangka panjang. Nastiti, kecermatan dalam setiap keputusan finansial. Ngati-ati, kewaspadaan terhadap risiko keuangan digital yang kian kompleks. Di era "beli sekarang bayar nanti", ketiganya justru makin relevan, bukan makin usang.
"Uang tentu penting. Sistem keuangan tentu penting. Tetapi uang tidak boleh naik takhta menjadi tujuan akhir seluruh ikhtiar kita," tegasnya. "Ia harus tetap menjadi sarana untuk memuliakan kehidupan."
Kalimat itu terdengar filosofis, tapi datanya konkret. Berdasarkan SNLIK 2025 OJK-BPS, indeks inklusi keuangan nasional sudah mencapai 80,51 persen. Cukup tinggi. Masalahnya, indeks literasi keuangan baru di angka 66,46 persen. Selisih hampir 14 poin itu artinya jutaan orang sudah punya akses ke produk keuangan, tapi belum tentu paham cara menggunakannya dengan bijak. Inilah yang Sultan sebut sebagai alarm.
66,46 versus 80,51. Gap-nya tidak kecil, dan bukan sekadar statistik.
Finfest 2026 sendiri dirancang sebagai jawaban atas kebutuhan itu. Festival yang berlangsung hingga Sabtu (23/5) ini menghadirkan aktivitas edukatif dan interaktif, termasuk stan-stan yang memungkinkan pengunjung mencoba perangkat realitas virtual sebagai media belajar keuangan. Agaknya penyelenggara memang serius menyasar generasi muda yang lebih tertarik belajar lewat pengalaman langsung ketimbang seminar konvensional.
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menilai forum ini menjadi momentum membangun generasi yang tangguh secara finansial di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang bergerak cepat. Adapun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa nada lebih optimistis: ekonomi Indonesia masih solid, tumbuh 5,61 persen secara tahunan di kuartal I-2026.
Pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusi keuangan yang meluas, tapi literasi yang tertinggal dan pinjol yang menggunung. Kombinasi ini, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin perilaku nyata, adalah resep sempurna untuk krisis utang yang merayap pelan tapi pasti. Sultan sepertinya membaca itu, dan memilih bahasa budaya sebagai pendekatannya karena angka statistik saja terbukti belum cukup mengubah kebiasaan.