Bola mata raksasa tanpa tubuh, melayang di antara gedung-gedung tinggi, mengikuti seorang pria ke mana pun ia melangkah. Bukan cuplikan film horor, melainkan iklan resmi Samsung untuk Galaxy S26 Ultra yang kini ramai diperbincangkan di Brasil. Sengaja dibuat mencekam, atmosfer ala Stephen King itu berakhir ketika seorang wanita di kafe mengaktifkan fitur Privacy Display di ponselnya dan, simbolis sekali, menghancurkan si bola mata.
Pesan Samsung jelas: privasi visual itu penting, dan mereka punya teknologinya. Privacy Display bekerja dengan grid hitam yang terintegrasi langsung ke panel layar. Saat diaktifkan, sebagian piksel dimatikan dan grid naik untuk menyembunyikan tampilan dari sudut pandang samping. Pada kecerahan tinggi, efektivitasnya memang berkurang. Tapi ada jalan keluarnya: pengguna bisa mengatur rutinitas otomatis agar fitur ini aktif bersamaan dengan penurunan brightness di aplikasi tertentu. Solusi yang cukup elegan, meski butuh sedikit setup awal.
Apakah ini revolusioner? Agaknya tidak. Analisis PhoneArena menempatkan Privacy Display di kategori "nice-to-have", bukan game-changer. Pelindung layar fisik konvensional secara teknis bisa melakukan hal serupa, bedanya tidak bisa dimatikan. Bagi pengguna yang jarang mengelola data sensitif di tempat umum, dampaknya mungkin tak terasa. Lain cerita bagi eksekutif yang sering buka spreadsheet atau email rahasia di kafe dan bandara, setidaknya kalau data itu bisa dipercaya sebagai cerminan kebutuhan nyata segmen tersebut.
Galaxy S26 Ultra juga membawa tiga fitur Galaxy AI yang layak dicermati. Now Brief hadir sebagai asisten proaktif yang merangkum agenda harian bahkan sebelum pengguna sadar membutuhkannya, dari jadwal meeting hingga pengingat kontekstual yang dipelajari dari kebiasaan pengguna. Call Screening memungkinkan ponsel mengidentifikasi penelepon tak dikenal dan merangkum tujuan panggilan secara otomatis. Praktis untuk tetap fokus tanpa harus mengangkat telepon spam. Document Scan berbasis AI mampu mengubah struk, formulir, atau catatan tangan menjadi file PDF yang rapi, lengkap dengan koreksi distorsi dan bayangan secara otomatis.
Soal kamera, Samsung membekali S26 Ultra dengan Nightography Video untuk rekaman malam yang lebih jernih dan Super Steady Video untuk footage yang stabil bahkan saat bergerak. Kombinasi ini, jujur saja, menjawab kebutuhan kreator yang selama ini terpaksa memilih antara kualitas atau stabilitas. Bukan pilihan yang menyenangkan.
Untuk yang belum yakin membeli, Samsung menghadirkan program Try Galaxy yang memungkinkan pengguna Android maupun iOS mencicipi antarmuka One UI 8.5, widget Galaxy AI, Privacy Display, hingga simulasi 3D interaktif langsung dari ponsel yang sudah dipegang sekarang. Sejak pertama diluncurkan pada 2022 bersama Galaxy S22 Series, program ini sudah diakses lebih dari 84 juta pengguna di seluruh dunia. Bukan angka kecil.
Data pasar tampaknya mengonfirmasi bahwa strategi Samsung berhasil. Counterpoint Research mencatat penjualan seri Galaxy S26 tumbuh 29% secara year-over-year dibanding seri S25, pertumbuhan yang terjadi justru saat prediksi penyusutan pasar smartphone global tahun ini sedang ramai dibicarakan.
Di Indonesia, Galaxy S26 Ultra tersedia dalam tiga konfigurasi: 12GB/256GB di harga Rp24.499.000, 12GB/512GB seharga Rp27.499.000, dan varian puncak 16GB/1TB yang dibanderol Rp31.999.000. Samsung juga membuka Galaxy Studio di Grand Indonesia Jakarta hingga 5 April 2026, sekaligus menawarkan cashback aksesori dan program tukar tambah selama periode promosi hingga 12 April 2026. Di Amerika, harga sudah dipotong USD250 dengan nilai tukar tambah hingga USD720. Bagi yang tidak tertarik dengan Galaxy Z Flip 8 atau Z Fold 8 yang meluncur musim panas ini, S26 Ultra agaknya adalah pilihan flagship paling solid Samsung untuk sekarang.