Garmin akhirnya turun ke segmen yang selama ini dikuasai WHOOP. Rabu (22/7/2026), produsen perangkat navigasi dan kebugaran itu resmi meluncurkan Cirqa, gelang pintar tanpa layar pertama mereka yang dirancang khusus untuk pengguna yang ingin memantau tubuh tanpa harus berhadapan dengan notifikasi, angka berkedip, atau cahaya layar.
Pemicunya jelas: kelelahan digital kian menjadi keluhan nyata di kalangan konsumen aktif. Garmin agaknya melihat celah yang cukup besar di sini. Segmen yang selama ini digarap WHOOP dengan pendekatan langganan bulanan, kini dimasuki dengan model yang berbeda.
Secara fisik, Cirqa tampil sederhana. Tali kain yang ringan, satu tombol fisik, tidak ada layar sama sekali. Tapi di balik tampilan minimalis itu, sensornya cukup lengkap: denyut jantung, saturasi oksigen darah, laju pernapasan, suhu kulit, kualitas tidur, tingkat stres, hingga pemantauan pemulihan tubuh. Cirqa juga mampu mendeteksi otomatis lebih dari 80 jenis aktivitas olahraga tanpa pengguna perlu menekan tombol apa pun. Fitur pelacak siklus menstruasi dan kehamilan turut disertakan, menjadikan perangkat ini bukan sekadar alat olahraga.
Semua data mengalir ke aplikasi Garmin Connect yang bisa diakses gratis. Bagi yang ingin analisis lebih dalam, tersedia opsi berlangganan Garmin Connect+, model yang bisa jadi membuka pintu pendapatan berulang bagi Garmin di luar penjualan perangkat.
Ketahanan baterai diklaim mencapai 10 hari sekali cas. Lumayan kompetitif untuk kelas pelacak yang merekam data biologis sepanjang hari dan malam tanpa jeda.
Harganya US$199 atau sekitar Rp 3,6 juta, dengan sistem sekali beli tanpa biaya langganan wajib seperti yang diterapkan WHOOP. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai patokan, posisinya memang strategis: lebih murah dari Polar Loop di kisaran Rp 3,7 juta, lebih mahal dari Google Fitbit Air di Rp 2,6 juta. Bukan yang termurah, bukan yang paling mahal. Garmin tampaknya sengaja memilih jalur itu.
Pertanyaannya sekarang: apakah pengguna yang sudah nyaman dengan ekosistem Garmin akan menyambut Cirqa sebagai pelengkap, atau justru menjadikannya pengganti smartwatch mereka yang lebih tebal dan fitur-heavy? Entah kebetulan atau tidak, peluncuran ini datang persis ketika diskusi soal "digital detox" sedang ramai. Pasar, setidaknya secara teori, tampaknya siap menerima perangkat yang justru berani tampil diam.