Sejak pertengahan 2024, Astronacci International sudah memperingatkan rupiah akan menyentuh 17.200 per dolar AS. Target itu kini sudah terpenuhi.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) MPR RI bertajuk "Pasar Modal Indonesia untuk Negeri: Tangguh Menghadapi Geopolitik Global, Adaptif di Era Ekonomi Digital" yang digelar di Gedung Nusantara V, Senayan, Kamis (4/6/2026), Founder dan CEO Astronacci International Gema Goeyardi memperbarui proyeksinya. Rupiah, menurutnya, berpotensi melemah lebih jauh ke kisaran Rp18.220 hingga Rp18.775 per dolar AS apabila tekanan eksternal tidak dikelola dengan baik. Angka yang bikin banyak orang menelan ludah.
Gema menegaskan kondisi pasar saat ini belum menyamai keparahan krisis 1998 maupun 2008. Tapi ada satu variabel yang membuat skenario buruk kali ini berpotensi lebih merusak: jumlah investor domestik yang jauh lebih besar. "Yang terjadi sekarang belum semengerikan 1998 dan 2008. Tetapi kalau tidak dimitigasi secara serius, tekanan ini bisa masuk ke arah financial market crisis seperti 2008, dengan dampak yang lebih masif karena jumlah investor pasar modal kita sudah jauh lebih besar," tegasnya.
Basis investor yang meluas memang pedang bermata dua. Penetrasi pasar modal yang semakin dalam seharusnya jadi kekuatan struktural. Tapi dominasi hot money membuat pasar makin sensitif terhadap sentimen negatif. Satu berita buruk bisa memicu gelombang aksi jual yang efeknya berlipat dibanding era ketika investor institusional mendominasi lantai bursa.
Untuk IHSG, model Astronacci memproyeksikan indeks masih punya ruang koreksi menuju 5.398, dengan skenario paling ekstrem di kisaran 5.030. Gema justru membingkai fase ini sebagai peluang. Periode pekan kedua hingga keempat Juli 2026 ia identifikasi sebagai fase akumulasi besar, titik masuk yang agaknya tidak akan datang dua kali dalam waktu dekat.
"Dari model Astronacci, target IHSG ada di 5.398, dengan risiko terburuk di 5.030. Juli minggu kedua sampai keempat kami melihat sebagai proses akumulasi besar. Rebound pertama berpotensi menuju 6.700, selanjutnya sampai akhir Desember menuju 8.900, dan target jangka panjang IHSG berada di 10.200," jelas Gema.
Target 8.900 di akhir 2026, lalu 10.200 dalam jangka panjang. Ambisius, dan masih perlu dibuktikan oleh realita pasar. Setidaknya ada kerangka bagi investor ritel yang bingung menentukan apakah ini saatnya averaging down atau justru cut loss.
Soal rupiah, Gema mengingatkan bahwa pelemahan nilai tukar tidak bisa disederhanakan sebagai kabar baik bagi eksportir semata. Dampaknya menjalar: biaya produksi naik, inflasi merayap, beban fiskal membengkak, cadangan devisa tergerus untuk intervensi. Kompleksitas yang sering luput dari kalkulasi investor ritel.
Tantangan terbesar, menurut Gema, justru bukan dari tekanan eksternal. "Masalah terbesar bukan hanya tekanan pasar, tetapi kepercayaan. Ketika komunikasi kebijakan tidak terintegrasi, pasar bisa salah membaca arah pemerintah. Akhirnya yang terjadi adalah sell-off, capital outflow, dan tekanan yang lebih besar terhadap rupiah maupun IHSG," ungkapnya.
Komunikasi kebijakan antarinstansi yang tidak selaras memang selalu muncul sebagai pemantik volatilitas di setiap episode tekanan pasar Indonesia. Bukan hal baru. Tapi terus berulang.
Untuk mempercepat pemulihan, Astronacci mengusulkan sepuluh langkah strategis kepada pemerintah. Beberapa yang paling konkret: mempermudah aksi buyback saham tanpa RUPS saat pasar tertekan, menghapus pajak dividen, dan mempercepat reformasi ketentuan free float. Kalau benar dieksekusi, langkah-langkah ini bisa memberi sinyal positif ke pasar dalam waktu singkat.
"Saya optimistis pasar modal Indonesia dapat pulih lebih cepat apabila berbagai langkah strategis tersebut bisa segera direalisasikan," kata Gema.
Bagi investor ritel yang kini sedang nyangkut atau duduk menunggu di pinggir lapangan, proyeksi akumulasi Juli itu layak dicermati. Asal ingat: proyeksi tetap proyeksi, bukan garansi.