MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Gandengan Prabowo-Megawati Tuai Pujian Lintas Part...

Ekonomi

Gandengan Prabowo-Megawati Tuai Pujian Lintas Partai

Momen keakraban Presiden Prabowo dan Megawati Soekarnoputri di Hari Lahir Pancasila disambut positif berbagai partai politik, dinilai sebagai teladan sikap negarawan sejati.

Gerindra Respek Megawati Negarawan: Bukan Ngomporin Seperti Dino

Satu momen di halaman Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin (1/6/2026), rupanya cukup untuk membungkam banyak spekulasi soal hubungan dua tokoh besar Indonesia itu.

Usai upacara Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri tampak berjalan bergandengan tangan, tertawa bersama. Momen itu bermula saat Prabowo tengah berbincang dengan mantan Wapres Jusuf Kalla dan Ma'ruf Amin. Megawati, yang semula berdiri di belakang keduanya, justru yang mengambil inisiatif mengajak Prabowo berjalan bersama. Bukan sebaliknya.

Reaksi dari partai-partai mengalir deras keesokan harinya. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman menyebut Megawati sebagai contoh negarawan yang elegan, khususnya bila disandingkan dengan pernyataan-pernyataan eks Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal yang belakangan memantik polemik. "Bu Mega itu walaupun di partainya di luar pemerintahan, tetap menunjukkan sikap yang elegan sebagai negarawan. Bukan malah ngompor-ngomporin seperti Dino, tapi membatasi polarisasi," kata Habiburokhman di kompleks parlemen, Senayan.

Soal hubungan Prabowo dan Megawati, Habiburokhman bilang keduanya sudah lama menjalin komunikasi yang hangat, bahkan sebelum Prabowo duduk di Istana. "Dari dulu, sejak Pak Prabowo belum presiden, saya sering menjadi saksi bagaimana beliau-beliau masih menjalin komunikasi yang amat baik di level paling tinggi," ungkapnya.

Dari PAN, Wakil Ketua Umum Saleh Daulay ikut angkat bicara. Potret keakraban itu, kata dia, gambaran positif yang memang sedang dibutuhkan. Ia menyebut Prabowo dan Megawati sebagai dua tokoh yang pada dasarnya banyak mengambil jalan yang sama. Kalaupun ada selisih paham, komunikasi politik selalu jadi jalan keluarnya. "PAN tentu ikut senang jika semua tokoh politik bergandeng tangan. Persoalan bangsa Indonesia masih banyak, tidak bisa dikerjakan secara sektoral," kata Saleh.

NasDem tak ketinggalan. Sekjen NasDem Hermawi Taslim berharap relasi Prabowo-Megawati bisa jadi teladan bagi negarawan lain. Senada, Bendahara Umum NasDem Ahmad Sahroni mengaku jujur ia senang melihat kejadian itu. "'Kemesraan' dari dua negarawan bangsa ini mencerminkan betapapun bergejolaknya situasi negeri, persatuan dan kekeluargaan tetap nomor satu," ujarnya. Sahroni juga menambahkan dimensi politik: momen ini, katanya, memperlihatkan bahwa pemerintah dan pihak di luar pemerintahan sama-sama menjaga stabilitas nasional.

PKB membaca momen ini dari sudut yang agak berbeda. Sekjen PKB Hasanuddin Wahid mengingatkan bahwa gandengan tangan jangan berhenti jadi simbol. Kebersamaan elite, kata dia, harus diwujudkan nyata dalam pembangunan, dalam menekan angka pengangguran, dalam merealisasikan kedaulatan ekonomi yang selama ini digaungkan Prabowo. Keras? Iya. Tapi bukan kritik kosong.

Ketua DPP PKB Daniel Johan menambahkan, momentum Hari Lahir Pancasila memang paling tepat untuk menegaskan kembali nilai-nilai kebersamaan itu. Alasannya sederhana: Pancasila sendiri lahir dari semangat menyatukan perbedaan.

Yang agaknya disepakati semua pihak: momen ini kecil secara fisik, besar secara simbolis. Pertanyaannya tinggal satu, apakah simbol ini diikuti substansi.