SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Galaxy S26 Laris Manis, Produksi Digenjot 50% , ta...

Tekno

Galaxy S26 Laris Manis, Produksi Digenjot 50% , tapi Layar Ultra Sempat Bikin Gaduh

Di tengah lonjakan permintaan yang memaksa Samsung menaikkan produksi hingga 50%, seri Galaxy S26 justru diterpa kontroversi soal bercak merah di layar Ultra. Samsung sudah punya jawabannya.

Ada Masalah Layar di Samsung Galaxy S26 Ultra, Samsung Pastikan Bukan Burn-in

Sepanjang bulan-bulan pertama setelah peluncuran, Galaxy S26 Series ternyata jauh melampaui proyeksi awal Samsung. Permintaan yang membludak memaksa pabrikan asal Korea Selatan itu menggenjot kapasitas produksi sebesar 50 persen, langkah yang jarang diambil Samsung untuk lini flagship kecuali sinyal pasar benar-benar kuat.

Tapi di balik kabar itu, ada satu cerita lain yang sempat bikin komunitas pengguna gaduh. Sejumlah pengguna melaporkan munculnya bercak samar berwarna kemerahan berbentuk persegi di area tengah layar Galaxy S26 Ultra setelah tiga hingga empat bulan pemakaian. Bukan satu-dua laporan, polanya konsisten dan muncul bahkan pada beberapa unit display di gerai resmi, yang bikin komunitas langsung menduga ini kasus burn-in OLED klasik.

Samsung merespons cepat. Hasil investigasi internal memastikan tidak ada kerusakan piksel secara permanen. Gejala kemerahan itu, klaim mereka, murni bersumber dari kalkulasi pemrosesan warna oleh sistem pada kondisi kecerahan tertentu. Masalah software, bukan hardware. Panel OLED-nya sendiri disebut dalam kondisi fisik prima.

Konteks teknis di balik ini cukup menarik. Galaxy S26 Ultra adalah smartphone flagship pertama Samsung yang mengadopsi Privacy Display berbasis teknologi panel LEAD 2.0, yang menghilangkan lapisan polarizer konvensional pada OLED demi efisiensi cahaya lebih tinggi, reproduksi warna lebih tajam, dan konsumsi daya lebih hemat. Inovasi ini, agaknya, membawa konsekuensi tersendiri soal bagaimana sistem mengelola kalkulasi warna di kondisi tertentu.

Sebagai solusi, Samsung sudah mulai mendistribusikan patch pembaruan software kepada pengguna yang mendatangi Samsung Service Center. Pembaruan Over-the-Air juga sedang disiapkan agar pengguna global bisa update secara mandiri. Tidak perlu bongkar unit, tidak perlu ganti layar. Klaim yang masih perlu dibuktikan efektivitasnya di lapangan, tapi setidaknya Samsung tidak diam.

Lepas dari kontroversi layar, pertanyaan yang lebih relevan buat calon pembeli adalah: seberapa besar lompatan Galaxy S26 dari pendahulunya?

Jawabannya tidak sederhana. Untuk Galaxy S26 dan S26 Plus, dapur pacunya kini Exynos 2600 dengan fabrikasi 2 nanometer, dengan klaim peningkatan performa Neural Processing Unit hingga 39 persen dibanding Exynos 2500 di Galaxy S25. NPU yang lebih kencang ini bukan sekadar angka benchmark, fondasi dari seluruh fitur Galaxy AI generasi baru yang berjalan langsung di perangkat. Galaxy S26 Ultra memilih jalur berbeda dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy hasil kustomisasi Qualcomm, diproduksi fabrikasi 3nm oleh TSMC. RAM standar naik ke 12GB di seluruh lini, sementara Ultra bisa dikonfigurasi hingga 16GB dengan penyimpanan 1TB.

Dari sisi AI, Samsung memperkenalkan Now Nudge, fitur yang secara proaktif memberikan rekomendasi tindakan lanjutan sebelum pengguna sempat mencari. Contoh paling sederhana: ketika ada yang minta kamu kirim foto tertentu, sistem langsung menampilkan pintasan ke gambar yang relevan. Ada juga Call Screening yang bisa menjawab panggilan tak dikenal dan mendeteksi indikasi spam atau penipuan sebelum kamu angkat.

200 megapiksel, aperture f/1.4. Angka yang tidak main-main untuk kamera utama Galaxy S26 Ultra, naik dari f/1.7 di S25 Ultra. Perbedaan aperture ini berkontribusi langsung pada performa Nightography di kondisi cahaya minim. Horizontal Lock juga ditambahkan untuk menstabilkan video meski ponsel diputar hingga 360 derajat.

Soal harga, naik. Galaxy S26 dibanderol mulai Rp16.499.000 untuk varian 12GB/256GB, sementara S26 Ultra bisa menembus Rp31.999.000 untuk konfigurasi tertinggi 16GB/1TB. Kenaikan sekitar Rp1,5 hingga Rp3 juta dibanding seri S25, yang dikaitkan dengan kondisi rantai pasokan semikonduktor global dan standarisasi RAM untuk menopang kebutuhan AI on-device.

Bagi pemegang Galaxy S25 yang sedang menimbang-nimbang, tiga area yang paling terasa bedanya adalah kecepatan AI on-device untuk tugas harian, performa kamera low-light khususnya di varian Ultra, dan kehadiran Now Nudge sebagai fitur yang mengubah cara berinteraksi dengan ponsel. Soal bercak layar Ultra? Tunggu dulu hasil update OTA-nya sebelum panik.