SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Galaxy S26 Ultra: Produksi Meledak, Tapi Kantong D...

Tekno

Galaxy S26 Ultra: Produksi Meledak, Tapi Kantong Divisi Mobile Samsung Bisa Jebol

Di balik lonjakan produksi 50% dan sambutan pasar yang solid, Samsung justru terancam mencatat kerugian perdana di divisi mobile akibat harga memori yang meledak, sementara masalah red tint mengancam loyalitas pengguna flagship-nya.

Drone mikro otonom Tornyol Systems bersiap untuk misi pembasmian nyamuk

Produksi Samsung Electronics untuk seri Galaxy S26 naik 50 persen. Angka yang biasanya jadi alasan pesta. Tapi di baliknya ada ironi yang cukup pahit: divisi mobile Samsung, selama ini mesin uang perusahaan, justru berpotensi mencatat kerugian kuartalan untuk pertama kalinya dalam sejarah.

ETNews Korea Selatan melaporkan lonjakan produksi itu dipicu kombinasi beberapa faktor. Kampanye diskon agresif di pasar domestik Korea jadi salah satu pemantiknya, ditambah kekhawatiran konsumen bahwa Galaxy S27 akan datang dengan banderol jauh lebih mahal. Hasilnya, permintaan Galaxy S26 terus mengalir deras. Tapi penjualan yang deras tidak otomatis berarti margin yang sehat.

Sejumlah lembaga riset yang dikutip media Korea memperkirakan laba Samsung MX pada kuartal kedua 2026 tersebar dalam rentang yang menganga lebar: dari keuntungan 1,9 triliun won di satu ujung, sampai kerugian 1,5 triliun won di ujung lain. Sebagian besar analis condong ke skenario kerugian sekitar 500 miliar hingga 1 triliun won, setara ratusan juta dolar AS. Angka-angka ini masih estimasi sebelum laporan keuangan resmi keluar.

Biang keladinya: harga komponen memori yang dihajar lonjakan permintaan dari industri pusat data dan kecerdasan buatan. RAM dan NAND flash terkerek naik tajam. Data pasar menunjukkan biaya RAM kini menyumbang sekitar 23 persen dari total ongkos produksi smartphone premium, naik dari kisaran 14 persen beberapa tahun lalu. Biaya penyimpanan NAND flash pun kini memakan sekitar 15 persen dari keseluruhan biaya produksi. Hampir seluruh pemain industri smartphone global merasakan tekanan serupa, tapi Samsung yang paling terpukul lantaran skala produksinya.

Kalau prediksi kerugian ini benar terwujud, agaknya ini akan jadi tamparan keras yang susah dilupakan: Samsung MX bakal membukukan hasil lebih buruk dibanding masa krisis Galaxy Note7 pada 2016, saat jutaan unit ditarik dari pasar karena baterai meledak. Saat itu pun divisi mobile masih bisa mengantongi keuntungan tipis.

Belum selesai urusan keuangan, Samsung juga dihadang masalah kualitas yang mulai bikin kepala pusing. Survei PhoneArena terhadap 696 pengguna Galaxy S26 Ultra mengungkap bahwa 61,7 persen responden akan langsung meminta unit pengganti jika mengalami masalah red tint pada layar. Lebih keras lagi: 31,3 persen memilih mengembalikan perangkat dan lompat ke brand lain. Hanya 7 persen yang bersedia mengabaikan masalah kalau efek kemerahan itu cukup samar.

Masalah red tint ini berkaitan dengan fitur Privacy Display berbasis hardware, salah satu daya jual utama S26 Ultra saat peluncuran. Celakanya, cacat ini tidak langsung terdeteksi saat pembelian, melainkan muncul setelah beberapa bulan pemakaian. Banyak pengguna sudah melewati masa pengembalian ketika masalah mulai kelihatan. Samsung disebut tengah menyelidiki akar penyebabnya, tapi belum ada pernyataan resmi soal solusi permanen.

Yang memperumit situasi: rumor menyebut Samsung berencana membawa teknologi Privacy Display ke seluruh lini Galaxy S27. Jika masalah red tint belum tuntas, memperluas adopsi teknologi ini ke lebih banyak unit bisa jadi strategi yang ibarat pedang bermata dua.

Bagi investor yang mencermati Samsung, kuartal ini jadi ujian yang tidak nyaman untuk ditonton. Pertanyaannya sederhana tapi berat: seberapa jauh penjualan yang solid bisa menutup tekanan biaya yang kian mencekik, sementara kepercayaan pengguna flagship mulai diuji oleh masalah yang, kalau data ini bisa dipercaya, seharusnya sudah bisa diantisipasi jauh lebih awal?